
“Kita pulang sekarang, sayang,” ajak Damaresh pada istrinya.
“Sudah urusannya sama om Alarick?”
“Ya, urusanmu juga sudah ‘kan?”
“Belum sih, sebentar lagi ya,” rengek Aura. Ia masih merasa rindunya belum cukup terobati pada kedua orang sahabatnya—Sherin dan Quinsha. Masih ingin bercanda tawa dengan mereka lebih lama lagi
Damaresh menggenggam tangan Aura erat, menatap seksama wajah ayu nan berbalut hijab. Dari cara memandangnya, seakan ia sedang mencari sesuatu yang tak kasat mata di sana, dan hanya Damaresh saja yang bisa melihatnya.
“Ada jerawat?” Tanya Aura.
Damaresh menggeleng.
“Pori-pori membesar?”
Damaresh juga menggeleng
“Lalu?”
__ADS_1
“Aku hanya ingin memastikan apa kau baik-baik saja,” sahut Damaresh.
“Aresh...”
“Kau sudah duduk terlalu lama, Arra. Harusnya saat ini kau masih banyak istirahat.” Damaresh menunjukkan sikap posesifnya. Sejak Aura mengalami keguguran, Aresh hampir saja melarang Aura untuk hanya sekedar berjalan.
Bila dilihatnya istrinya itu beraktivitas kecil saja, Aresh segera melarang. Dengan alasan, kalau Aura harus banyak istirahat. Terkadang Aura kesal juga dengan ulah suaminya yang dianggapnya "Keterlaluan" tapi di balik semuanya ia sadar, kalau itu adalah wujud cinta Aresh kepadanya.
“Ya ampun Aresh! Aku baik-baik saja. Aku sudah sangat sehat sekarang. Dan kau tau kenapa?”
“Hmm.” Lelaki tampan itu hanya memperdengarkan dengungan.
“Karena kau selalu ada bersamaku,” kata Aura seraya tersenyum indah.
Aura tak dapat menyembunyikan kelopak mawar yang bermekaran di hatinya, juga kupu-kupu aneka warna yang beterbangan di jiwanya. Semua itu terlihat dari senyuman dan tatap mata yang berbinar bahagia.
“Sabar ya, Sherin.” Quinsha mengusap pelan pundak Sherin seraya berkata lagi yang lebih menyerupai bisikan. “kita masih menjadi manusia 'tak kasat mata' sekarang.” Quinsha lalu mencuri tatap pada aksi romantis nan harmonis antara Aura dan suaminya yang terjadi tepat di depan matanya dan Sherin.
“Ya, ternyata tak hanya dalam rumah tanggaku saja, aku menjadi sosok yang tak kasat mata, di depan sahabatku pun aku menjadi sosok yang ‘antara ada dan tiada’ juga,” keluh Sherin sambil melempar pandangan ke lain arah.
__ADS_1
“Sabar! Akan indah pada waktunya,” harap Quinsha.
“Bukan. Tapi sabar, karena Allah bersama orang-orang yang sabar,” ralat Sherin.
“Betul banget.” Quinsha mengacungkan jempol tangannya. “Karena itu, jangan batasi sabarmu,” lanjutnya. Yang membuat Sherin seketika diam. Ucapan Quinsha itu, tanpa disadarinya telah menohok jiwa Sherin begitu dalam.
'Jangan batasi sabarmu' Diam-diam Sherin mengulang ucapan Quinsha itu dalam hatinya saja. Dan segera pikirannya berkelana pada keadaan rumah tangganya yang bisa dikata sekarang sedang ada dalam kondisi bak 'telur di ujung tanduk'.
Terbersit hayal juga dalam diri Sherin. "Andai saja, Alarick semanis Aresh perlakuannya pada istrinya". Sherin mungkin tidak tahu atau belum tahu. Kalau Damaresh itu tak serta merta semanis ini sikapnya pada Aura. Melainkan setelah perjuangan yang panjang dari Aura dan kesabaran tak terbatas yang dilakoninya.
“Apa yang sedang kau pikir?” Tanya Quinsha saat melihat Sherin seketika diam saja. Diam dalam jeda waktu yang cukup lama.
“Tidak ada,” kelit wanita itu.
“Sebaiknya jangan memikirkan apapun. Lihatlah! Pertunjukan di depan kita belum selesai,” tunjuk Quinsha dengan isyarat mata pada Damaresh dan Aura.
“Yuk kita lanjut saksikan meski dengan hàti yang miris,” cebik Quinsha yang membuat Sherin langsung tersenyum.
Obrolan Aura, Sherin dan Quinsha memang harus berhenti begitu saja, tatkala Damaresh—suami Aura—tiba-tiba saja hadir di sana. Sebagaimana karakter seorang Damaresh William selama ini yang bak kulkas berjalan itu, tatapan dan perhatiannya hanya langsung terfokus pada Aura, seakan istrinya itu sedang sendirian saja.
__ADS_1
Lalu Sherin dan Quinsha di mana? Mungkin seperti apa yang diungkap Quinsha Mereka berdua sedang menjadi sosok tak kasat mata.
Suka cita yang terbentuk di antara ketiga sahabat itu, menjadi hening seketika akibat ulah Damaresh ini. Jika semula Quinsha dan Sherin juga sebagai pemain, mendadak kini harus beralih peran menjadi penonton. Cerita kocak pun beralih jadi cerita bergenre roman, di mana hanya Aura dan Damaresh saja yang menjadi pemeran.