Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 63


__ADS_3

90 % bangunan pabrik ludes terbakar, maka jangan tanyakan bagaimana dengan isinya. Untung saja dalam kejadian tersebut tidak menelan korban jiwa. Beberapa pekerja hanya mengalami luka bakar dari yang ringan sampai yang serius. Tapi dari semuanya, segera mendapatkan penanganan medis, berkat kesigapan Damaresh dan Alarik. Juga dibantu, Sherin, Aura dan Claudya.


Aura dan Claudya ada di sana?


Iya, Claudya tengah berkunjung ke rumah Damaresh bersama Aura yang letaknya memang di area perkebunan milik Alarik saat kebakaran itu terjadi. Mereka mengetahuinya dari beberapa pekerja pabrik yang berlarian panik, lewat di jalan depan rumah.


Aura dan Claudya gegas pergi ke sana. Lalu bersama Sherin serta beberapa orang yang lain, mereka segera menyumbangkan tenaganya.


Dua jam setelah api berhasil dipadamkan.


Wajah-wajah penuh kelelahan Tergambar dari mereka yang sedang duduk di ruang depan rumah Alarick yang megah. Masih tak ada apapun yang bisa diucapkan oleh putra bungsu William itu, mengingat pabriknya yang tiba-tiba terbakar, setelah beberapa hari sebelumnya semua barang produksinya di tolak di pasaran.


Damaresh dengan segala kejelian otak bisnisnya, sudah berhasil mendapatkan pasokan baru untuk produksi teh kemasan Alarick itu di daerah sumatera dan kalimantan. Tapi kini barang-barang yang sudah siap terkirim itu, ludes, dan habis terbakar.


"Mommy, bawa Arra pulang lebih dulu, aku masih ada keperluan dengan om Alarick,"


Pinta Damaresh pada Claudya yang segera mengangguk setuju.


"Tidak, Aresh," tolak Aura dengan cepat.


"Aku ingin di sini dulu."


"Kau harus istirahat, Arra," tegas Damaresh yang melihat istrinya itu begitu sigap membantu dari tadi bersama Sherin dan Claudya. Aura pasti merasa lelah, itulah yang dilihat oleh Damaresh.


"Aku gak merasa lelah, aku ingin di sini saja," tolak Aura sekali lagi.


"Jangan bantah, Arra. Kau harus istirahat, kau tidak boleh terlalu lelah."


Aiih..sikap posesif Aresh kumat di saat yang tak tepat.


"Aku gak lelah, Aresh, aku baik-baik saja."


"Sayang, please!"

__ADS_1


Lembut ucapannya, tapi tajam tatapannya.


Itulah Damaresh saat ini pada Aura yang tak ingin perintahnya ditampik.


"Aku ingin tetap di sini menemani Sherin," ucap Aura dengan suara melemah.


"Aku gak papa, Aura. Kau pulanglah dan beristirahat," ucap Sherin dengan cepat. Tapi Aura hanya menggeleng.


"Aura, Sherin, ayo kita masuk ke dalam dan beristirahat," ucap Claudya menengahi.


"Aresh, biar Aura di sini dulu, aku yang akan menjaganya," ucap Claudya lagi yang tak mendapatkan bantahan dari Damaresh.


"Om, aku minta maaf," ucap Damaresh setelah kini mereka hanya tinggal berdua saja.


"Minta maaf untuk apa?" tanya Alarik dengan tatapan tak mengerti


"Semua yang telah terjadi," sahut Damaresh.


"Apa semua ini salahmu?"


"Apa maksudmu, Aresh?"


"Apa Om Al, benar-benar tak memahami?"


Damaresh malah balik tanya.


Alarick sejenak terdiam, lalu menatap Damaresh sambil bertanya yang tak diiringi dengan sepenuh keyakinan.


"Papa, yang ada dibalik semua ini?"


"Ya," sahut Damaresh tegas.


"Apa tujuannya, mengapa baru mengusikku sekarang?" tanya Alarik dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Bukan Om Al, tapi aku. Karena aku ada di sini bersamamu," jawab Aresh.


"Kamu?"


Alarick menatap Damaresh seakan tak percaya, lalu kemudian diam dalam maya pikiran yang penuh tanya. "Tidak Aresh. aku tidak mau berspekulasi," ujarnya kemudian.


Terasa berat dalam pikirannya jika benar hal itulah yang terjadi. Sengaja membakar pabrik, menurutnya itu tindakan yang sangat keji.


"Aku sudah menyelidikinya, Om. Dan aku menemukan bukti," terang Damaresh.


"Bukti apa?"


"Barang-barang dari pabrik yang ditolak oleh pasar kemarin, itu semua atas perintah kakek." Damaresh meraih Iphone dalam saku baju, menscroll layarnya sesaat dan memperlihatkannya pada Alarik.


Putra bungsu William itu terdiam dengan tatapan nanar, setelah melihat semua yang bukti yang diperlihatkan Damaresh padanya.


"Dan kebakaran yang terjadi sekarang, adalah rentetan dari ancaman kakek juga. Kebakaran ini faktor kesengajaan. Menurut saksi mata, api berasal dari gudang penyimpanan. Tapi menjalar dengan cepat layaknya api yang melewati partikel senyawa seperti bahan bakar, bukan barang yang mudah terbakar," beber Damaresh mengungkap apa yang ditemukannya tentang kejadian kebakaran itu.


Alarik masih diam mendengarkan, sedangkan degup jantungnya terasa lebih kencang. Perasaannya ingin menolak kalau ini adalah faktor kesengajaan, tapi penjelasan Damaresh mulai mengarah pada hal yang demikian.


"Setengah jam sebelum kejadian, seorang pekerja memergoki dua orang petugas ada di gudang penyimpanan. Mereka mengaku ditugaskan oleh Om Al, untuk memeriksa bahan baku di sana," terang Damaresh lagi berdasar informasi yang di dapat dari beberapa orang, setelah api berhasil dipadamkan oleh petugas Damkar.


"Aku tidak pernah menyuruh siapa pun untuk memeriksa ke gudang. Karena 'kan sudah ada penanggung jawabnya masing-masing," tegas Alarik.


"Itulah masalahnya, Om. Ada pekerja lain yang melihat kalau dua orang tersebut datang bersamaan pakai mobil hardtop. Yang dua orang menemuimu di Kantor, dua orang yang lain pergi ke Pabrik."


"Iya tadi aku memang ada tamu yang ingin mengajukan kerja sama, mereka dari perusahaan ..." Alarik memutus ucapannya, karena lupa pada nama perusahaan yang disebutkan oleh Hadi dan Dion--dua orang tamunya tadi.


"Ini berkas yang mereka bawa?" Damaresh meraih amplop coklat besar berisi berkas dari atas meja.


"Iya, benar. Kau mengambilnya dari kantor?"


Damaresh mengangguk. "PT Wana Putera, itu adalah perusahaan siluman, Om. Perusahaan fiktif."

__ADS_1


"Apa!?"


__ADS_2