
Alarick tidak perlu bertanya siapa dalang dibalik kehancuran keluarga Kanaya. Semua yang terjadi pada keluarga itu, dari mulai ayah Kanaya yang tiba-tiba dipecat tanpa sebab, rumah makan sederhana milik ibu Kanaya yang tiba-tiba terbakar, semua itu adalah hasil jentikan jari William pada orang-orang suruhannya. William Pramudya yang memiliki kuasa, hanya dengan satu isyarat darinya, maka satu keluarga hancur, sehancur-hancurnya.
Tanpa disadari oleh William—atau mungkin memang sudah disadari, tapi dia memilih menutup mata hati—bahwa menghancurkan keluarga Kanaya, sama dengan menghancurkan hidup putra bungsunya juga.
Dan Fakta ini tak hanya membuat Alarick hancur, tapi ia juga menanggung beban kebencian dan tuduhan tak berujung dari seluruh keluarga Kanaya. Dan yang lebih menyakitkan bagi Alarick adalah sebuah kenyataan, bahwa ternyata Kanaya juga meregang nyawa di saat berjuang untuk melahirkan bayinya.
Iya. Itulah faktanya. Bahwa Kanaya telah tiada, dia telah dipanggil oleh Sang Pencipta.
Alarick hanya mampu meratap, atas kebenaran yang terungkap. Sementara tak ada kata maaf, yang bisa ia dapat dari seluruh keluarga Kanaya, yang bahkan enggan untuk hanya sekedar menatap.
Kemarahan pun menguasai jiwa Alarick, hingga ia putuskan untuk meminta pertanggungjawaban dari ayahnya, yang adalah merupakan "ki dalang" dari para wayang yang dimainkan.
Bak singa yang kelaparan, Alarick mendatangi Willyam di kantor Pramudya Corp dan melabraknya. Kemarahannya yang membuncah hingga ke ubun-ubun, membuatnya tak peduli kalau saat itu ayahnya sedang ada rapat penting dengan rekan bisnisnya.
__ADS_1
Wilyam yang murka atas sikap sang putra yang dianggap tidak punya tata krama, segera mengancam akan mencoret nama Alarick dari daftar ahli warisnya.
Ancaman sang ayah dijawab oleh Alarick dengan lantang. Ia sendiri yang memutuskan, bahwa mulai saat itu, Alarick bukan lagi bagian dari keluarga William Pramudya. Lelaki 24 tahun itu melepas semua atribut keluarga dan pergi menjauh untuk memulai hidupnya yang baru. Hidup yang dipenuhi ratapan dan penyesalan atas kepergian Kanaya.
Dan keputusan itu disambut oleh Willyam, dengan angkuhnya ia menghapus nama putra bungsunya dari jajaran keluarga Willyam dan menganggap Alarick Willyam mulai saat itu, telah tiada lagi di dunia.
Flasback Of.
“Aku hidup dengan terus dikungkung rasa bersalah pada Kanaya dan seluruh keluarganya. Meski aku sudah menghukum diriku sendiri, tapi rasa bersalah itu tetap tak bisa pergi,” ucap Alarick di akhir cerita.
Alarick mengangguk. Bertahun-tahun ia menarik dirinya dari dunia luas, tinggal menyendiri di pinggiran kota Malang, demi tetap bisa dekat dengan keluarga Kanaya. Tak hanya itu, ia pun memutuskan untuk tetap hidup sendiri selamanya, sebagai penebus rasa bersalah pada almarhum Kanaya. Hingga terjadinya tragedi kematian Ridwan—calon suami Sherin—yang membuatnya dengan berat hati mengambil keputusan untuk menikah dengan Sherin Mumtaza.
“Nyatanya, meskipun sudah 21 tahun berlalu, aku tetap tidak bisa bangkit, Sherin. Aku tak bisa terbebas dari rasa bersalah itu, dan tak bisa melepaskan bayang-bayang Kanaya dari dalam hatiku,” ungkap Alarick dengan sepasang mata yang mengembun menatap Sherin.
__ADS_1
Sherin terdiam, tak ada kata yang mampu ia ucapkan. Meskipun kalimat seperti ini, sebelumnya sudah dapat ia prediksi, namun saat Alarick mengucapkannya, tak urung membuat Sherin terguncang juga.
“Dan tanggal 11 Februari, adalah hari kematiannya. Di tiap tanggal itu, duniaku terasa runtuh, Sherin. Sedangkan aku tak dapat menemuinya, aku tak pernah tau di mana pusaranya. Keluarga Kanaya menolak memberitahukannya padaku.” Dan, satu titik bening jatuh menggelinding di wajahnya yang lelah. Dengan kasar, Alarick segera mengusapnya.
Ia seakan tak sudi ada orang lain yang melihatnya menangis. Tapi kehancuran jiwanya sudah terlihat jelas di wajah dan tatapannya. Apa lagi kini, air mata ikut menunjukkan kehancurannya.
“Dan ternyata, anakku dan Kanaya masih hidup. Mereka menutupi fakta ini dariku. Dulu mereka bilang kalau anak itu juga meninggal sesaat setelah dilahirkan”. Alarick meraup wajahnya dan mengusapnya berkali-kali.
“Mereka betul-betul menghukum aku, Rin. Padahal aku tak pernah punya niat untuk meninggalkan Kanaya. Aku mau bertanggung jawab, tapi William menghalanginya. Dan sekarang aku yang menanggung semuanya,” geram Alarick dengan tatapan nyalang.
“Bertahun aku meratapi kepergian Kanaya, dan bertahun aku menyiakan anakku tanpa ku sengaja. Apa ini?” resahnya dan kembali disertai air mata.
Sherin yang sudah lebih dulu tak dapat menahan diri untuk tidak menangis, segera mendekap tubuh gagah Alarick yang kini tampak begitu rapuh dan lemah. Sherin berharap, dengan pelukannya, mungkin saja sedikit atau secuil, mampu memberikan kekuatan pada jiwa Alarick yang terlara.
__ADS_1
Sesaat hening, tak ada kata lagi yang terucap dari Alarick, pun dari Sherin. Keduanya terlarut dalam luka masing-masing. Hingga satu kalimat terucap dari Alarick pada Sherin. “Seperti ini aku, Sherin. Jangan berharap apapun dariku. Karena aku tak akan bisa memenuhi harapanmu sampai kapan pun.”