
“Mau ngapain ke sini? Mau nyumbang lu?” Sembur mas Adam pada Rafardhan yang hanya menggeleng cepat. Mas Adam sempat tertidur dalam perjalanan. Dan ketika ia terbangun, mobil sudah berhenti di halaman luas sebuah yayasan pendidikan Islam, Nada Hikam.
Mungkin yang ada dalam pemikiran Adam, setiap yang datang ke sebuah yayasan pendidikan hanya untuk memberikan sumbangan. Padahal yayasan pendidikan islam Nada Hikam ini ada di bawah kepengurusan L&D Foundation, sebuah yayasan sosial milik sebuah perusahaan besar, Pramudya Corp yang ada di Jakarta. Hampir bisa dikata, kalau Nada Hikam sudah tak membutuhkan sumbangan relawan, karena sudah mempunyai donatur tetap dan berkelas.
“Ee mau kemana lu?” Semprot mas Adam lagi saat dilihatnya Rafardhan bersiap turun dari mobil setelah menutupi wajahnya dengan masker.
“Turun,” jawab Rafardhan singkat.
“Mau ngapain?” Adam segera menegakkan tubuhnya dan menatap Rafrdhan tajam.
“Gue ada kepentingan bentar,” jawab lelaki itu dan segera membuka pintu.
“Raf, jangan bertindak di luar Schedule ya!” cegah Adam segera.
“Apa lagi Mas? Tugas gue patuhin schedul dari lu udah kelar ‘kan untuk hari ini,” sungut Rafardhan.
“Belum. Nanti sore kita ada jadwal lagi,” jelas Adam.
“Itu, kan nanti. Gue juga gak bakalan nginep di sini. Dah mas Adam tidur aja lagi! Terusin mimpi lu yang sempat tertunda.” Rafardhan menepuk pundak managernya itu dan segera keluar dari mobil tanpa dapat dicegah. Adam hanya mendengus pelan dengan sepasang mata yang tak lepas melihat pergerakan Rafardhan.
__ADS_1
Quinsha sudah mengemasi semua barang ke dalam tas, menyusul bel pulang yang berdentang sekitar sepuluh menit berselang. “Mbak Quinsha, ada tamunya!” seru seorang rekan dari tengah pintu kantor.
“Siapa?”
“Gak tau, dia nunggu di depan!” dan si pemberi info itu segera melenggang keluar.
Quinsha bergegas dengan rasa penasaran. Kiranya siapakah yang ingin menemuinya di yayasan. Tapi di depan kantor ia tak menemukan seseorang yang sedang menunggunya. Quinsha terus menuju tengah halaman, sedikit celigukan kanan kiri sambil melangkah ke tempat parkir.
“Selamat siang,” sapa seseorang yang dengan tiba-tiba menghadang langkahnya.
Quinsha terlebih dahulu menatap seseorang yang menutupi wajahnya dengan masker di depannya itu, sebelum menjawab sapa “Ya, siang. Siapa ya?” tanya gadis itu yang merasa tidak kenal pada orang yang menyapanya. Dari hasil pandangan menelisik i Quinsha pada sebagian wajah yang tak tertutup pria itu, ia hanya mendapati sepasang mata yang bening di bawah alis yang tak begitu tebal tapi sangat rapi. Dan Quinsha tak berhasil mengenali.
“Kamu!?” kaget Quinsha yang sama sekali tak menyangka kalau artis terkenal itu datang menemuinya.
“Ya, kamu sudah bisa mengenali saya?”
“Kamu ingin mengambil dompet?” dari pada menjawab pertanyaan Rafardhan, Quinsha malah bertanya lain. Dan tangannya segera merogoh isi tas sandangnya.
“Tidak,” jawab Rafardhan.
__ADS_1
Mendengar jawaban itu Quinsha segera menghentikan gerakan tangannya dan menatap lelaki tampan di depannya penuh tanya, “lalu?”
“Saya mau tanya satu hal, apa kamu sudah menemukan cara, untuk saya ganti rugi waktu kamu yang sudah terbuang?” manik mata coklat itu menatap terarah sepasang mata bening Quinsha. Tentu saja gadis itu segera menghindari pandangan. Sepasang matanya bergerak gelisah, kehadiran Rafardhan yang tiba-tiba menemuinya saja, sudah membuatnya tidak nyaman. Ditambah lagi pertanyaan yang lelaki itu ajukan.
Entah apa yang terjadi, kenapa setelah pemuda itu hadir di depannya, Quinsha seolah terlupa pada niatnya dari tadi yang memang ingin bicara dengan Rafardhan ini.
“Belum pulang, Quinsha?” tiba-tiba terdengar pertanyaan dari seseorang yang datang. Tak hanya Quinsha, Rafardhan pun menatap pada Bayhaki Arfan yang tiba-tiba datang bertanya.
“Rafardhan Malik,” gumam Arfan setelah melihat siapa adanya lelaki yang tengah bicara dengan Quinsha. “Maaf, kamu lagi ada tamu rupanya. Silakan dilanjut! Saya duluan.” Arfan tak memberi waktu Quinsha untuk menjawab ucapannya. Ia segera melangkah menjauhi bahkan dengan sedikit bergegas.
Quinsha menghela napasnya samar. Kondisi ini bertolak belakang dengan apa yang sudah ia jelaskan tadi pada Arfan—bahwa dirinya tidak mengenal Rafardhan—tapi faktanya lelaki itu malah datang menemuinya ke yayasan. Dan Arfan bukan orang yang terlalu naif untuk menganggap hal ini biasa-biasa saja. Mana ada seorang artis kenamaan mau menemui seseorang secara khusus kalau bukan didasari sebuah alasan besar.
Tapi kenapa sekarang Quinsha malah merisaukan apa yang akan dipikirkan Arfan?
“Mas Rafka!” Tiba-tiba saja terdengar seseorang memanggil dari kejauhan.
Quinsha menoleh ke arah datangnya suara. Di sana ada dua orang sisiwi MA berhijab sama-sama menatap pada Rafardhan dan Quinsha. Tapi nama yang mereka sebut bukan nama Rafardhan. ‘Pasti mereka salah orang’ batin Quinsha.
“Mas Rafka! Keduanya kembali memanggil dan tatapan mata mereka mengarah pada Rafardhan. Tampak lelaki itu menghela napas dan melambai kecil pada kedua siswi itu tersebut, lalu kembali menutupi wajahnya dengan masker.
__ADS_1
“Mas Rafka! Rafardhan Malik!” Mereka kembali memanggil dengan lebih keras, meminta perhatian lebih.