
“Saya minta maaf, Quin.” Kalimat itu terucap juga dari Rafardhan. Kalimat yang memang sudah diduga oleh Quinsha kalau akan dilafazkan. “Saya minta maaf atas semua kesalahan saya,” lanjut pemuda itu lagi.
“Saya sudah bilang ‘kan, kalau saya sudah memaafkan ...”
“Sebenarnya belum, Quin. Kamu hanya mengucapkan kata telah memberi maaf, tapi sebenarnya, tidak.”
Quinsha terdiam, ia merasa tak perlu menyanggah ucapan Rafardhan, karena memang begitulah yang ia rasakan. Hatinya masih sakit, perasaannya masih kecewa. Amarah dan kesal masih membelit jiwa, tiap kali ingatan menuntun pada semua peristiwa.
“Saya tau, kalau kesalahan saya memang tidak mudah untuk dimaafkan. Dan saya juga tidak akan memaksa kamu untuk memberikan maaf pada saya. Di sini saya hanya menjalankan kewajiban saya untuk minta maaf. Kamu mau memberi maaf atau tidak, itu semua hak kamu, Quin.”
Kalimat apa yang diucapkan oleh Rafardhan ini, mengapa seakan membungkam Quinsha dari segala hal yang mungkin akan menjadi sanggahan. Bahkan dengan seketika, Atmosfer keheningan pun tercipta. Padahal sebelumnya, Bias kekesalan dari Quinsha sangat jelas terasa.
Keterdiaman gadis itu, membuat Rafardhan lebih leluasa lagi menyampaikan kalimatnya. Yang ternyata tak sebagaimana prediksi dari pemuda itu sebelumnya, tanpa titik, tanpa koma dan tanpa jeda. Karena Quinsha seakan melupakan durasi waktu sepuluh menit yang telah ia tetapkan sebelumnya.
“Saya hanya ingin memberitahukan kamu, kalau saya sangat menyesal, saya merasa malu ... benar yang kamu bilang, pikiran saya sangat picik dengan punya tindakan seperti ini. Tapi ada satu hal, Quin, yang paling saya sesali dari semua ini.”
Rafardhan tak melanjutkan ucapannya. Ia sengaja ingin tahu, apakah Quinsha mencermati ucapannya atau tidak. Dan ternyata, karena kalimatnya yang terhenti itu, kini Quinsha menoleh ke arah Rafardhan. Meski tak mengajukan tanya, tapi tatap mata gadis itu jelas menyiratkan rasa penasaran di sana.
“Setelah ini, dan mungkin untuk selamanya, yang akan kamu ingat tentang saya, hanyalah kesalahan yang saya lakukan, dan bukan tentang diri saya yang lain. Hal itu yang paling saya sesali, Quin.”
RAfardhan menatap tepat bola mata Quinsha, yang saat itu juga terlihat tak ingin menghindari tatap mata tajam Rafasya Aditya Zaidan. Biarkan rasa yang menyelami semua dan mendapatkan pemahaman. Jika yang mereka temukan dalam bola mata adalah samudera tak bertepian, rasa yang mereka punya akan dapat mengukur seberapa dalam. Dan jika dalam Netra itu terdapat gumpalan awan, rasa yang mereka punya jua, yang dapat mengukur seberapa luas membentang.
Banyak bahasa yang gagal diungkapkan, karena tak ada kesepadananan kalimat yang ditemukan. Namun, terkadang hanya dari tatapan, kerumitan itu mampu terselesaikan. Karena mata mampu mengungkap apa yang dari hati, yang tak dapat terwakilkan dengan ucapan.
(Author: karenanya, aku suka menatap matamu.. Authornya sedikit curhat)
“waktu sepuluh menit untukku sudah berlalu, ya?” pertanyaan Rafardhan mengusik hening yang bertandang, menarik kesadaran yang mulai berkelana ke negeri hayal.
Quinsha mengangguk dan segera beralih pandang.
“Padahal, masih belum semuanya saya sampaikan,” sesal pemuda tampan itu sembari menatap lurus ke depan.
“Sudah sebanyak ini.” Kalimat yang diucapkan Quinsha terdengar ambigu tapi Rafardhan paham, apa maksud gadis itu.
“Iya, karena sebenarnya tujuan saya tak hanya ingin membahas kata maaf saja.”
“Lalu?”
“saya ingin menepati ucapan saya beberapa hari lalu sama kamu, Quin.”
“Ucapan apa?”
“Saya akan temani kamu ke acara resepsi, laki-laki idaman kamu itu,” tandas Rafardhan.
__ADS_1
“Arfan?”
“Ada lagi, selain dia?” tukas Rafardhan. Beberapa detik lalu, ia melambungkan perasaan Quinsha dengan kata-kata yang teramat dalam, meski tanpa adanya penggalian. Sekarang pemuda tampan itu malah memberikan sindiran tajam. Sikapnya ini jadi menyulut tanya, seperti apa, Rafardhan memandang Quinsha Daneen. Cukup istimewa atau biasa-biasa saja?
“Gak usah nyindir!” gerutu Quinsha.
RAfardhan hanya tertawa renyah. “Jam berapa kita kesana?”
“Saya belum menyetujui untuk datang kesana bersama kamu,” ucap Quinsha.
“Tapi saya juga tak yakin, kalau kamu akan menolak pergi dengan saya,” kata Rafardhan penuh percaya diri.
“PD amat kamu,” cebik Quinsha.
“Bukan begitu.” Rafardhan menggeleng. “Istrinya Papa, saat ini belum boleh kemana-mana, terus Aura, istrinya sepupu saya katanya, dia juga lagi ada di Jakarta. Saya gak yakin, kamu bisa datang sendirian ke acaranya Arfan,” cetus Rafardhan. Dan memang apa yang dikatakan itu adalah benar.
“Jadi kamu sudah menyelidiki semuanya, ya,” decak Quinsha seraya menatap pemuda tampan itu sambil menggeleng heran.
“Bukan menyelidiki, tapi memastikan,” kilah Rafardhan.
“Tetap, saya belum siap untuk kesana sama kamu,” tolak Quinsha. Walau sebenarnya, ia memang butuh teman untuk menghadiri undangan Arfan, tapi untuk kesana bersama Rafardhan, ia harus berpikir seribu kali sebelum memutuskan. Karena Rafardhan itu artis terkenal, akan seheboh apa nanti bila Quinsha datang kesana bersamanya.
“Ok. Saya kembali ngasih kamu dua pilihan. Dan tak ada yang ketiga,” cetus Rafardhan.
“Memberi pilihan lagi? Pilihan apa?” tanya Quinsha dengan nada jengah.
“Jika tidak, apa?” tanya Quinsha cepat.
Rafardhan tak menjawab, tapi ia segera mengencangkan laju mobil secara berkala hingga mencapai batas kecepatan maximum, dan terus melebihinya.
“kencangkan sabuk pengamanmu, Quin. Biar bisa merasakan sens4sinya merajai jalanan. Sangat menyenangkan, Lho,” ujar Rafrdhan dengan santai, ditambah sebaris senyuman kecil yang semakin melengkapi kesantaiannya.
“Rafa, kamu mau apa? Jangan main-main ya!” Quinsha mulai terlihat panik, melihat jalanan di depannya yang sudah tak terbentuk, karena tingginya kecepatan mobil yang dikemudikan oleh Rafardhan.
“Tenang saja, Quin. Sebelum jadi artis, saya sudah sering ikutan balapan liar, saya selalu menang. Hanya sekali saja saya kalah.” Rafardhan masih bercerita dengan tenang, sedangkan raut wajah Quinsha sudah mulai pucat karena ketakutan.
“Tak hanya itu, saya juga seorang Drivter lho, tau ‘kan driv itu apa? Mau coba sekarang, Quin,” tawar Rafardhan.
“Gak, gak.” Quinsha menggeleng kuat. “Hentikan Rafa!” titah Quinsha yang sudah benar-benar merasa ngeri.
“Gak, Quin. Ini menyenangkan sekali,” tolak Rafardhan.
“Ok, Ok. Saya akan pergi sama kamu ke acaranya Arfan. Tapi turunkan kecepatan mobilnya. Saya takut.”
__ADS_1
Rafardhan tersenyum, dan secara pasti, laju mobil pun normal kembali.
“Dasar pemaksa,” gerundel Quinsha seraya mengatur napasnya yang sesaat lalu sempat berpacu karena ulah Rafardhan itu.
“Saya hanya tidak ingin melakukan sesuatu dengan setengah-setengah.”
“Apa maksudnya?”
“Saya kabur dari jadwal saya di Jakarta, agar bisa memenuhi ucapan saya sama kamu. Jika kamu gak mau pergi bersama saya, sia-sia semua usaha saya, jauh-jauh kemari.”
“Itu masalah kamu, Raf. Saya gak minta,” sanggah Quinsha.
“Memang, tapi poinnya di sini, Quin. Saya gak mau dicap sebagai pembohong sama kamu.”
Quinsha kini terdiam, tak ada lagi kata sanggahan.
“Ini jalan ke rumah kamu ‘kan?” tanya Rafardhan sesaat kemudian. Ia memenuhi ucapannya untuk mengantar Quinsha tanpa diminta.
“Iya.” Quinsha menoleh ke belakang, terlihat mobilnya yang dikemudikan oleh supir Rafardhan masih mengikuti mereka. “Saya turun di sini saja. Saya mau pakai mobil saya sendiri. Dan kali ini kamu harus nurutin saya!” Quinsha menatap Rafardhan dengan tatapan mengintimidasi.
“Baiklah, nanti saya jemput kamu jam berapa?”
“Gak usah. Kita ketemu di dekat gerbang yayasan saja,” putus Quinsha.
“No, itu gak elok, Quin. Sebelum Magrib, saya sudah tiba di rumah kamu.” Kini giliran Rafardhan yang memberikan keputusan.
“Apa?” Quinsha langsung terkejut dengan keputusan Rafardhan itu. Bahkan hampir saja mulutnya terbuka dan membentuk huruf O.
“Sekalian kita bisa sholat Maghrib berjamaah,” tambah Rafardhan. Pemuda itu seakan sengaja memainkan emosi Qhuinsha yang kali ini hampir mendelik karenanya.
“Jangan main-main kamu!” tuding Quinsha, bahkan telunjuk jarinya ikut serta. Rafardhan tertawa renyah saja seraya menoel telunjuk Quinsha yang mengarah kepadanya. Gadis itu tersadar dan segera menurunkan tangannya.
"Tapi ingat, nanti kamu harus pakai masker, dan jangan dilepas sebelum kita keluar dari acara itu!" titah Quinsha.
"Kenapa?"
"Saya gak mau, adanya kamu hanya menciptakan kehebohan di sana," cetus Quinsha.
"Bukannya kamu tidak ingin wajah tampan saya ini dilihat oleh yang lain?" tebak Rafardhan.
"Narsis," cebik Quinsha. Yang disambut tawa renyah oleh Rafardhan.
“Nanti saya telepon.” Quinsha pun merubah keputusannya sebelum turun dari mobil mewah Rafardhan itu dan menuju mobilnya sendiri. Untuk selanjutnya mobil itu melaju menuju arah rumahnya yang sudah tak seberapa jauh dari sana.
__ADS_1
****%%%%****%
untuk visual, saya masih mau cari yang pas dulu ya, dengan tokoh-tokoh yang ada di cerita ini.