Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 40


__ADS_3

Masih seputar perbincangan Sherin Mumtaza, Aura Aneshka dan Quinsha Daneen yang terjeda karena kehadiran Damaresh William.


“Bagaimana, Aresh? Lusa, aku boleh ‘kan menghadiri acara di pesantren bersama mereka?” Aura memberi isyarat pada kedua temannya. Barulah Damaresh menatap pada Sherin dan Quinsha, itu pun hanya sesaat saja--Damaresh memang type orang yang suka menjaga pandangan, atau sikap cueknya yang kelewatan-- dan lalu pertanyaan lelaki itu mengalir untuk Sherin meski tanpa melihat ke arah yang ditanya. “Diantar om Alarick ya?”


“Saya bersama Quinsha. Mas Alarick belakangan ini sangat sibuk,” sahut Sherin.


“Kalau begitu, kamu gak boleh pergi, Arra. Om Al gak bisa mengantar, dan lusa aku juga ada jadwal,” putus Damaresh.


“Aresh, Quinsha itu bisa nyetir, dan kepiawaiannya gak bisa diragukan lagi. Boleh ya,” pinta Aura.


“Aku gak bisa mempertaruhkan keselamatanmu, Arra. Kalian bertiga sama-sama perempuan. Aku gak tenang.” Damaresh tegas menolak permintaan Aura, meski istrinya itu sudah mengeluarkan rengekan terbaiknya.


“kalau begitu, pertaruhkan keselamatan Aura pada kekuasaan Allah, insya Allah aman,” sosor Quinsha. Dan ampuh, Damaresh jadi terdiam berpikir mendengarnya.


Memang hanya Allah saja Yang Maha Berkuasa Menjaga dan Menyelamatkan hamba-Nya dari segala hal yang mafsadat dan mudharat. Maka sebaiknya berserah saja padaNya. Tapi tentunya dengan disertai ikhtiar juga.


"Nah, benar kata Quinsha. Allah yang menjamin keselamatan tiap-tiap hambaNya yang berjalan di jalan kebenaran," timpal Aura


“Dengan itu, Percayalah! kami akan baik-baik saja,” lanjut wanita itu dengan senyuman penuh harap.


“Baiklah.” Dan akhirnya Damaresh mengizinkan setelah terlebih dahulu menarik napas. “Tapi dengan satu syarat,” lanjutnya.


“Syarat apa?” tanya Aura mulai dengan perasaan was-was. Ia kawatir suaminya yang cenderung gak bisa ditebak ini akan memberikan persyaratan yang aneh-aneh--sekiranya tak dapat dijalankan oleh Aura--dengan demikian, ijin yang diberikan hanya palsu belaka.

__ADS_1


“Besok harus periksa dulu ke dokter! Kesehatanmu, tekanan darah, suhu tubuh, semua harus dipastikan aman untuk dibawa perjalanan.”


“Aresh, jangan berlebihan, deh,” sungut Aura. Meski sebelumnya ia sempat menarik napas lega, karena yang terjadi tak seperti yang diduga. Tapi tetap saja rentetan pemeriksaan yang disebut oleh Aresh itu terlalu berlebihan menurutnya.


Bahkan terlihat Quinsha dan Sherin tersembunyi menahan tawa.


"Aku cuma mau ke pesantren, bukan mau naik haji," kata Aura.


“kenapa? Kamu gak suka?”


"Bu-bukan gitu," gugup Aura.


"Lalu?"


“Aku hanya ingin menjaga dengan baik istriku, sebagai sebuah anugerah terindah yang telah Tuhan berikan untukku. Apa kau keberatan?” Damaresh menatap lembut manik mata istrinya.


Dari mana bisa keberatan, mendengar ucapan itu saja, kedua belahan pipi Aura sudah bersemu merah, sepasang matanya berbinar cerah. Maka jangan ditanya seberapa banyak bunga-bunga surga yang kembali bermekaran di hatinya. Yang menandakan betapa ia sangat berbahagia dengan ucapan Damaresh kepadanya.


Kebahagiaan terbesar bagi seorang istri, adalah ketika dirinya sangat dihargai. Bukan karena dipenuhi dengan semua vasilitas yang serba mewah, didandani bak ratu dengan aneka perhiasan gemerlap. Bukan, tapi ketika keberadaannya dianggap sebuah anugerah. Amanah yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya dari Sang Maha Indah.


Bukankah, sebaik-baiknya lelaki, adalah yang paling baik terhadap wanitanya. Dalam tanda kutip di atas label halal ya.


Kembali pada perbincangan mereka yang terjadi di gazebo halaman samping Alarik William.

__ADS_1


Bahkan Sherin segera menundukkan kepalanya, mendengar kalimat indah Damaresh yang terucap untuk Aura


“Ikut meleleh?” lagi, Quinsha dengan usil bertanya pada Sherin.


“Mencair,” sahut Sherin.


“Pernah diperlakukan gitu juga, gak, sama Tuan?” Keusilan Quinsha makin menjadi-jadi saja. Tak tahukah Quinsha, kalau diam-diam Sherin sedang nelangsa teringat rumah tangganya. Hanya tak terlihat saja, kalau wanita itu lagi mengurut dada.


“Sering, tiap hari,” jawab Sherin dengan mantap. “Dalam mimpi,” lanjutnya lagi sambil terkekeh geli.


"Aku harus sedih, atau ketawa nih?" Quinsha menatap Sherin.


"Terserah! bebas aja," sahut Sherin.


Quinsha segera merangkul pundak sahabatnya itu seraya berucap. "Gak ada sesuatu yang sia-sia, Rin. Allah sendiri yang menjamin hal itu. Akan ada waktunya kamu menuai kesabaranmu."


"Terima kasih, Sha. Dan kamu juga harus tahu, kalau aku baik-baik saja," ucap Sherin dengan senyum yang terbit di bibir mungilnya.


"Ya, aku percaya. Kau wanita kuat yang luar biasa."


"Aamiin."


"Itu, tuanmu datang!" tunjuk Quinsha dengan isyarat mata pada seorang lelaki tampan berusia empat puluh tahunan yang hadir juga di tempat itu. Perbincangan berlanjut sesaat antara Damaresh dan Alarick sebelum suami Aura itu berpamit pulang bersama istrinya, dan tak lama Quinsha pun melakukan hal serupa.

__ADS_1


__ADS_2