Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 84


__ADS_3

Sherin yang masih duduk bersandar di headboard dengan malas-malasan, jadi terkesiap melihat Alarik masuk ke kamar sambil membawa segelas susu yang sesekali masih diaduk dengan sendok. “Mas, mau minum susu?”


Alarik menggeleng, ia meletakkan susu itu di atas nakas, di samping Sherin. “Ini untukmu. Aku mendapatkan resepnya dari dokter kemarin, bahwa susu ini baik dikonsumsi oleh seorang yang tengah hamil muda,” ucapnya sambil duduk di samping Sherin yang selonjor.


“Wah! Untukku? Makasih ya, Mas.” Sherin segera meraih gelas itu dan meminumnya sampai tersisa separuh. “Aku sebenarnya gak suka minum susu, tapi kok rasa susu yang ini lebih enak ya, Mas? Apa karena kamu yang buat?” canda Sherin.


Alarik tersenyum sambil mengusap kepala istrinya itu. Namun, tak ada kata yang ia ucapkan, karena Sherin segera melanjutkan aktivitas minum susu sampai tandas satu gelas. “Terima kasih ya, Mas,” ucap Sherin lagi.


“Gak perlu berterima kasih, aku akan membuatkan susu seperti ini untukmu setiap hari. Ingatkan jika aku lupa,” tekad Alarik seraya mengusap perut istrinya yang masih datar.


“Iya, akan aku ingatkan. Tapi maksudku bukan terima kasih untuk itu.”


“Lalu untuk apa?” tanya Alarik heran.


“Untuk senyummu. Akhirnya aku bisa melihat kau tersenyum, itu yang membuatku sangat merasa senang,” cetus Sherin dengan mata berbinar.


ALarik terdiam, ia hanya menatap Sherin dengan dalam. “Selama ini aku sudah sangat jahat ya?” lontar Alarik, yang sebenarnya ia tak butuh jawaban.


“Gak jahat, Mas. Ehh iya sih menurut orang lain, tapi tidak menurutku.”


“Maafkan aku, istriku.” Alarik meraih tubuh Sherin dan dibawanya dalam dekapan. Wanita yang tengah hamil muda itu jadi terpaku dalam bungkam, tapi terasa dalam jiwanya ada bunga-bunga yang beterbangan. Dihiasi kupu-kupu aneka warna juga.


Sherin jadi terlarut dalam euforia kebahagiaan. Namun, rasanya masih ada sesuatu yang mengganjal, yang meronta menuntut penjelasan. Wanita itu pun mengurai pelukan, dan menatap suaminya dengan tatapan dalam.


“Apa semua ini, karena anak ini?” Sherin mengusap perutnya. “Apa ini untuk dia?” tanyanya lagi.


“Untuk kamu yang pertama, dan untuk dia juga,” tegas Alarik.


“Ah, aku ...” Sherin seakan tak tahu harus berkata apa.

__ADS_1


“Jangan percaya sebelum kamu melihat buktinya,” ucap Alarik segera. Ia tahu, kalau tak mudah bagi istrinya itu untuk serta merta percaya padanya. Dan Alarik juga tak ingin menggugah kepercayaan Sherin dengan berbanyak kata, atau rangkaian kata-kata. Ia bertekad akan membuktikan saja. Semoga sang istri bisa memberikan waktu untuknya, itu harap Alarik dalam dada.


Sherin mengangguk, dan membiarkan tubuhnya kembali berada dalam dekapan Alarik yang kembali merangkulnya. Sesaat mereka membiarkan rasa berdayung dalam samudera keindahan, dengan perahu kecil dari papan, di atas riak gelombang dan embusan angin landai. Sama-sama berharap perjalanan dengan perahu sederhana itu lancar dan aman, tanpa adanya gangguan yang akan memisahkan. Kalaupun kemudian akan ada ombak besar atau badai yang datang. Itu adalah bagian dari fase kehidupan rumah tangga yang harus dihadapi dan dijalankan.


Selagi tangan tetap bergenggam. Selagi niat yang sama menjadi pijakan, dan selagi denyut jantung berada dalam satu debaran, apapun cobaan yang datang, pasti akan terlewatkan.


“Mas sudah telepon Rafa?” tanya Sherin sesaat kemudian.


“Ya, sudah. Dia sedang menjalani aktivitasnya di Jakarta.”


Malam itu juga, Rafardhan berpamit akan kembali ke Jakarta. Alarik sudah berusaha mencegah, tapi keputusan putranya sudah tak bisa dibantah.


Tak sampai satu jam sejak kepergian Quinsha dari rumah sakit itu, Rafardhan juga pergi untuk melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda. Tak ada kalimat apa pun yang terucap darinya atas pertanyaan Alarik tentang Quinsha. Pemuda tampan itu hanya mengucap kata maaf pada papanya dan Sherin sebelum pergi meninggalkan rumah sakit malam itu juga.


“kau sudah menelepon Quinsha?” Alarik balik tanya.


“Aku akan meneleponnya, Mas.”


“Ya, tanyakan bagaimana kabarnya. Aku ke pabrik dulu ya.” Usai mencium kening istrinya, Alarik segera keluar dari kamar.


Ternyata Quinsha tak bisa dihubungi. Tapi Sherin paham, mungkin gadis itu saat ini tengah ada di Yayasan dan sedang mengajar. Namun, ternyata satu jam kemudian Quinsha datang bertandang. Sherin segera menyambutnya dengan pelukan.


“Aku minta maaf ...” keduanya mengucapkan kalimat yang sama secara bersamaan. Lalu sama-sama kaget dan berakhir dengan sama-sama tertawa.


“Kamu duluan, Sha,” kata Sherin.


“Gak, ah. Kamu duluan aja,” tolak Quinsha.


“Ok. Aku mau minta maaf sama kamu, Sha, atas semua kejadian ini. Kamu harus jadi korban dan ...”

__ADS_1


“Rin, kita gak usah bahas ini ya.” Quinsha cepat memotong ucapan Sherin. Ia dapat menduga kemana arah pembicaraan sahabatnya itu.


“kamu marah banget ya, Sha?”


“Aku gak tau harus bilang apa.” Quinsha menghempaskan napasnya pelan.


“Sha, aku minta maaf atas nama diriku sendiri. Aku tidak mewakili siapa pun. Hatiku hanya merasa terpanggil, karena dia anak suamiku. Dan, aku tau hal apa yang menjadi alasan tindakannya padamu.” Sherin menatap Quinsha lekat, berharap kalau sahabatnya itu akan paham. Dan karena dilihatnya Quinsha tetap diam, Sherin pun melanjutkan ucapan.


“Aku juga marah, Sha. Karena sebenarnya aku yang menjadi targetnya. Hanya saja aku belajar memahami posisi dia, dan apa yang dia rasakan, saat mendapatkan informasi yang bertolak belakang dengan kenyataan.”


Sherin bangkit dari duduknya, dan berpindah duduk ke samping Quinsha. “Aku gak akan bicarakan ini lagi, kalau kamu gak suka. Aku hanya merasa wajib menyampaikan kebenaran, agar kamu tak salah paham, seperti Rafardhan selama ini salah paham tentang papanya. Selanjutnya terserah kamu, Sha. Apa pun yang menjadi tindakanmu, aku paham,” putus Sherin.


“Sherin, kemarin suami kamu menemuiku di yayasan,” tutur Quinsha.


“Apa?” Sherin terlihat kaget, karena Alarik sama sekali tak pernah memberitahukannya tentang hal ini.


“Suami kamu sudah menjelaskan semuanya. Apa yang menjadi penyebabnya Rafardhan begitu dendam. Dan aku, berusaha memahami semuanya, Rin. Tapi, rasa marah, rasa kesal atas semua tindakan Rafardhan selama ini, tak serta merta dapat kuhilangkan. Karena itu aku meminta kita gak usah membahas ini lagi sekarang,” terang Quinsha.


“Baiklah, baiklah, aku minta maaf ya, Sha.” Sherin segera merangkul Quinsha yang mengangguk sambil tersenyum.


“Dia, apa kabar?” tanya Quinsha kemudian.


“Dia? Dia siapa? Rafa?” tanya Sherin tak paham.


Quinsha berdecak sambil menahan tawa. “Dia yang ada dalam perutmu,” ujarnya.


“Oh ini.” Sherin segera mengusap-usap perutnya dengan wajah sumringah. “Dia mulai rewel pagi-pagi. Menolak hampir semua yang aku makan,” keluh Sherin tapi rona bahagia justru tergambar di wajahnya saat mengatakan.


“Hei calon keponakan.” Quinsha juga mengusap perut datar Sherin. “Jangan rewel ya, nanti gak disayang sama ounty,” lanjutnya yang berakhir dengan ketawa geli. Dan selanjutnya, Atmosfer ketegangan yang sempat terjadi, tersulap menjadi kehangatan dan keceriaan lagi.

__ADS_1


__ADS_2