
Hampir semua mata memerhatikan langkah Quinsha dan Arfan yang berhasil menerobos kerumunan dengan saling menautkan tangan. Beberapa orang masih merekam gambar, dan beberapa yang lain segera membubarkan diri dari perkumpulan yang terjadi.
DI sebuah tempat yang dirasa cukup aman dan tenang. Arfan menghentikan langkahnya dan menatap Quinsha yang sedari semula menutup bahasa. Tampak gadis itu sedang menunduk, menatap lekat pada jemari tangannya yang sepenuhnya berada dalam genggaman tangan Arfan.
“Maaf.” Arfan segera melepas pegangan tangannya. Tubuhnya juga bergerak tak nyaman, seperti baru tersadar kalau telah melakukan sebuah kesalahan. “Saya hanya bermaksud menolongmu, Quinsha,” terang Arfan kemudian.
Quinsha mendongakkan wajahnya, sengaja bertatap dengan pemuda tampan yang sudah lama namanya berada dalam doa. “Terima kasih,” ujar Quinsha. Suaranya bergetar, dan air matanya mengambang. Gadis cantik itu segera menunduk dan menghadapkan wajahnya ke lain arah. Arfan menghela napasnya pelan, tatkala melihat butiran bening menggelinding di wajah cantik berhijab panjang itu.
“Kamu sedang apa di Kafe itu?” tanya Arfan sejurus kemudian.
“Menunggu Rafardhan,” jawab Quinsha jujur.
Jawaban yang membuat kening Arfan berkerut cukup dalam. Ia bahkan mengulangi kalimat Quinsha itu dalam sebentuk gumaman. “Menunggu Rafardhan.”
Bersama itu, Arfan kini merasa kalau tindakannya membawa pergi Quinsha dari sana adalah sebuah kesalahan. Jika kenyataannya gadis itu justru sedang menunggu kehadiran Rafardhan. Dan satu tanya kini membelit jiwa Arfan, ada apa sebenarnya antara Quinsha dengan si artis muda nan tampan.
“Saya dan dia ada janji bertemu di sana. Tapi sudah lewat satu jam, dia belum datang.” Quinsha menjeda kalimatnya untuk mengambil napas dan mengusap air mata. “Saya ingin minta Rafardhan menglarifikasi pemberitaan tentang kami. Karena semua itu memang tidak benar,” lanjut Quinsha. Dan entah mengapa Arfan menarik napas lega mendengarnya.
__ADS_1
“Ternyata berita itu benar-benar sudah menyebar. Saya jadi gak tau harus bagaimana,” keluh Quinsha seraya menundukkan wajahnya.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya, akan begini imbas yang ia dapatkan ketika bersinggungan dengan seorang artis terkenal.
Aneh, hal itu yang kini dirasa Arfan terkait pemberitaan yang sedang menyebar. Karena tak pernah ada klarifikasi dari pihak Rafardhan. Tiap kali ditanyakan oleh wartawan, artis muda terkenal itu hanya memilih diam lalu pergi meninggalkan, tanpa menitip satu ucapan sebagai penjelasan.
Sepertinya Rafardhan berada di pihak yang diuntungkan, hingga berita itu dibiarkan tanpa kejelasan. Tapi, dari bagian mananya berita ini menjadi keuntungan baginya? Apa dari segi uang. Ah! Semua orang pasti dapat menebak berapa jumlah pundi-pundi uang yang didapat Rafardhan tiap bulan, dari karir keartisannya yang semakin menanjak tajam.
Atau kah untuk sebuah ketenaran? Rafardhan Malik, namanya berada di jajaran paling atas, artis dalam negeri yang lagi naik daun saat ini. Sudah berapa banyak judul film dan sinetron yang ia bintangi, belum lagi berbagai iklan dari beberapa produk terkenal yang menjadikannya sebagai model, juga tak dapat dihitung dengan jari. Mencari ketenaran dalam berita kecil ini bagi seorang Rafardhan, adalah seperti menggarami lautan. Alias sia-sia belaka.
Lalu di bagian mananya, berita kecil ini menjadi keuntungan tersendiri bagi seorang Rafardhan Malik?
Maaf kami gak bisa datang ke kafe sekarang, syuting belum selesai.
Itu bunyi chat dari Adam, manager Rafardhan. Quinsha menarik napas kesal bercampur kekecewaan. ''kenapa juga membuat janji bertemu, kalau ternyata gak bisa datang' batin gadis itu.
Ia segera menggiring pandangannya pada Arfan.
__ADS_1
“Terima kasih atas bantuannya, Akhi. Gak tau apa jadinya kalau gak ada, Akhi barusan,” ucap Quinsha dengan tulus
Arfan mengangguk dan tersenyum tanpa beban. “kamu mau kemana?” tanya Arfan saat dilihatnya Quinsha hendak beranjak dari tempat itu.
“Pulang,” jawab Quinsha singkat.
“Gak jadi bertemu Rafardhan?”
“Dia gak bisa datang katanya.”
“Kenapa kamu tidak hampiri ke lokasi syutingnya saja, tidak jauh dari sini ‘kan?” lontar Arfan.
Quinsha terdiam seperti sedang menimbang. Bertemu dengan Rafardhan memang harus dilaksanakan secepatnya. Karena gadis itu sudah tidak mau didudukkan di kursi pesakitan lagi, diinterogasi seakan seorang pencuri. Karena sebuah pemberitaan yang tak benar sama sekali.
Tapi untuk menemui pemuda itu ke tempat shooting, Quinsha tak punya keberanian sama sekali. Belum lagi kalau nanti Rafardhan mengabaikan dan pura-pura tak kenal, pasti akan sangat memalukan sekali.
“Kalau butuh teman, saya akan temani. Biar kamu tidak sendirian ke sana,” tawar Arfan, ia melihat kebimbangan di wajah Quinsha atas usulnya.
__ADS_1
Karena tawaran itu, keberanian Quinsha perlahan muncul, apalagi Arfan pasti bisa diandalkan untuk menemaninya. Seperti hal nya di kafe barusan, Arfan sampai mengakui Quinsha sebagai calon istri untuk melindunginya.