Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 42


__ADS_3

Sherin menghela napas panjang.


“Apa yang kau pikirkan, Rin?” tanya Alarick tanpa terduga. Mungkin ia memerhatikan istrinya itu yang diam saja, sejak roda mobil mereka bergulir meninggalkan halaman rumah, hingga kini sudah membelah jalanan raya kota.


“Gak ada, Mas. Aku hanya ingat ucapan dokter Wira saat terakhir kamu menemuinya, sekitar sebulan lalu,” terang Sherin.


“Apa?”


“Mas Alarick itu sebenarnya tidak butuh obat triazolam itu, karena yang kau alami bukan murni insomnia tapi adalah efek pikiran.” Sherin sejenak diam untuk mencuri pandang pada Alarick setelah apa yang yang ia katakan. Namun karena dilihatnya lelaki itu tetap diam dengan pandangan fokus ke depan, Sherin kembali melanjutkan ucapan.


“Dokter Wira bilang, kalau yang, Mas, butuh kan itu adalah berdamai dengan masa lalu, dengan cara memaafkan dirimu sendiri dulu.”


Beberapa waktu lalu, saat Dokter Wira mengatakan hal itu pada Alarick dan di depan Sherin juga, wanita itu tak sepenuhnya mengerti maksudnya—kecuali pemahaman kalau suaminya itu punya masa lalu yang sulit dilupakan—tapi setelah Alarick menceritakan semuanya beberapa hari yang lalu, barulah kini Sherin mengerti semuanya. Ia pun memberanikan diri mengulang kembali apa yang dulu dikatakan oleh dokter Wira.


Setelah itu, Sherin menutup bahasanya, mengimbangi Alarick yang juga diam tanpa kata. Entah lelaki itu memaknai semua maksud perkataan istrinya, atau justru tengah menyimpan amarah dalam rongga dada, karena menganggap Sherin telah ikut campur dalam urusan masa lalunya, yang hanya ingin dinikmati sendiri saja.


Ada sebuah pesan masuk dari Quinsha, berupa pemberitahuan jam berapa besok mereka akan berangkat ke Darul-Falah. Pesan yang sudah dipahami itu, oleh Sherin dibaca berulang-ulang, sebagai pengalihan dari keheningan yang tercipta, setelah apa yang dikatakan.


Sherin baru mendongakkan wajahnya ketika merasa mobil berhenti. Tetapi tidak berhenti di depan rumah dokter Wira seperti dugaannya, melainkan di sebuah kedai kopi yang sangat indah tempatnya.

__ADS_1


“Kenapa kemari, Mas?” tanya Sherin. Kini wanita itu berdiri sejajar di samping Alarick yang keluar lebih dulu dari mobil.


“Ya, aku ingin minum kopi di sini, sebentar.”


“Gak jadi ke rumah dokter Wira?”


Alarick hanya menggeleng singkat dan segera melangkah mendahului Sherin yang masih menarik napas lega. Pasti karena ucapannya barusan di mobil, lelaki itu jadi mengurungkan niatnya untuk pergi ke rumah dokter Wira.


“Tempatnya bagus sekali,” puji Sherin seraya melayangkan pandang ke seputar ruangan dalam kedai kopi yang didesain klasik minimalis.


Tempat duduk yang dipilih Alarick juga sangat strategis, menghadap ke sebuah taman buatan yang terdapat air mancur tak sebegitu besar, hingga menghasilkan suara gemercik menenangkan. Dan Dari tempat mereka duduk, Alarick dan Sherin juga bisa melihat siapa saja yang datang ke kedai.


“Ya, cukup bagus,” sambut Alarick.


“Hanya beberapa kali.”


Dan pembicaraan terhenti ketika datang pramusaji membawakan jenis minuman kopi yang mereka pesan. Beda dengan Sherin yang masih melihat saja minuman di depannya, Alarick segera meraih gelas kopinya dan mulai menikmati tanpa kata.


Sherin merasa tak perlu bertanya lagi, dengan siapa Alarick datang ke kedai ini untuk minum kopi. Karena jawabannya sudah pasti, kalau lelaki itu hanya seorang diri. Terbukti dari sejak sepuluh menit ini, mulutnya telah terkunci. Seakan segelas kopi dengan pemikirannya adalah hal yang sangat indah untuk diresapi, lebih dari keindahan sebuah maha karya seni abadi.

__ADS_1


Sherin tersenyum menghibur diri, lagi-lagi dianggap sebagai sosok tak kasat mata membuat hatinya perih. Tapi Sherin sudah terlatih, tersenyum di atas luka, dia sudah ahli.


Dari pada mengusik ketenangan suaminya, Sherin justru memilih mengimbangi. Jika Alarick diam tanpa kata, Sherin ingin diam tanpa napas saja. Ia hanya berharap kalau keheningan ini akan berbicara, untuk memberitahukan lelaki di depannya. Bahwa Sherin itu ada, jangan dianggap tidak ada.


“Mas Rendi?” tetiba saja Alarick bergumam menyebut satu nama. Pandangannya menuju satu arah, Membuat Sherin ikut membawa tatap ke tempat yang sama.


Seorang laki-laki sepantaran Alarick, atau mungkin lebih tua sedikit hendak keluar dari kedai kopi, namun masih sejenak berhenti karena ada seorang wanita muda yang menghampiri. Keduanya sesaat terlibat pembicaraan penuh ramah-tamah, selayaknya yang lebih muda menghormati seniornya.


Alarick yang merasa yakin kalau lelaki yang dilihatnya itu adalah seorang yang ia kenal sebagai ‘mas Rendi’ gegas menghampiri. Sebelum lelaki itu pergi karena pembicaraan dengan wanita yang menghampirinya itu sudah diakhiri.


“Mas Rendi!” sapa Alarick segera.


“Ee si-siapa ya?” lelaki itu menatap Alarick seksama, seperti mengumpulkan ingatan yang mungkin telah berserak karena jeda waktu yang sangat lama.


“Alarick, Mas.”


“Oh, Alarick William?” seloroh lelaki itu. Dil luar dugaan, reaksinya terlihat begitu terkejut tapi juga senang secara bersamaan.


“Apa kabar?” keduanya saling berjabat tangan dan bertanya hampir bersamaan. Yang diakhiri dengan saling tertawa renyah.

__ADS_1


“Jika Mas Rendi tidak sedang terburu-buru, boleh minta waktunya sebentar, Mas?”


Rendi sejenak menatap jam tangannya, tersisa waktu setengah jam sebelum ia harus segera pulang ke rumah. Lelaki itu akhirnya mengangguk, dan Alarick segera mengajaknya ke kursi di mana Sherin saat ini duduk.


__ADS_2