Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 122


__ADS_3

Damaresh menatapnya dengan berdecak, sambil membuang pandangan dengan tatapan jengah. “Apa bangunan rumah sakit ini, akan roboh, sampai kau jadi tiang penyanggah dari tadi,” ucapnya dengan sindiran telak.


Rafasya menggiring pandangan ke arah datangnya suara. Astaga, dari mana datangnya makhluk tampan yang perawakannya hampir sama dengan dirinya itu. Tiba-tiba saja, komisaris Pramudya Corp itu telah berdiri jarak 5 meter dari Rafasya.


“Seperti hantu saja,” gerutu Rafasya yang membuat acara berdiri gelisah plus mondar mandir yang dilakoninya dari tadi, jadi terganggu.


“Mana ada hantu yang tampannya mendunia seperti ini,” ucap Damaresh dengan mode narsis tingkat dewa. Aih bisa juga si kulkas berjalan ini bercanda.


“Dulu, sebelum aku ada, kau cucu kakek yang paling tampan, tapi sekarang tidak lagi,” balas Rafasya sambil memicingkan sebelah mata.


Damaresh tergelak, tapi hanya sesaat, ia segera kembali pada mode Damaresh yang asli. Jarang tersenyum dan miskin kata-kata. Langkahnya terayun menghampiri sepupunya dan menepuk pundak lelaki yang bersneli dokter itu dengan tepukan pelan.


“Mendingan?”


“Lumayan.”


“Ekspresimu yang tegang itu sangat memalukan, Raf,” ledek Damaresh sambil menahan senyum.


Rafasya sontak menatap sepupunya itu dengan tatapan malas. “Jadi tujuanmu kemari hanya ingin meledekku, Kak?”


Damaresh menggeleng tegas. “Hanya saja coba kau pikir, berapa kali dalam sehari kau mengoperasi pasien. Dari mulai kondisi normal sampai yang kondisinya gawat darurat?”


“Tiga sampai lima kali,” sahut Rafasya yang sepertinya belum paham kemana arah ucapan sepupunya itu.


“Ada gak, yang sampai membuatmu merasa tegang seperti ini?”

__ADS_1


“Gak ada.” Rafasya menggeleng pelan dan menjawab tak yakin. Tapi kemudian ia segera menggeleng tegas dengan rasa yakin yang kian kuat. Memang tidak ada yang sampai membuatnya sangat tegang seperti sekarang.


“Padahal bisa dikata, saat melakukan operasi itu, nyawa pasien ada di tanganmu.” Damaresh menarik napasnya pelan. Dan sekali lagi ia tak dapat menyembunyikan senyuman. “Tapi menghadapi istrimu yang terjatuh saja kau sudah seperti mau menghadapi malaikat pencabut nyawa,” sindir lelaki itu, dan kali ini tawa ringan ikut mengudara bersamaan dengan titik akhir kalimatnya.


“Kak Aresh, istriku sedang hamil. Jadi wajar ‘kan aku kawatir.” Rafasya membela diri.


“Wajar, di dunia para suami yang sangat mencintai istrinya ...”


“Nah.” Rafasya segera memotong ucapan Damaresh.


“Aku belum selesai, Raf.” Damaresh menatap sepupunya itu dengan tajam, terlihat tak suka karena ucapannya diputus oleh Rafasya.


“Ok.” Rafasya mengangguk patuh.


“Tapi di dunia medist, dunia kedokteran, sikapmu itu sangat tidak wajar. Terlalu berlebihan. Dan kau ...” Damaresh menunjuk tepat dada Rafasya. “Adalah seorang dokter, dokter spesialis. Memang bukan Obgyn, tapi kau tentu paham dengan hal ini.”


Sekitar setengah jam yang lalu, saat ia dan Quinsha berjalan menuju ruang praktek dokter Prita—Dokter Obgyn yang memang menangani beberapa persalinan dalam keluarga William—Quinsha terjatuh tapi tak sampai membentur lantai, karena Rafasya yang segera menahan tubuh istrinya itu.


Ihwal itu terjadi karena dalam jarak 15 meter di depan keduanya, ada anak kecil yang terjatuh karena mengejar ibunya. Sepertinya mereka adalah keluarga pasien. Quinsha bergegas ingin menolong anak itu, hingga langkahnya kurang hati-hati dan kakinya terpeleset di lantai yang berkeramik dengan merk terbaik itu.


Rafasya segera mengangkat tubuh istrinya dan dibawanya menuju ruangan dokter Prita yang sudah ada di depan keduanya. Maka drama kepanikan pun terjadi di dalam sana. Hingga membuat dokter Prita ikut merasa gugup untuk memeriksa, karena instruksi keras dan tegas dari Rafasya.


Bahkan suami Quinsha itu tak percaya kalau istrinya tidak apa-apa berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan secara mendetail oleh dokter Prita. Ia bahkan meminta dokter cantik itu untuk memeriksa lagi dan lagi, agar tidak terjadi kesalahan.


Mau diperiksa sepuluh kali pun hasilnya akan tetap sama. Quinsha memang tak apa-apa, Rafasya saja yang sedang mengalami cemas secara berlebihan dengan kondisi istrinya yang sedang hamil tuju bulan. Sikapnya ini sukses membuat dokter Prita tepuk jidat antara geli dan kesal.

__ADS_1


Quinsha lalu meminta suaminya itu untuk keluar saja, karena kecemasannya yang berlebihan itu, justru membuat konsentrasi dokter Prita terganggu. Mau tak mau, Rafasya mengikuti kemauan Quinsha yang sampai memberikan sedikit ancaman kepadanya.


Meski sudah berada di luar ruangan, kecemasannya tak juga berkurang, hingga ia menelepon Sherin untuk datang. Sherin pun menemani Quinsha di dalam untuk melakukan pemeriksaan, sementara Rafasya tetap menunggu di luar.


Teringat itu semua, Rafasya menghempaskan napasnya perlahan seraya menatap Damaresh yang masih menatapnya dengan menahan senyuman. “Sudah paham artinya sekarang?” tanya Damaresh kemudian.


“Apa?”


“Bucinmu pada istrimu itu sudah over dosis,” ledek Damaresh sambil menaik turunkan alis.


“Aissh.” Rafasya berdecak tak terima. “ku rasa kau juga begitu pada istrimu.”


“Tidak. Kau yang lebih parah,” sahut Damaresh berkilah.


“Ta ..” ucapan Rafasya seketika berhenti karena sebuah ucapan dari Alarik yang tau-tau datang.


“Tidak usah berdebat siapa yang lebih bucin, kalian berdua ini sama.”


Meski tak menyanggah, tapi Damaresh dan Rafasya malah saling tunjuk.


“ Aresh, kau datang kesini untuk apa?” Alarik menatap sang keponakan dengan senyuman. Terlihat Aresh enggan menjawab pertanyaan itu. Tapi Alarik segera menjawabnya sendiri. “Kau meninggalkan meeting dan hanya diwakilkan pada Kaivan, karena ingin menyusul Aura ke sini kan?” tebak Alarik langsung.


“Ara sedang memeriksakan Elvan, Om,” jawab Damaresh.


“Iya, artinya bukan Aura sendiri yang sakit. Dan ia bisa mengatasi semuanya sendiri. Apalagi ia dibantu beberapa asisten. Intinya apa?” tanya Alarik sambil mengulas senyuman.

__ADS_1


Damaresh diam seraya menggerayangi tengkuknya yang tak gatal. Sedangkan Rafasya sudah terlihat mencibir ke arahnya.


Tiba-tiba dari kejauhan terdengar panggilan. “Papa!”


__ADS_2