Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 112


__ADS_3

“Aku mau wudhu,” ucap Quinsha dengan suara tercekat. Ia baru saja meraup napas, setelah hampir kehabisan oksigen karena saling berpagut dengan Rafardhan. “Mau sholat isya,” lanjutnya lagi dengan mode enggan menatap.


Wajahnya memerah hampir seperti tomat, dan gadis itu segera berlalu menuju kamar mandi dengan setengah berlari.


Di sana ia hempaskan tubuhnya ke dinding sambil menarik napas sebanyak-banyaknya. Sebelah tangannya mengusap dada karena napas yang masih belum teratur seirama. Sepasang matanya memejam sempurna dan terbentanglah pemandangan ketika dirinya terlena dengan permainan Rafardhan yang menciumnya begitu dalam.


Perlahan, Quinsha menyesuaikan diri. Gadis itu belajar dengan cepat. Tanpa perlu aba-aba dan instruksi, ia ikuti permainan suaminya. Semula terkesan kaku, tapi semakin lama, semakin lihai saja, mereka saling berpagut dalam c-i-u-m-a-n yang kian menuntut. Membuat Rafa semakin mempererat rangkulan di pinggang ramping Quinsha.


Teringat itu semua, Quinsha menelan salivanya sendiri. Masih sangat terasa bibir manis sang suami, hal itu membuat debar di dada semakin menjadi, dan gelora asmara terasa membara kembali.


“Sayang, sudah selesai wudhu?” Tanya Rafardhan dari luar di serta ketukan pintu.


“I-iya, se-sebentar,” jawab Quinsha gugup. Entah sudah berapa lama waktu berlalu. Waktu yang hanya dilewatinya untuk mengulang lagi peristiwa manis itu.


Saat Quinsha keluar dengan wajah basah, Rafardhan menyambutnya dengan senyuman di depan pintu. “Mau Shalat berjamaah?” tanyanya.


Quinsha tercekat dengan pertanyaan itu. Rafardhan mengajak Sholat berjamaah, hatinya langsung menghangat, hingga tak segera mampu untuk berucap. Namun, ia pun segera menjawab dengan sedikit gugup. “I-iya tentu.”


“Tunggu sebentar ya.” Tubuh Rafardhan segera lenyap di balik pintu kamar mandi.


Hati Quinsha seakan dipenuhi bunga-bunga mekar saat mencium punggung tangan Rafardhan seusai Sholat Isya dilaksanakan. Dan kala lelaki itu menunduk mencium keningnya, terasa kupu-kupu beterbangan mengelilingi bunga-bunga yang bermekaran itu.


“Aku senang banget,” ungkap Quinsha sambil menatap Rafardhan dengan senyum. “Kita bisa Sholat berjamaah,” lanjutnya.


“Jujur aku deg degan, karena tak banyak Surah Al-Qur’an yang aku hafal. Dan bacaanku juga.” Rafardhan mengedikkan bahunya sambil senyum. “Gak begitu bagus,” imbuhnya.


“Menurutku, bacaanmu juga cukup fasih, aku gak nyangka lho, kamu bisa selancar itu baca Al-Qur’an.” Quinsha menatap wajah tampan suaminya itu dengan tatap mata yang berpijar. Rafardhan pun mengunci tatapan istrinya dengan pandangan terpesona. Untuk selanjutnya bahasa mereka hanya mengalir melalui mata.


“Eh, Ka-kamu butuh apa? Aku siapin.” Quinsha segera memutus interaksi saling memandang itu dengan membuang tatapan ke lain arah dan mengajukan satu tanya. Mungkin saja suaminya itu butuh minuman hangat atau apa pun. Ia akan menyiapkannya.


“Aku butuh yang manis,” sahut Rafardhan.


“Minuman manis yang hangat ya, sebentar aku ambilkan.” Quinsha segera membuka mukennanya dengan gerakan cepat. Selanjutnya gadis itu hendak beranjak seraya merapikan rambutnya.


“Mau kemana?” tanya Rafardhan sambil menahan tangan Quinsha.

__ADS_1


“Membuatkan minuman untukmu. Kamu bilang ingin yang manis ‘kan?”


Rafardhan menggeleng. Ia segera bangkit dan berdiri sejajar dengan istrinya. Meraih kedua tangan Quinsha dan mendekatkan tubuhnya. “Yang manis ini, Sayang. Bukan minuman,” tunjuk Rafardhan pada sepasang bibir Quinsha yang terlihat merekah


“Ee.” Gadis yang tak sedang menutupi kepalanya dengan hijab itu langsung menunduk dan salah tingkah. Tanpa perlu ditaburi dengan pewarna, sepasang pipinya langsung terlihat merah merona.


“Aku candu dengan manisnya. Kamu olesi madu ya? Atau mungkin susu? Ah tidak.” Rafardhan menggeleng pelan, sementara ujung jari lentiknya mengusap lembut bi-bir Quinsha. “Rasanya bahkan lebih legit dari madu dan susu,” ujarnya dengan suara sangat lirih bahkan menyerupai bisikan. Dan deru napas hangatnya menerpa wajah Quinsha yang membuat sepasang pipi itu kian merah dan merona.


“Boleh ya?” tanyanya pelan, sambil mengangkat dagu istrinya agar wajah yang menunduk itu melihat ke arahnya. Kini tatapan keduanya terkunci, saling memandangi, saling menyelami. Seakan ada samudera tak bertepi dalam netra masing-masing yang sama-sama menampilkan riak gelombang kecil, lalu kian membesar seiring irama jantung yang kian tak beraturan.


“ke-Kenapa masih bertanya?” suara Quinsha terdengar lirih dan tak terucap dengan sempurna. Karena sebagiannya tertahan di rongga dada.


“Bukankah penting meminta izinmu lebih dulu,” sahut Rafardhan tanpa melepaskan tatapan. Sungguh saat ini Quinsha ingin berlari saja dan bersembunyi di kolom jembatan, agar tak bisa ditemui lagi oleh Rafardhan.


“Bukankah, aku halal untukmu? Aku sudah menjadi hakmu,” ucap Quinsha dengan suara bergetar.


“Iya, tapi jika kau belum siap. Aku tidak boleh memaksa.”


“A-aku ...” Quinsha memutuskan ucapannya begitu saja, ia menunduk, meraup napas sebanyak-banyaknya.


“Tatap aku, Sayang. Aku ingin melihatmu ketika bicara.” Rafardhan kembali membimbing wajah itu agar melihatnya.


“Katakanlah, aku siap mendengarnya. Apapun jawabanmu. Andai pun itu berupa penolakan. Aku siap. Aku akan menunggu.” Sungguh kata-kata Rafardhan itu bak magnet yang menarik keberanian Quinsha untuk segera memberikan jawaban dengan cepat.


“Tak perlu minta ijin lagi. A-aku sudah siap.” Quinsha segera berinisiatif memeluk tubuh suaminya itu lebih dulu, setelah sebuah jawaban berhasil ia berikan dengan menentang segala ketakutan dan getar perasaan yang hampir tak bisa dikendalikan.


“Alhamdulillah.” Ungkapan Syukur itu terdengar dari Rafardhan, sesaat setelah kedua tangannya merangkul tubuh istrinya. Dan Quinsha hanya bisa menahan napas, saat terasa tubuhnya melayang dan tak lagi menjejak lantai. Dan dalam waktu sesaat tubuh ramping itu mendarat di atas ranjang. Rafardhan membaringkannya dengan sangat pelan.


“Kamu sangat cantik,” puji Rafardhan setelah sepasang matanya memindai wajah cantik yang berada di bawah kungkungannya itu.


Dan kini, tangannya ikut merasakan indahnya kecantikan itu dengan sentuhan lembut dan pelan dari ujung kepala, turun pada wajah dan berhenti di dagu. Menariknya beberapa inchi dan menunduk. Sepasang Benda kenyal yang berwarna merah asli, miliknya itu mendarat di atas bi-bir Quinsha, sesaat menjelajah lalu mulai menyesap manisnya. Rasa manis yang telah menjadi candu baginya, sekaligus memabukkannya dengan seketika.


Tak butuh waktu lama, Quinsha memberikan respon yang serupa, hingga gerakan mereka seiring seirama. Tangan saling merengkuh dalam dekapan erat dan tak ingin lepas. Napas saling beradu dan menderu seiring gejolak darah yang terasa memanas. Pagutan yang semula saling mencecap nikmat, kini berganti jadi saling menuntut, kian dalam dan kian jauh. Akan tetapi sebelum berkelana kian dalam, Rafardhan mengakhiri semuanya.


Tubuh Quinsha seakan terhempas, dan saat itu ia gunakan untuk meraup napas, sebanyak-banyaknya. Tapi belum lagi rasa lega dinikmati sepenuhnya, tubuhnya kembali tegang saat terasa sebuah sentuhan lembut bermain di atas dua gundukan kembarnya yang sebagian telah terekspos akibat ulah nakal tangan Rafardhan.

__ADS_1


Dan belum sempat ia sadari apa yang terjadi sepenuhnya, sentuhan tangan itu telah digantikan oleh C-i-u-m-a-n, kecupan, L-u-m-a-t-a-n yang semula pelan lalu secara perlahan berubah jadi kian garang.


D3s4h4n pun meluncur dari bibir Quinsha tanpa mampu ditahan. Dan hal itu semakin menyemangati Rafardhan untuk kian berexplorasi di atas gundukan kembar berbentuk menantang milik istrinya itu berikut area sekitar. Dan beberapa saat kemudian. Tak ada lagi pakaian yang membalut tubuh indah Quinsha, kecuali sebentuk kain berukuran mini dan memiliki bentuk segitiga yang masih menutupi area terlarangnya.


“Sayang, masih ada waktu, jika kau ingin berubah pikiran.” Lelaki itu berkata dengan napas memburu. Ia sungguh tak berniat mempermainkan emosi istrinya yang saat ini sudah sangat terlena dengan setiap sentuhan mautnya. Hanya saja ia sadar, banyak kekurangan dalam dirinya, dan ada kesalahan yang tak pernah menjadi inginnya. Ia masih kawatir dengan berita yang bergulir, kepercayaan Quinsha terhadap niatnya untuk menjadi suami yang baik, sudah ternoda. Dan kesanggupan Quinsha untuk melayaninya malam ini hanya berdasar perintah wajib yang tak dapat ditampik, sebagai seorang istri. Bukan karena rasa ikhlas dan cinta pada sang suami.


Quinsha menggeleng pelan.


“Kamu yakin?” tanya Rafardhan dengan selaksa rasa senang.


“Iya,” jawab Quinsha dengan suara hampir tercekat.


“Jika aku teruskan ini. Maka Aku, sudah tidak punya jalan lagi untuk kembali,” kata Rafardhan.


“Dan aku sudah siap,” sambut Quinsha.


RAfardhan kembali menatap tubuh indah yang tergolek pasrah di depannya itu dengan tatapan memuja. Ingin ia puaskan pandangannya. Namun, rasanya tak akan pernah bisa. Yang ada malah tuntutan dalam dirinya untuk mencicipi pemandangan indah itu dengan segera.


Maka, yang seharusnya terjadi. Terjadilah. Setelah tak luput barang satu inchi saja, tubuh Quinsha dari sentuhan dan kecupannya. Kini saatnya ia berenang dalam lautan madu yang sudah menantinya.


Akan tetapi harapannya tak segera terlaksana. Tak mudah untuk bisa memasuki syurga keindahan itu dan mereguk setiap keindahannya. Bukan karena adanya pengawal kejam yang membuat langkahnya tertahan. Bahkan ia sudah dipersilakan untuk segera menyelam dan tenggelam. Tapi ternyata lautan madu bersegel sangat kuat dan ketat. Ia hampir tak dapat menembusnya, meski berkali serangan telah dilakukan. Setiap serangannya selalu menemui kegagalan. Hampir saja Rafardhan putus asa, apalagi merasa tak tega dengan desis kesakitan yang meluncur dari bibir istrinya.


******


********


************


💕💕💕🌷🌷🌷🌷


Di skip lagi ya..pasti kesal berjamaah nih yang baca....habisnya terlalu panjang kalau dilanjutkan. nanti kalian bosan.


tapi aku tak yakin sih, bakal bosan..yang ada pasti protes karena tak diteruskan.


tenang...tenang..ada lanjutannya kok, tapi ada syaratnya..vote dulu dong..ada yang masih punya kann...

__ADS_1


hayuk vote biar Rafardhan semangat berjuang untuk menjebol gawang..


yuk lanjutt....


__ADS_2