
“Ini istri saya.” Alarick memperkenalkan Sherin yang telah berdiri menyambut keduanya.
“Sherin, ini Mas Rendi, suaminya mbak Risa!” Alarick pun memperkenalkan Rendi pada istrinya.
“Syukurlah, Rick. Kau sudah berkeluarga. Aku senang kau melanjutkan hidupmu dengan benar,” ucap Rendi sesaat setelah mereka duduk bersama.
Alarick jadi terdiam. Mungkin ia sedang mencermati ucapan Rendi barusan. Ia menikah, itu memang benar, tapi apakah ia menjalani kehidupan pernikahan dengan benar?
Biarlah hal itu Alarick yang menjawabnya sendiri. Toch mau dikasih tau juga ia tak akan percaya.
“Aku sudah tau, kalau kau pergi dari keluarga William setelah peristiwa itu.” Rendi kembali membuka pembicaraan.
“Ya, Mas. Saat itu saya sangat merasa marah dan kecewa,” sesal Alarick. Di wajahnya langsung berkelebat kabut duka. Tatapnya pun mengisyaratkan betapa ia terluka. Melihat ekspresi yang sangat mudah terbaca di wajah suaminya, Sherin segera menundukkan kepala.
“Sudahlah, Rick. Maafkanlah dirimu! Semua itu sudah berlalu. Dan waktu yang sudah berlalu itu, tak bisa diulangi lagi,” nasihat Rendi sambil menepuk pelan pundak Alarick sekedar mentransfer kekuatan kepadanya.
“Tapi setidaknya, saya masih bisa menebus kesalahan saya ‘kan Mas?”
“Bukan menebus kesalahan, tapi menunjukkan sebuah tanggung jawab,” ralat Rendi dengan tersenyum singkat.
“Maksud, Mas Rendi?”
__ADS_1
“Risa sudah cerita, kalau dia bertemu denganmu beberapa hari yang lalu di apotek. Jadi aku paham kemana arah tujuan pembicaraanmu,” jelas Rendi.
“Jadi, benar ya, Mas, kalau anak saya masih hidup?”
“Ya, dia sudah berusia 22 tahun sekarang. Sangat tampan sepertimu, Rick,” sahut Rendi.
“Ja-jadi, dia seorang laki-laki?” Alarick bertanya dengan terbata, sebab rasa haru dan bahagia yang membuncah di dada. Bahkan terlihat ada kubangan air di kedua netranya.
Rendi mengangguk mengiyakan.
“Si-siapa namanya, Mas?” Suara Alarik terdengar gugup karena detak jantungnya yang tak beraturan.
“Rafasya, kami memberinya nama demikian.”
Dari pemandangan yang tersaji di depan matanya, Sherin dapat merasakan betapa haru dan sedih telah melingkupi jiwa Alarick secara bersamaan. Rendi juga memiliki penilaian yang tak jauh berbeda, bahkan rasa bersalah juga menyerangnya seketika, karena telah ikut menyembunyikan fakta ini dari Alarick yang sudah menderita bertahun-tahun lamanya.
“Saya bisa bertemu dengannya, Mas?” tanya Alarick penuh harap.
“Dia tinggal di Jakarta ....”
“Di-di mana? Sa-saya akan mengunjunginya ke sana,”
__ADS_1
Rendi tersenyum karena Alarick yang sangat antusiasnya, bahkan segera memotong ucapan Rendi, padahal lelaki itu belum selesai dengan ucapannya.
“Tapi Sekarang, dia ada di kota ini juga Rick. Mungkin satu atau dua minggu lagi, dia akan kembali ke Jakarta.”
“Sa-saya mohon, ijinkan saya untuk menemuinya. Saya akan ke rumah Mas Rendi besok, atau saat ini juga saya akan ke sana,” tekad Alarick penuh semangat.
Rendi menggeleng. “Tidak, Rick. Jangan langsung datang. Biar aku berbicara dengan Risa. Dia sangat sensitif kalau sudah mengenai urusan putra sulungnya.”
“Ja-jadi?” gumam Alarick.
“Tunggu saja kabar dariku! Dalam dua tiga hari ini, aku akan menghubungimu!”
“Tapi Mas ...” Alarick terlihat tidak sabar. Dan sikapnya ini bisa dipaham, orang tua mana yang tak ingin segera bertemu dengan darah dagingnya. Setelah bertahun-tahun lamanya berkubang dalam sesal dan luka, kini terungkap satu fakta, bahwa masih ada satu kenangan yang berserak. Wajar jika Alarik ingin segera meraih, dan merengkuh dalam dekap yang utuh.
“Alarick, kasih waktu dulu padaku untuk meyakinkan Risa!” pinta Rendi bersungguh-sungguh. “Kamu berhak bertemu dengan putramu, dia darah dagingmu. Tapi Risa yang telah menjadi ibunya selama ini, kamu harus pikirkan perasaan Risa juga,” lanjutnya.
Ketimbang Rendi, Risa yang selama ini tidak ingin memberitahukan pada putra sulung mereka, tentang jati diri yang sebenarnya. Dengan alasan yang dapat diterima dan dipahami semuanya.
“Mas, benar apa kata mas Rendi, kita ikuti saran beliau saja. Gak papa menunggu sebentar lagi. Yang penting Sekarang semuanya sudah jelas ‘kan Mas?” bujuk Sherin. Ia paham bagaimana menggebunya perasaan Alarick yang ingin segera bertemu dengan anak kandungnya.
Akhirnya lelaki itu setuju untuk menunggu. Tidak apa-apa bersabar sedikit lagi, toch dia juga sudah kuat menahan sabar selama ini. Sabar dalam menjalani sesal yang tak kunjung berakhir dan pergi.
__ADS_1
Sesaat kemudian Rendi segera pamit, setelah Alarick memberinya ucapan terima kasih yang tak terhitung. dan kemudiannya lagi Sherin dan Alarick juga meninggalkan kedai kopi.