
Rumah Arfan cukup besar dengan halaman luas yang hijau. Begitu menjejakkan kaki di sana, hanya keindahan saja yang di rasakan oleh Quinsha. Mungkin kah setelah ini, ia akan menjadi salah satu anggota keluarga yang akan ikut menjaga keindahan rumah ini?
Arfan tadi mengatakan kalau akan mengenalkan gadis itu pada seluruh keluarganya, apa salah jika pikiran Quinsha sudah berkelana jauh setelah mendengar ucapan itu.
Ingatkan Quinsha untuk tak mendahului apa yang terjadi. Ingatkan pula dia bahwa Arfan sudah punya calon istri. Dia, calon istri Arfan, wanita cantik berparas lembut yang tengah duduk di depan Quinsha sekarang.
“Saya, Zahwa.Tunangannya mas Arfan.” Itu kalimat yang diucapkan gadis cantik itu pada Quinsha lima belas menit yang lalu.
Tak ada kata yang terucap dari bibi Quinsha, kecuali tatapannya yang segera memindai pemandangan indah di depannya. Bersamaan dengan tangannya yang menjabat tangan Zahwa, gugur sudah segala dugaan indah yang sempat berbaris dalam kepala Quinsha, perihal maksud Arfan mengenalkannya pada seluruh keluarga laki-laki tersebut.
Lima belas kembali berlalu, setelah lima belas menit sebelumnya sudah membelit jiwa Quinsha dalam bisu. Jadinya, sudah tiga puluh menit terdiam tanpa kata. Ia hanya setia mendengarkan setiap penuturan ibunda Arfan, yang menjelaskan apa maksud Quinsha diminta datang ke rumah mereka.
“Sebenarnya, aku sendiri yang ingin menemuimu, Nak. Dan bertanya langsung hal yang sebenarnya. Tapi, aku sedang kurang sehat ... ya, semua karena aku sangat terkejut mendengar berita itu.” Demikian penuturan ibunda Arfan di ujung penjelasannya yang panjang.
Kini, semua pandangan dari mereka yang ada dalam satu ruangan itu tengah tertuju pada Quinsha. Kecuali Arfan yang memilih suasana di luar rumah sebagai pelabuhan tatapan, melalui jendela yang terbuka lebar.
“Benar, seperti apa yang sudah dijelaskan oleh Arfan, apa pun yang sudah ia sampaikan itu adalah benar,” ucap Quinsha dengan suara yang sedikit bergetar. Padahal sebelum mengucapkan kalimatnya, ia sudah menarik napas dalam-dalam agar kuat dan tegar. Namun nyatanya, jiwanya yang terguncang, tak sepenuhnya dapat di sembunyikan.
Mendengar hal itu, terlihat Arfan menatap Quinsha dan melemparkan senyuman tipis. Entah itu sebagai bentuk apresiasi atau ucapan terima kasih. Tapi apa pun maksud senyum itu, terlihat hambar di mata Quinsha. Hampa dan tak bermakna.
“Kami hanya berteman, dan tak akan pernah lebih dari itu,” ungkap Quinsha. Dari sekian kata yang sudah tersusun untuk diucapkan, kalimat itu saja yang dipilihnya sebagai penjelasan.
__ADS_1
“Mbak, kalau saya pribadi, percaya pada mas Arfan. Tapi keluarga saya yang menuntut penjelasan,” tutur Zahwa sambil menatap lembut pada Quinsha.
Bisa dipahami keluarga mana yang tak terguncang dan menuntut jawaban, bila tau calon suami anaknya mengakui wanita lain sebagai calon istrinya di media sosial.
Semua kejadian itu bermula saat Arfan menyelamatkan Quinsha dari para fans Rafardhan di sebuah kafe, dan mengakuinya sebagai calon istri. Ternyata di antara mereka ada yang merekam pengakuan Arfan tersebut dan mengunggahnya di media sosial.
Selayaknya sebuah berita di dunia maya yang tak hanya berjalan ataupun berlari tapi terbang dengan cepat yang bahkan mengalahi kecepatan pesawat. Akhirnya berita itu sampai pada salah satu keluarga Zahwa, calon istri Arfan yang sebenarnya.
Pihak keluarga Zahwa segera menemui keluarga Arfan untuk meminta penjelasan. Ibunda Arfan langsung syok mengetahui kabar kalau anaknya punya calon istri lain, selain Zahwa, yang namanya sudah tertera di surat undangan mereka.
Itulah alasannya kenapa Arfan sampai memohon pada Quinsha untuk ikut ke rumahnya. Tapi salahnya, lelaki itu tak memberikan penjelasan secara benar tentang maksud dan tujuan. Ia bahkan memakai kalimat yang memicu pada kesalah pahaman.
Kembali pada Zahwa yang mengatakan kalau ia lebih percaya pada penjelasan Arfan, tapi keluarganya yang menuntut jawaban.
“Sudah selayaknya, kamu lebih percaya pada calon suamimu, Mbak,” tukas Quinsha sambil melemparkan senyuman. Gadis itu kemudian mengalihkan tatapan pada ibunda Arfan.
“Ibu, apakah penjelasan saya sudah dirasa cukup? Kalau begitu saya mohon pamit.” Tanpa tunggu jawaban, Quinsha segera bangkit.
“Kenapa terburu-buru, Nak? Kita makan bersama dulu yuk,” ajak wanita baya itu yang segera berdiri menyejajari Quinsha.
“Iya, Mbak. Kita makan dulu bersama-sama. Kalian dari yayasan langsung ke sini ‘kan?” timpal Zahwa. Gadis cantik itu sepertinya tipekal wanita yang mudah akrab dan ramah.
__ADS_1
QUinsha menggeleng sambil tersenyum. “Maaf, saya sedang terburu-buru. Ibu saya juga sudah menunggu.”
QUinsha segera membalikkan tubuh untuk segera berlalu. Namun baru dua langkah ia berbalik dan menatap Zahwa. “Selamat ya, semoga nantinya kalian dapat membina rumah tangga yang ‘samara’.”
“Terima kasih, Mbak. Tapi ngucapinnya nanti aja ya, setelah di pelaminan. Aku tunggu kedatangan, Mbak Quisha,” sahut Zahwa seraya menjabat tangan Quinsha yang hanya menanggapinya dengan senyuman tipis.
“Quinsha tunggu!” lagi-lagi langkah Quinsha terjeda karena panggilan Arfan itu. “Saya antarkan kamu.”
“Terima kasih, Akhi. Biar saya pulang sendiri,” tolak Quinsha dan ia segera melangkah pergi.
*******
Mohon maaf ya, untuk kemarin. bab 46 sampai di up dua kali. ini gara-gara jaringan lelet di rumahku.
CTB ini sudah menjadi karya kontrak, sejak beberapa hari yang lalu, harapannya dgn menjadi karya kontrak, pembacanya bisa bertambah. Eh ternyata tetap segitu. Aku jadi mau tanya pada kalian para pembacaku, yang meski jumlahnya sedikit tapi sangat berarti bagiku.
cerita ini mau lanjut apa gak ya?
Auto turun semangat nih..butuh suntikan vitamin, berupa like, koment, vote dan gift. Rate bintang lima juga ya..dan yang tak kalah penting tekan love nya.
matur nuwwun..
__ADS_1