Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 86


__ADS_3

“Mbak Lila, nanti sama siapa ke sana?” Tanya Quinsha. Awalnya ia tak tertarik untuk mengikuti obrolan rekan-rekan guru di kantor, pada saat jam istirahat itu. Karena topik pembahasannya adalah tentang acara kondangan ke tempat perhelatan resepsi Bayhaki Arfan.


Tapi mengingat kalau ia juga diundang, dan berencana untuk datang, sedangkan dua orang sahabatnya—Sherin dan Aura—yang juga diundang, sama-sama tak bisa datang dengan berbagai alasan. Aura dijemput keluarga William ke Jakarta, sedangkan Sherin yang sedang hamil muda, belum diijinkan kemana-mana oleh suaminya. Jadilah Quinsha harus datang sendirian kesana.


Maka Quinsha berpikir, Tak ada salahnya jika ia datang bersama rekan sesama pengajar di yayasan. Tapi apa jawab Lila atas pertanyaannya. “Aku bersama suami, Mbak. Paling agak malam ke sana. Karena suamiku baru tiba di rumah pukul 19 nanti.”


Setali tiga uang dengan Risma yang juga berniat datang bersama suaminya. Quinsha mengangguk, niatnya menawarkan diri untuk pergi bersama diurungkan begitu saja. ‘Sudahlah, gak papa. Pergi sendirian ke sana gak masalah kok. Aku pasti akan baik-baik saja’ bisiknya dalam hati.


“Mbak Quinsha, udah dengar berita terbaru tentang Rafardhan?” tanya Risma tiba-tiba. Quinsha menggeleng saja.


“Dia akan datang ke yayasan Badrut tamam, kota Batu, dalam minggu ini katanya, untuk acara peresmian. Gak tau peresmian apa,” tutur Risma yang baru mendapatkan info itu semalam dari adik iparnya.


“Yayasan Badrut Tamam itu ‘kan pernah menjadi lokasi syuting web seriesnya, ya,” sahut Lila.


“Mungkin ,Mbak Quinsha mau kesana untuk bertemu Rafardhan,” canda Risma.


“Mbak Quinsha gak perlu jauh-jauh kesana kalau hanya mau ketemu Rafrdhan. Pasti Rafardhannya yang bakal nyamperin, Mbak Quinsha kemari,” tukas Lila yang hanya mendapatkan tatapan datar saja dari Quinsha.


“Kalau Rafardhan datang kesini lagi, bilang-bilang ya, Mbak Quinsha, aku mau foto sama dia,” kata Risma.


Quinsha diam saja, ia tak berminat sama sekali untuk melayani candaan kedua temannya itu. Pikirannya saat ini masih diberatkan dengan perihal menghadiri acara resepsi Bayhaki Arfan. Meski datang sendiri sudah menjadi pilihan, tapi tetap saja ada ketaknyamanan yang dirasakan.


Quinsha bergegas menuju mobil, hari ini ia minta ijin pulang cepat atas permintaan dari uminya. Karena ada kerabat yang mau datang dari Sumatera. Namun, baru saja mobil yang dikemudikannya itu keluar dari gerbang, tiba-tiba saja sebuah mobil meluncur dengan cepat dan menghadang laju mobilnya. Quinsha segera menginjak rem dan mobil pun berhenti seketika.


Menepiskan kemungkinan kalau yang menghadang mobilnya adalah seorang penjahat, Quinsha gegas turun dari mobil karena dipicu rasa kesal yang teramat sangat. Keberaniannya timbul begitu saja, karena ia berada di tempat keramaian dan siang hari pula.


Bersamaan dengan itu, pengemudi mobil yang menghadangnya juga keluar dari mobil itu dan siap menanti amarah Quinsha.


“Kamu!?”


Ternyata bukan amarah, atau drama marah-marah yang diberikan oleh gadis cantik berhijab lebar itu, tapi justru sebuah keterkejutan.


“Apa kabar, Quin?”


QUinsha menghela napas, untuk membuang rasa kesal dan tegang yang sempat memerangkap. “Baik, tepikan mobil kamu! Saya mau lewat.” Quinsha segera memutar tumitnya untuk kembali masuk ke mobil.


“Saya mau bicara sama kamu, Quin.”


Ucapan Rafardhan itu membuat Quinsha menghentikan langkah dan berbalik badan. “Gak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Saya terburu-buru mau pulang,” tandas Quinsha.

__ADS_1


“Ok.” Rafardhan mengangguk dan segera menyandar pada mobilnya sambil melipat tangan. Layaknya seorang model terkenal yang siap untuk diambil gambarnya, lebih kurang seperti itulah pose Rafardhan kali ini. Tapi Quinsha paham, kalau dari gelagat tersebut menandakan, Rafardhan tidak mau beringsut dari tempatnya, sebelum Quinsha menuruti kemauannya.


“Mau kamu apa sih, Raf?” tanya Quinsha kesal.


“Mau saya sudah jelas, Quin. Saya mau bicara sama kamu. Itu saja,” tegas Rafardhan.


“Dengan cara kayak gini?” tanya Quinsha bernada protes.


“Kalau tidak dengan cara kayak gini, saya gak yakin kamu akan mau menemui saya,” sahut Rafardhan dengan ekspresi santai.


“Dasar aktor,” gerutu Quinsha sambil melayangkan tatapan ke sekitar keduanya. Dan ternyata hal itu sudah menjadi perhatian beberapa orang yang lewat, serta yang hanya sekedar duduk-duduk di seberang jalan sana. Bahkan terlihat ada yang mengarahkan kamera ponsel pada keduanya. Pasalnya, kali ini Rafardhan tak menutupi wajah tampannya itu dengan masker. Tak seperti biasa bila ia sudah ada di tempat keramaian seperti ini.


“Saya harus pulang sekarang, umi saya sudah menunggu,” resah gadis itu dengan tatapan tak nyaman atas situasi yang terjadi sekarang.


“Saya hanya minta waktu kamu sebentar,” keukeh Rafardhan.


Tiinn


Tinnn


Terdengar bunyi klakson dari arah belakang Quinsha. Gadis itu menoleh, ternyata ada dua mobil yang akan keluar dari yayasan juga, tapi terhalang oleh mobil Quinsha yang melintang di tengah gerbang.


“Saya hanya memberi kamu dua pilihan, Quin. Saya akan ikut di mobil kamu, atau kamu yang ikut saya. Dan tidak ada pilihan berikutnya,” tegas Rafardhan dengan tatapan tak gentar. Sungguh baginya saat ini, yang ada di depannya hanya Quinsha Daneen saja. Ia tak peduli ada mobil lain, motor lain atau orang lain yang juga akan melaksanakan kepentingannya, dan terhalang oleh sikap Rafardhan ini. Pemuda itu hanya ingin bicara dengan Quinsha saja. Titik.


“Dasar pemaksa,” gerutu Quinsha.


Sepertinya sikap pemaksa Damaresh William, mulai menurun pada Rafardhan. Maklumlah, darah mereka sealiran


Quinsha sadar, kalau saat ini ia tidak punya pilihan, selain mengikuti permainan Rafardhan. “Kalau saya ikut kamu, bagaimana dengan mobil saya? Saya gak ada sopir.” Pertanyaan Quinsha itu mengisyaratkan sebuah persetujuan.


Rafardhan segera mengetuk kaca mobilnya dan keluarlah seorang laki-laki usia sekitar 30 tahun menghampiri Rafardhan.


“Lu, bawa mobil dia ya, nanti lu ikuti isyarat gue!” titah Rafardhan pada orang itu.


“Siap, Bos.” Lelaki itu bergegas masuk ke mobil Quinsha. Sedangkan sang bos tampan sendiri menatap gadis itu sambil tersenyum menang. Tersenyum menawan juga tentunya.


“Silakan!” Rafardhan membukakan pintu mobilnya untuk Quinsha.


Mobil mewah yang dikemudikan sendiri oleh Rafardhan itu melaju santai, seakan angin landai yang meriakkan ketenangan. Tapi bagi Quinsha, Rafardhan seperti orang yang baru belajar mengemudi dengan cara menyetir seperti ini. Gadis itu tak tau saja, kalau pemuda tampan itu sengaja, agar bisa berlama-lama dengan Quinsha.

__ADS_1


Sebenarnya cara yang digunakan oleh Rafardhan ini adalah cara lama, tapi mau bagaimana lagi, setidaknya itu adalah cara yang paling relevan saat ini.


“Bisa lebih cepat lagi, gak?” Akhirnya pertanyaan bernada protes diajukan oleh Quinsha.


“Penting untuk mengedepankan sikap hati-hati dalam mengemudi, Quin,” kilah Rafardhan.


“Ini sudah bukan hati-hati lagi namanya, cara kamu ini seperti orang yang baru belajar nyetir.”


“Iya anggap saja kayak gitu. Saya ‘kan orang Jakarta, belum terlalu paham jalanan di kota ini.”


“Mana saya yang nyetir, biar lebih cepat.”


Rafardhan menoleh pada gadis di sampingnya itu dan tertawa.


“Kenapa malah tertawa?” protes Quinsha.


“Saya baru tau, ekspresi kamu kalau lagi kesal. Sweet banget, Quin.”


Quinsha segera membuang pandangannya ke luar jendela. “Sekarang katakan, kamu mau bicara apa.” Ia berkata lain dan lalu melihat pada jam tangannya. “Setengah jam lagi, saya harus tiba di rumah, artinya kamu hanya punya waktu tak lebih dari sepuluh menit,” imbuhnya.


Mendengarnya, Rafardhan menarik napas berkali-kali, dan tak segera menyampaikan apa yang ingin dibicarakannya. Hal ini pun menuai tanya dari Quinsha.


“Kamu ada riwayat sakit Asma?”


“Gak.”


“kenapa narik napas aja dari tadi?”


“Saya sedang latihan, Quin.”


“Latihan apa?”


“Latihan untuk bisa lama tahan napas.”


“Apa sih, gak nyambung?” gerutu Quinsha.


“Kamu Cuma kasih waktu saya bicara tak lebih dari sepuluh menit. Artinya saya harus menyampaikan semua keperluan saya tanpa jeda, tanpa titik, tanpa koma. Dan kalau bisa dalam satu tarikan napas saja.”


Jawaban dari Rafardhan itu, sukses membuat Quinsha langsung terdiam.

__ADS_1


__ADS_2