Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Extra 1


__ADS_3

"Dokter Rafasya." Dokter Bara segera menyambut hadirnya dokter ganteng yang baru memasuki ruangan itu.


"Bagaimana diagnosanya?" Rafasya memerhatikan pasien lelaki yang kisaran usia di atas 40 tahun itu dengan seksama.


"Heart Failur, Dok. Setelah dilakukan CPR, kondisi cenderung stabil." Masih dokter Bara yang menjelaskan. Sedangkan anggota timnya hanya menyimak dengan seksama.


"Pantau terus kondisinya, dan bersiap operasi!" titah Rafasya, ia memutuskan demikian hanya selang satu menit saja, dari mengamati dengan seksama. Pengamatan yang dilakukan juga tanpa menyentuh anggota badan pasien, ataupun peralatan medis yang lain. Hanya cukup dengan memandang kondisi wajah pasien dan beberapa anggota tubuh yang lain. Hal ini menandakan tingkat kemampuannya yang luar biasa sebagai dokter spesialis bedah.


Lelaki ganteng yang ketika bertugas jarang menggunakan jas kebesarannya sebagai seorang dokter itu, segera memutar tumit hendak keluar ruangan, usai memberinya titahnya barusan. Namun, langkahnya terhenti dengan adanya sebuah notif di ponsel.


Rafasya segera memeriksanya.


"Raf, setengah jam lagi, Quinsha masuk ruang operasi."


Demikian pesan singkat yang ditulis oleh Sherin. Rafasya menghela napasnya tertahan. ingin segera ia membawa kedua kakinya berlari menuju gedung teratai--yang juga berada di rumah sakit ini, tepatnya di lantai 3. Dimana kini istrinya sedang berjuang untuk melahirkan putra pertama mereka setelah penantian panjang hampir tiga tahun lamanya. Tapi, langkahnya harus tertahan oleh beratnya beban yang harus diuraikan satu demi satu. Apalagi beban itu, kalau bukan terkait tugasnya sebagai dokter bedah, yang memiliki jadwal operasi saat ini juga.


Terbayang wajah pucat sang istri, hatinya bagai teriris dan menyisakan perih. Bagaimana ketika kesempatan untuk mendampingi sang istri yang sedang bertaruh nyawa, harus berbenturan dengan tugasnya untuk menyelamatkan nyawa orang lain di meja operasi. Tapi, bukankah pasien barusan masih belum cukup siap untuk dioperasi? Setidaknya, masih ada waktu sekitar setengah sampai satu jam ke depan. Rafasya bermonolog dalam hati.


Masih ada waktu baginya untuk melihat kondisi sang kesayangan. Rafasya tegakkan langkah keluar ruangan. Satu yang menjadi tujuannya sekarang, gedung teratai. Namun, baru setapak saja langkahnya tiba di luar ruangan,


"Dokter Rafasya." Dokter Azka menghampirinya dengan tergesa. Sebagaimana dokter Bara, dokter Azka juga asisten bedah dokter Rafasya. "Pasien no 4 sudah masuk ruang operasi satu," lapornya.


Rafasya terlihat menautkan kedua alisnya. Melihat hal itu dokter Azka melanjutkan keterangannya. "Operasi CABG, Dok. Setelah defibrilasi, ritme jantungnya kembali normal. Dan secara kesuluruhan, kondisi pasien siap untuk operasi."


Astaga, Rafasya sudah terlupa, kalau setelah menuntaskan operasi ICD barusan, masih ada pasien lain yang sedang menunggu giliran untuk operasi CABG. Lelaki itu mengangguk. "Kita kesana," ujarnya pada sang first asisten. Keduanya melangkah dengan cepat menuju ruang operasi satu, di mana seluruh tim operasi sudah berkumpul siap tempur.


"Dokter Azka!" panggil Rafasya sebelum memasuki ruangan.


"Ya, Dokter."

__ADS_1


"Saya minta waktu lima menit untuk menelepon istri saya."


Dokter Azka tersenyum dengan ucapan Rafasya itu. Siapa yang tidak tahu, betapa besar cinta dokter Rafasya pada istri cantiknya yang berhijab itu.


"Istri saya di ruang teratai, dia sedang berjuang untuk melahirkan putra kami," terang Rafasya, demi dilihatnya ekspresi dokter Azka.


"Oh." Terlihat Azka terkejut, dan dalam sesaat segera memahami situasinya. "Silakan, Dok!" Azka segera menyisih memberikan ruang privasi pada atasannya itu.


"Rafasya." Suara Sherin di seberang sana.


"Bagaimana?" tanya Rafasya dengan suara kering.


"Dokter Prita bilang, sekitar tiga puluh menit lagi," sahut Sherin dari seberang.


Rafasya menghembuskan napasnya pelan. "Masih ada satu jadwal operasi," ucapnya pelan.


Mendengar itu, Sherin pun menghela napasnya pelan. "Gak papa, Raf. itu juga kewajibanmu," ucapnya dengan menahan nyeri di dada. Sebagai perempuan yang pernah mempertaruhkan nyawa di meja operasi untuk melahirkan sang buah hati, ia paham sekali, kalau di situasi seperti itu, yang sangat dibutuhkan adalah pendampingan dari suami. Hal itu juga pasti yang dirasakan oleh Quinsha saat ini.


"Iya, sebentar. Mama temui dia dulu." Sherin segera melangkah memasuki ruangan dan memberikan teleponnya pada Quinsha yang sudah berbaring tenang, dan juga sudah memakai baju operasi.


Quinsha paham, siapa yang meminta bicara dengannya. "Sayang," Suara Rafasya menguar di pendengaran, sepasang mata Quinsha langsung berkaca-kaca. Sesaat ia tak mampu berkata-kata.


"Aku suami yang buruk banget ya. Situasi kayak gini, aku gak ada di dekatmu," ucap Rafasya. Dan Quinsha tahu kalau suaminya itu sedang berusaha menahan jatuhnya air mata.


"Sayang, kata anak kita, kamu adalah calon ayah yang luar biasa." Setelah mengumpulkan segenap kekuatannya, akhirnya, Quinsha mampu berucap kata. "Dan dia bangga pada ayahnya," lanjutnya, sambil tersenyum. Meski Rafa tak akan dapat melihat senyumnya, tapi, Quinsha tahu kalau suaminya itu paham akan keikhlasan hatinya.


"Makasih, Sayang." Suara Rafasya hampir tenggelam.


"Ridhoi aku, ya," pintu Quinsha sedetik kemudian.

__ADS_1


"Pasti. Kamu istri shaliha, dan istri yang luar biasa," jawab Rafasya dengan tulus. Sebagaimana yang ia rasakan dan ia nilai tentang diri istrinya selama ini.


"pasienmu sudah menunggu." Quinsha mengingatkan.


"Iya. Katakan pada putraku, aku yang akan mengadzaninya." Rafasya berucap sepenuh keyakinan.


"Dia menunggu itu, Sayang."


Dan sambungan pun terputus. Rafasya kembali menarik napasnya pelan, memantapkan hati untuk memulai peperangan. Perang di meja operasi. Berusaha untuk menyelamatkan nyawa seseorang yang sedang tergolek antara hidup dan mati. Dan bagaimana dengan sang istri? Rafasya menyerahkannya pada kehendak Ilahi Rabby.


Keterangan:


Heart Failur (gagal jantung) adalah kondisi dimana jantung tidak mampu lagi memompa darah ke seluruh bagian tubuh secara efektif, akibatnya darah bisa masuk ke paru-paru atau bagian tubuh lain.


CPR (Resusitasi kardiopulmoner) adalah metode darurat untuk menyelamatkan jiwa berupa respirasi atau pernapasan buatan dan kompresi dada yang digunakan untuk merestart jantung dan paru-paru.


Pemasangan ICD (Implantable Cardiovorter Defibrilator) adalah alat pacu jantung berupa perangkat kecil yang diletakkan di bawah kulit, di dada, atau di perut, untuk memantau detak jantung secara terus menerus dan mengirimkan kejutan listrik sebagai pemulihan detak jantung.


CABG (Coronary Artery Bypass Grafting) Adalah operasi jantung untuk membuat jalan pintas pada pembuluh darah yang tersumbat, dengan pembuluh darah lain yang diambil dari bagian tubuh pasien yang lainnya. Biasanya diambil dari pembuluh darah di kaki, lengan bawah, atau payudara.


(Jika ada yang keliru, mohon dikoreksi)


🌹🌹🌹


Hai, karena kangen pada Rafasya dan Quinsha, saya buat sedikit kisah mereka..Berharap semoga ada yang menemukan dan membacanya.


Sekalian juga ingin mengabarkan kalau Cerita tuan muda keluarga William sdah rilis.


__ADS_1


kunjungi, dan didukung ya..kenalan dengan anaknya Aresh, anaknya Edgard, anaknya Anthoni . juga ada anaknya Kaivan dan Stefan..


Sampai ketemu di sana ya


__ADS_2