Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 60


__ADS_3

Rafardhan duduk di tengah, di antara Adam dan Herman—orang agensi—hanya sesekali saja ia menjawab pertanyaan dari wartawan, selebihnya sudah dihandle dengan sangat rapi dan mulus oleh Adam.


Terkadang, ada dari jawaban keduanya yang tak tercantum dalam meeting barusan, tapi Rafardhan hanya memberi isyarat mengiyakan. Ia menyetujui tanpa bantahan. Rasanya sudah seperti boneka saja pemuda tampan itu kali ini, atau seperti robot yang sudah diprogram.


Memang sebelum jumpa fans digelar, sudah diadakan rapat dulu kecil-kecilan. Mengenai hal apa saja yang akan menjadi pertanyaan wartawan, dan jawaban apa saja yang boleh diberikan.


Begitupun dengan para Fans yang kehadirannya sudah melewati proses pemeriksaan, dan pertanyaan apa saja yang bisa mendapatkan jawaban. Semua sudah diatur dan terprogram, Rafardhan hanya tinggal mengikuti permainan. Hingga akhirnya, ada salah satu fans yang menanyakan perihal kebenaran hubungan Rafardhan dengan wanita berhijab, siapa lagi kalau bukan Quinsha Daneen.


“Mereka gak ada hubungan apa-apa,” jawab Adam.


“Kami masih ada ikatan saudara,” sambar Rafardhan. Hal mana membuat Adam melayangkan sedikit lirikan, karena jawaban seperti itu tak ada dalam daftar.


“Saudara dari pihak mana, dari jalur ayah atau ibu?” lanjut tanya penggemar yang lain.


“Bukan keduanya.” Rafardhan menjawab disertai gelengan.


“Lalu saudara dari mana?”


“Iya, barusan katanya saudara.”


Segera datang dua pertanyaan susulan. Sepertinya mereka dari kalangan fans garis keras Rafardhan yang ingin tau perihal idolanya hingga ke akar-akar.


“Saudara seiman,” sahut Rafardhan asal, tapi itu memang benar. Bahwa setiap muslim itu bersaudara. Tapi jawaban itu justru memantik pertanyaan yang semakin dalam.

__ADS_1


“Artinya, tak menutup kemungkinan kalau di antara kalian memang ada hubungan, ya?”


Adam dan Herman sempat bertukar pandang dengan pertanyaan itu. Tapi mereka serahkan semuanya pada Rafardhan. Biar pemuda itu saja yang memberi jawaban, karena ia yang telah memulai permainan. Dengan memberikan jawaban yang tak sesuai dengan konsep yang telah diprogram.


“Intinya gini, saya sama dia saat ini tak ada hubungan spesial apa-apa. Tapi kalau untuk besok atau lusa, terjadi apa-apa, itu Tuhan yang sudah mengatur segalanya.” Demikian jawaban Rafardhan sepintas lalu, yang jadi memancing keributan.


Tapi Adam segera memberi isyarat pada salah satu wartawan. Untuk mengajukan pertanyaan lain sebagai pengalihan.


Quinsha yang menyaksikan tayangan tersebut di akun IG Rafardhan sedikit berdecak kesal. ‘Apa maksudnya dia mengucapkan sesuatu yang mengundang teka teki begitu. Bilang gak ada hubungan apa-apa, gitu aja kenapa?’


Wajah cantiknya bersungut kesal. Ingin rasanya memberikan protes keras pada Rafardhan. Tapi ia juga berharap untuk tak akan lagi pernah berjumpa dengan si artis tampan.


“Ciahh, mulai scrol akun ig nya si artis tampan ya,” goda Aura. Wanita itu sudah beberapa kali melihat Quinsha tengah fokus pada layar ponsel, dan diakhiri dengan pandangan kesal serta sedikit memanyunkan bibir. Mengusik Aura untuk ikut mengintip pada hal apa yang tengah menjadi fokus perhatian sahabatnya itu.


“Mana aku liat.” Kini gantian Aura yang melihat layar ponsel Quinsha itu dengan seksama. “Tapi benar ‘kan apa yang dia bilang,” kata Aura setelah menyaksikan.


“Benar apanya?”


“Bahwa kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi. Dan apapun nanti yang terjadi itu, sudah Dikehendaki Allah,” urai Aura mengulang apa yang dikatakan oleh Rafardhan.


“Iya, tapi mengucapkan kalimat seperti itu di depan fans, bukan hal yang tepat menurutku. Karena itu bisa memicu opini yang beragam,” cetus Quinsha.


“Nah untuk hal itu, kau bisa sampaikan protes langsung nanti pada Rafardhan,” usul Aura sambil tersenyum sumringah.

__ADS_1


“Gak, ah. Aku gak mau lagi bertemu dengan dia. Lagian semua urusanku dengan dia udah kelar.” Quinsha berhenti sejenak untuk mengambil gambar pemandangan. Beberapa kali kamera ponselnya menjepret hamparan kebun teh yang menghijau. Hingga kemudian,


“Aura, lihat!” Quinsha menunjukkan hasil jepretannya pada Aura.


“Kombinasi yang cantik ‘kan?” Quinsha memberikan penilain pada hasil foto yang baru diambilnya.


“Ya, cantik banget,” puji Aura.


“Sahabat kita mang selayaknya bidadari. Om kamu itu yang mata hatinya tertutup, tak mampu melihat keindahan yang ada di dekatnya,” cetus Quinsha sambil memerhatikan lagi hasil foto di layar ponselnya.


Dalam gambar itu ada dua orang wanita paruh baya yang sedang memetik teh, dan Sherin mengajak berbincang keduanya sembari ikut membantu juga. Kombinasi antara wanita cantik berhijab dengan kehijaun daun teh yang alami, menghasilkan pemandangan yang sangat bagus. Setidaknya itu menurut penilaian Aura dan Quinsha.


“Suami kamu ‘kan serba bisa, Aura,” kata Quinsha dengan terlonjak.


“Kenapa, mang?”


“Mungkin kau bisa minta tolong dia untuk mencuci otak pak Alarik,” usul Quinsha sambil tertawa.


“Om Alarik itu tak perlu cuci otak,” sanggah Aura. “Ia hanya butuh mandi tuju air sumberan, ditambah kembang tuju rupa,” imbuhnya.


“Iya, biar hilang pengaruh buruk di otaknya,” timpal Quinsha seraya tertawa.


“Hayoo, kalian sedang ghibahin suamiku ya.”

__ADS_1


__ADS_2