Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 92


__ADS_3

“Apa kamu yakin?”


“Aku ... kalau ditanya masalah yakin atau tidak, aku belum bisa jawab, Papa. Tapi aku merasa, kalau saat ini, hal ini yang harus aku lakukan," jawab Rafardhan.


Alarik menepuk pundak putranya itu dengan senyum. “Papa paham, Nak dengan situasimu saat ini. Ini mungkin sama seperti saat papa, memutuskan untuk menikahi Sherin. Saat itu, papa juga harus melakukannya ... ya walaupun papa tidak ingin,” urai Alarik mencoba menyikapi semua ini dengan bijak.


Hanya sekitar 30 menit setelah menerima telepon, Alarik dan Sherin datang ke rumah Quinsha. Mereka sangat terkejut dengan apa yang disampaikan Firda dan Azman terkait keputusan Rafardhan. Tapi keduanya sama-sama menunjukkan kebesaran jiwa sebagai orang tua terhadap keputusan anaknya.


Tanpa dikomando, dan tanpa harus berbagi tugas, Sherin segera menemui Quinsha yang sedang membanjiri kamarnya dengan air mata. Sedangkan Alarik bicara berdua dengan Rafardhan di teras.


“Sepertinya kasusnya beda, Pa. Jika Papa dulu menikahi karena merasa bertanggung jawab, tapi aku sekarang, ingin menikahi Quinsha karena aku ingin bersamanya,” cetus Rafardhan yang membuat Alarik terhenyak dan tak bisa berkata untuk beberapa jenak.


“Dengan segala perbedaan yang ada, Nak?” tanya lelaki yang masih terlihat sangat tampan itu kemudian pada Rafardhan.


“Iya,” tegas Rafardhan disertai anggukan.


“Baiklah, Papa paham sekarang. Hanya saja, Nak, dengan pernikahan ini, pasti akan ada sesuatu yang dipertaruhkan. Misalnya, kariermu ... apa kau sudah siap dengan itu?”


“Menjadi artis itu bukan sepenuhnya menjadi tujuanku, Papa. Aku hanya menjalankan kesempatan yang sudah diberikan oleh Allah, kepadaku sekarang,” ungkap Rafardhan. Sepertinya pemuda itu sudah mendapatkan kemantapan dalam keputusan yang ia buat secara dadakan.


Sekali lagi, Alarik menepuk pundak putra tampannya itu dengan senyum. Dalam hati ia bersyukur dan merasa bangga, telah dikaruniakan seorang anak yang memiliki jiwa matang di usianya yang masih relatif muda.


“Tapi dalam hal ini, Papa tak sepenuhnya punya hak untuk memberi restu. Karena kamu adalah putra mas Rendi dan mbak Risa juga, Rafa.”


Rafardhan mengangguk. “Aku juga sudah menghubungi ayah dan bunda untuk datang kesini, Papa.”


Kini hanya tinggal menunggu kedatangan Rendi dan Risa. Entah bagaimana keduanya menyikapi hal ini, Alarik tak bisa membayangkannya. Biarkan saja semuanya tiba, dan lalu bisa terlihat secara fakta. Dari pada mengedepankan praduga yang terkadang menjerumuskan pikiran dalam ketaknyamanan yang disengaja. Karena tak pernah ada kebenaran dalam sebuah prasangka.


Sedangkan di dalam kamar Quinsha, Sherin masuk ke ruangan itu secara pelan. Ia lalu duduk di tepi pembaringan, di samping tubuh Quinsha yang bahkan sampai berguncang karena isak tangisan. “Sha!” panggilnya lembut. Tangan Sherin lalu terulur untuk mengusap pundak sahabatnya itu.


QÙinsha segera berbalik, menatap Sherin dengan penuh harap. “Tolong aku, Rin. Jangan biarkan semua ini terjadi. Tolong dicegah!”

__ADS_1


“Yang mana, yang harus aku cegah agar tak terjadi?” tanya Sherin pelan.


“Apa yang ingin dilakukan oleh Rafardhan. Aku tidak ingin menikah dengannya.”


“Itu artinya, kau akan menikah dengan dosen itu, calon pilihan pak Azman?” Sherin menata lekat wajah Quinsha yang basah oleh air mata.


“Tidak, tidak juga.” Quinsha menggeleng kuat.


“Faktanya sekarang Sha. Kamu hanya diberi dua pilihan. Menikah dengan Rafa, atau menikah dengan calon pilihan pamanmu,” tegas Sherin.


QUinsha menggeleng-geleng pelan. Dan air matanya kembali berguguran. Batinnya terus menjerit dalam tanya, kenapa dia harus terjebak di antara dua pilihan yang sama-sama tak menyenangkan. Sebegitu memprihatinkan kah, kesendiriannya? Hingga didakwa untuk segera menikah saat ini juga.


‘Lakon hidup apa ini ya Allah. Dunia sungguh sedang mengajakku bercanda. Merampas dengan paksa orang yang kupuja, dan mencampakkanku pada pangkuan orang yang tak kucinta’ lontaran tanya terbersit tanpa kata, terucap tanpa suara, seiring derai air mata yang kian membanjiri wajahnya.


“Quinsha. Aku tak hendak mendorongmu untuk setuju dengan tindakan Rafa. Aku juga tak ingin mengatakan kalau dia lebih baik dari calon yang belum kau kenal itu. Tapi aku hanya ingin mengingatkanmu satu hal, yang mungkin saat ini kau sedang lupa. Bahwa di atas semua kejadian, sudah lebih dahulu berlaku ketetapan yang tak bisa kita lawan.”


Quinsha terdiam, hanya tatapannya yang menyapu wajah Sherin tanpa melepas pandang. Hatinya mulai terketuk dengan apa yang sahabatnya itu cetuskan.


Beberapa saat berselang, seusai hening memenuhi ruangan, ketika Quinsha dan Sherin sama-sana memilih diam. Dari arah pintu kamar terdengar suara ketukan.


Sherin beranjak membuka pintu dan tatapannya membentur seraut wajah tampan Rafardhan yang berdiri di depannya. Sesaat kecanggungan menghinggapi keduanya. Tapi Sherin segera mengikisnya dengan tersenyum lembut seraya melontar tanya.


“Apa mbak Risa dan mas Rendi sudah datang?”


RAfardhan mengangguk singkat. Tatapannya menemukan Quinsha yang duduk di tepi pembaringan dengan kepala tertunduk dalam. “Saya boleh bicara dengan Quinsha?”


“Tentu saja,” sahut Sherin. Wanita itu segera menepi dan hendak beringsut keluar. Namun, panggilan Rafardhan mencegah langkahnya.


“Kakak tidak usah keluar! Tetap di sini saja, sekalian menjadi saksi.”


Sherin tercekat tapi kemudian segera tersenyum. Rupanya Rafardhan memutuskan memanggilnya kakak saja dari pada ibu atau mama.

__ADS_1


RAfardhan kemudian masuk ke dalam kamar. Namun, hanya beberapa langkah saja ia berhenti, tatapannya menyapu wajah Quinsha dan enggan teralih. “Quin!” panggilnya, meminta atensi Quinsha.


Sesaat tatap mata keduanya bertemu, beradu dalam sekian kata yang tak terucap, berpadu dengan sekian bahasa yang tak terungkap. Hingga Quinsha memilih menarik diri dengan beralih.


“Semua orang tua saya sudah berkumpul di sini. Dan pada dasarnya mereka merestui niat saya untuk menikahi kamu,” ucap Rafardhan. Ia tahu meski Quinsha tak menatapnya, tapi gadis itu mendengarkan dengan seksama.


Terkait dengan ucapan Rafardhan. Rendi dan Risa memang telah datang. Sebagaimana Alarik, Rendi menyikapi semua ini dengan bijak dan paham. Beda dengan Risa yang tak mengatakan apa pun kecuali hanya memeluk sang putra kesayangan.


Bagi Risa, tak masalah Rafardhan memilih menikah dengan siapa. Yang penting pemuda tampan itu tak melepaskan identitas sebagai anaknya.


“Tapi di sini, saya perlu bertanya kepadamu. Karena saya tidak mau disebut memaksa untuk menikahimu. Jadi, apakah kamu ijinkan saya untuk menikahi kamu atau tidak?” tanya Rafardhan dengan tegas.


Quinsha diam. Pastinya, dia tak segera menemukan jawaban. Sebenarnya bukan tak menemukan, ia tahu kalau harus menjawab tidak. Tapi untuk menjawab seperti itu rasanya banyak hal yang harus ia pertimbangkan.


Waktu berlalu, dengan Quinsha tetap diam. Rafardhan juga enggan berlalu, karena jawaban Quinsha sangat ia nantikan. Hingga kemudian, gadis itu memberikan anggukan. Dan satu jawaban singkat dilafadzkan.


“Iya.”


Maka, setelah Quinsha memberikan persetujuan, akad nikah pun dilangsungkan. Antara Rafasya Aditya Zaidan dan Quinsha Daneen, kini telah resmi berstatus sebagai pasangan halal.


Semoga Samara, Rafardhan dan Quinsha.


******


*******%%%%


*********%%%%%%%


Hai semuanya..maaf ya, karena kesibukan yang tak bisa ditunda, kemarin jadi libur up..senang deh, pas lihat kolom komentar, ada yang menanyakan dan menantikan aku up. ternyata meski yang baca hanya sedikit, cerita Quin dan Rafa cukup dinanti juga....


.terima kasih untuk kalian semua..🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2