
Jeritan Quinsha hampir membahana di udara sebelum kepalanya membentur keras sesosok tubuh nan tinggi tegap. Sebelum telinganya mendengarkan irama jantung yang berpacu, dan sebelum aroma Mint menguar, memenuhi Indera penciumannya.
Setelah ketiga hal tersebut, suara Quinsha tertahan begitu saja dalam rongga dada, bersamaan dengan segenap tubuh yang terasa kaku, seakan tengah berada dalam ruangan yang minim suhu udara.
“Kalau jalan jangan sambil melamun!” terdengar satu teguran yang terasa sangat dekat sekali darinya. Membuat Quinsha reflek mendongakkan kepala. Dan astaga, ternyata dirinya tengah berada dalam dekapan Rafardhan. Kepala Quinsha tepat menyandar di dada lelaki yang diperkirakan memiliki tinggi hampir 180 an itu.
“Apa-apaan ini?” protes Quinsha dan segera melepaskan diri.
“Shooting film,” sahut Rafardhan dengan wajah datar.
Beberapa orang berlarian menghampiri keduanya. “Raf, lu gak papa?” itu suara pertanyaan dari Adam.
“Aman,” sahut Rafardhan singkat seraya mengatur napas.
“Mbak, hati-hati ya, hampir ketabrak tadi,” ujar Adam pada Quinsha yang membuat gadis itu terhenyak mendengarnya.
“pasti dia gak nyadar, kalau hampir ciuman sama truk barusan,” sindir Rafadhan, melihat ekspresi Quinsha yang keheranan.
Waktu menyeberang jalan barusan, Quinsha yang berjalan agak ke belakang dari Rafardhan terus mengikuti langkah lelaki itu tanpa menoleh kanan kiri, tersebab pikirannya yang sedang jalan-jalan kesana kemari.
Luput dari perhatiannya sebuah truk besar yang melintas jalan. Padahal Rafardhan sudah memberinya peringatan, tapi semua oleh Quinsha tak diindahkan.
Rafardhan pun menarik keras tubuh gadis itu agar terhindar dari laju kendaraan besar. Akibatnya, tubuh Quinsha segera membentur Rafardhan cukup keras, dan truk besar itu melintas di dekat mereka dalam jarak tak sampai satu meter saja.
Ada banyak jeritan di tempat itu—dari beberapa orang yang melihat kejadiannya—tapi Quinsha hanya mendengarkan suara detak jantung Rafardhan yang berpacu.
Barulah kini, Quinsha menarik napas lega, beserta rasa syukur yang terpatri dalam dada, karena telah diselamatkan dari kemungkinan celaka.
“Terima kasih. Maaf, sempat salah paham,” ucap Quinsha pada Rafardhan yang hanya ditanggapi oleh lelaki itu dengan anggukan singkat.
__ADS_1
“Ini ‘kan ya yang dikabarkan ada hubungan sama kamu, Raf?” tanya Herman—orang agensi yang menaungi Rafardhan.
“Iya,” sahut Adam, karena Rafardhan hanya diam.
“Yang sebenarnya ada hubungan apa, nih?” selidik Herman.
“Seperti yang udah gue jelasin ama, lu, Man. Kalau yang sebenarnya, mereka ini masih ada hubungan kekeluargaan,” terang Adam. Dan Rafardhan membenarkan dengan anggukan.
Sedangkan Quinsha menggerutu dalam hati. ‘hubungan kekeluargaan dari mana? Memangnya aku ini emaknya Rafardhan? Apa aku sudah terlihat setua itu?’
Tapi Quinsha memilih diam tanpa sanggahan, karena merasa sudah sangat berhutang budi pada Rafardhan.
“Besok, di acara jumpa Fans. Saya akan menglarifikasi berita ini,” kata Rafardhan pada orang dari Agensi itu.
“Terserah gimana baiknya aja, Raf. Kami percayakan padamu dan Adam.” Setelah mengatakan demikian, Herman lalu berpamit lebih dulu menuju mobilnya.
“Gak usah, Mas. Gue mo anter dia dulu,” terang Rafardhan sambil memberi isyarat pada Quinsha.
“Lu yakin mo nyetir sendiri?”
“Yakin.”
“Ok lah ... gue pikir lu udah dari balik dari tadi.”
“Gue baru dari masjid.”
“Habis Sholat, lu? Beneran?” tanya Adam dengan nada sedikit terlonjak.
“Dia yang Sholat, bukan gue.” Dan, Rafardhan segera bergegas menuju mobil setelah memberi isyarat pada Quinsha untuk mengikuti.
__ADS_1
Sesaat perjalanan diliputi dengan hening, usai Quinsha memberikan alamat rumahnya. Jarak yang harus mereka tempuh sekitar 30 menit untuk tiba, akan sangat membosankan jika hanya sama berdiam menutup bahasa.
Tapi Quinsha juga enggan untuk lebih dulu memulai bicara, karena hanya sepertinya saja, dia sudah kenal Rafardhan, tapi sebenarnya tidak. Sikap lelaki itu penuh teka teki, begitu keputusan Quinsha dalam hati.
Rafardhan juga seakan sedang malas berkata-kata. Tak hanya mulutnya yang tak bicara, bahasa tubuhnya juga menunjukkan reaksi yang sama. Membuat atmosfer keheningan menyelimuti mereka dengan pekatnya.
Hingga tak sampai sepuluh menit kemudian mobil mewah jenis Mercy itu berhenti. Quinsha menoleh sekejap pada Rafardhan yang sedang membuka seatbeltnya. Lalu menutupi wajah dengan masker, dan sebelum turun dari mobil, ia lebih dulu bertanya pada Quinsha, “berapa nomernya?”
“Nomor apa?” tanya Quinsha tak paham.
“Sepatu kamu.”
“Kamu mau beli sepatu?”
“Saya ‘kan sudah bilang tadi.”
“Gak usah deh. Saya gak mau terlalu banyak berhutang budi,” tandas Quinsha.
“Kalau kamu anggap ini hutang, ya kamu bayar nanti setelah gajian.” Lelaki itu segera turun dari mobil. Menatap Quinsha lagi dan berkata,” mau kasih tau saya nomernya? Atau saya bawakan kamu sepatu dari ukuran paling kecil sampai ukuran besar?”
AH. Itu penawaran apa ancaman ya? Entahlah. Yang jelas karena ucapan itu, Quinsha segera menyebutkan nomer ukuran sepatunya.
“38.”
**********
*************
Author: 38 itu sebenarnya nomor ukuran sepatuku sih..
__ADS_1