Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Bab 14


__ADS_3

Mereka sama-sama senyum tersipu. “kalau Ibu punya nomor telepon Rafardhan, beritau kami, Bu!” pinta salah satunya yang menjadi perwakilan dari semuanya. Karena yang lain segera mengangguk, tanda menyetujui ucapan temannya.


“Saya tidak punya,” sahut Quinsha. Dan ia jadi tersenyum melihat raut kecewa di wajah mereka. “Saya duluan ya,” pamit Quinsha dan tanpa menunggu jawaban, ia segera berlalu dari hadapan mereka.


Quinsha meraup napasnya berkali-kali seraya melangkah menuju mobil yang sudah menanti. Apakah ia merasa tersinggung dengan tindakan ketiga siswi MA tersebut? Sudah pasti. Tapi bukan hal itu yang menjadi fokus pikirannya kini, melainkan berita tentang dirinya dengan seorang artis terkenal yang mungkin sudah menyebar. Apa jadinya jika penghuni seantero yayasan Nada Hikam ini tau? Sedangkan Quinsha justru tidak punya jawaban apa-apa jika ditanyakan—selain bahwa dirinya dan Rafardhan tidak memiliki hubungan. Tapi percayakah mereka semua?


Dengan seketika kepala Quinsha dipenuhi kemungkinan-kemungkinan yang membuat berdenyut nyeri.Tapi untungnya, langkah gadis itu tetap terarah secara pasti pada mobil yang sudah menanti. Hari ini Quinsha pulang sendiri, pak Dimas tak bisa menjemputnya karena ada acara bersama anak dan istri.


Di lain tempat dari area parkir itu juga, seseorang sedang sibuk bertelepon ria sembari duduk di atas motornya. Quinsha hanya melihat sejenak saja dan gegaskan langkah menuju mobil yang setia menunggunya.


“Pulang sendirian ya?” tanya seseorang dengan tiba-tiba. Quinsha yang sudah hampir masuk ke mobil itu refleks menoleh dan mendapati Arfan berdiri tak jauh di belakangnya.


“ya, seperti biasa,” sahut Quinsha.


“Biasanya tidak pulang sendiri ‘kan?” Arfan melemparkan senyum manis mengiring pertanyaannya.


“Sendirian.” Jelas Quinsha.

__ADS_1


“Oo berarti saya salah liat,” ralat Arfan.


“maksudnya?” tanya Quinsha heran.


“Saya perhatikan kamu tidak pernah pulang sendiri selama ini,” kata Arfan dan lagi-lagi disertai dengan senyuman.


“Sebentar! Jadi maksudnya, Selama ini Akhi memerhatikan saya?” selidik Quinsha. Dan kembali Arfan menjadikan senyum sebagai jawaban.


Ada apa dengan Bayhaki Arfan sekarang? Ia terlalu banyak menebar senyuman pada Quinsha. Padahal biasanya selama ini, bertegur sapa dengan Arfan—bagi Quinsha—adalah hal yang langka. Meski keduanya sudah lebih dari satu tahun mengajar di yayasan yang sama, tapi frekuensi pertemuan mereka sangat jarang adanya. Kalaupun tanpa sengaja berpapasan, paling hanya saling menatap sebentar dan sama-sama saling membuang pandangan. Ataupun saling bertukar senyum ramah yang durasinya tak lebih dari hitungan detik saja.


Tapi sekarang, Quinsha menilai Arfan telah mengumbar senyumnya terlalu murah. Dan celakanya, Quinsha tak dapat mengingkari perasaannya kalau senyuman Arfan begitu indah. Tapi segera gadis cantik itu tersadar kalau semua ini adalah ujian. Ujian dari keputusannya yang tak lagi melangitkan nama seorang Bayhaki Arfan.


Ah tidak. Quinsha menggelengkan kepalanya kuat menolak argumen di dalam pikirannya sendiri.


“jadwal pulang kita hampir bersamaan,” kata Arfan. Ia jadikan itu sebagai jawaban atas pertanyaan Quinsha barusan. Awalnya Arfan memilih untuk tetap diam, tapi diamnya Quinsha ditambah gelengan kepalanya barusan, membuat Arfan merasa harus mengurai penjelasan agar tak terjadi kesalahpahaman.


“Dan saya selalu melihat kamu pulang dijemput sopir. Itu yang saya maksud kalau kamu tidak pernah pulang sendiri,” jelas Arfan.

__ADS_1


QUinsha segera tersenyum. Jawaban Arfan ini segera menumbangkan semua argumen yang ada dalam pikirannya dari tadi. “Ya, pak Dimas sedang ada acara keluarga, jadi dia tak bisa menjemput,” terang Quinsha.


“Oh, biasa nyetir sendiri ya?”


“kadang-kadang,” sahut Quinsha.


“Hati-Hati!” pesan singkat Arfan. Sesingkat anggukan kepala Quinsha yang segera berbalik badan dan gegas masuk ke mobil, tanpa sempat menitipkan kata salam sebagai pamitan.


Pasalnya, pesan singkat Arfan telah membuat berbagai dugaan kembali hadir dalam pikiran. Padahal kata ‘"hati-hati" yang diucapkan kepada seseorang itu adalah suatu respon kepedulian yang bisa berarti "biasa saja" bukan karena didasari oleh sesuatu yang istimewa. Antara sesama teman, atau saudara, atau bahkan orang yang baru dikenal, lumrah saja menyematkan kata demikian. Dan mungkin begitu pula yang mendasari ucapan Arfan barusan.


Tapi itu menjadi "tak biasa" ketika diucapkan pada seseorang yang telah lama menyimpan harap terpendam—seperti Quinsha terhadap Arfan—hal sekecil apapun dari ucapan dan tindakan akan selalu bernilai. Salahkah kini jika Quinsha jadi berpikir kalau Arfan sudah mulai memberi perhatian?


*****


QUinsha:


Sepi. Sampai kapan seperti ini.

__ADS_1


Quinsha mengetik beberapa kata di grup chat. Malam sudah hampir mencapai titik sebelas, dan sepasang matanya masih enggan terlelap. Merasa jenuh dalam usahanya meraih tidur tapi tak kunjung berhasil, Tangannya segera meraih gawai di atas nakas. Dan kalimat singkat ia ketik tanpa mengharap jawab. Karena kedua anggota grup yang lain pasti sudah lelap. Apalagi Aura yang masih tetap dirawat.


__ADS_2