
Seorang wanita cantik berwajah teduh, seteduh hijab yang berjuntai di tubuhnya, melangkah menghampiri mereka. Dalam rangkulannya terlihat seorang anak laki-laki berusia sekitar dua tahun, sangat tampan dan elok wajahnya. Dan tangan kanan wanita itu juga menggenggam jemari anak kecil yang juga berusia sekitar dua tahun, dengan paras yang juga sangat tampan rupawan.
“Erald.” Damaresh gegas menyongsong seraya merentang dua tangan. Bocah kecil itu pun berlari ke arahnya dengan menyematkan panggilan, “Papa.” Dan segera tubuh mungilnya berada dalam pegangan tangan Damaresh yang lalu mengangkatnya tinggi-tinggi seiring pekikan ngeri sekaligus geli dari sang buah hati, sebelum kemudian tubuh mungil itu mendarat dalam pelukan sang papa.
Interaksi ayah dan anak itu sukses mendatangkan senyum di wajah Rafardhan dan Alarik yang memerhatikan dengan seksama, demikian juga Aura. “Elvan, gimana sayang, masih panas?” Aresh mengulurkan tangannya pada anak dalam dekapan Aura, meraba keningnya dan mencium pipi gembulnya.
“Sudah mendingan, Papa. Hanya dia masih lemas aja,” sahut Aura sambil mengusap-usap kening anak dalam dekapannya itu.
Pertanyaannya sekarang, mengapa ada dua anak yang bersama Aresh dan Aura. Apa Aura melahirkan anak kembar?
Para pembaca Cintaku Terhalang Tahtamu, apa menurut kalian Damaresh dan Aura punya anak kembar? Kalau memang benar, dua anak laki-laki yang bersama mereka itu wajahnya tidak sama, tak sebagaimana wajah anak-anak kembar pada umumnya. Memang sama-sama sangat tampan, ciri khas keluarga William, tapi wajah keduanya tidak memiliki kesamaan.
“Gak perlu dirawat?” tanya Damaresh dengan raut wajah kawatir.
“Aku akan merawatnya sendiri di rumah,” sahut Aura, selanjutnya wanita itu melemparkan senyum pada Alarik dan Rafasya. “Bagaimana Quinsha?” tanyanya.
“Masih di dalam,” sahut Rafasya.
“Apa cukup serius?” tanya Aura kawatir.
ALarik dan Rafasya menjawab hampir bersamaan. “Tidak.”
“Iparmu itu saja yang kawatirnya berlebihan,” tuding Damaresh pada Rafasya, yang membuat dokter tampan itu berdecak kesal, karena Aresh yang belum berhenti meledeknya.
“Papa juga sering gitu kok, kawatirnya gak ketulungan,” ucap Aura pada suaminya itu yang segera mendatangkan gelak tawa dari Rafardhan.
“Aku sudah memutuskan kalau mereka itu sama saja, tapi masih tetap saling ledek.” Alarik berdecak dengan kelakuan anak dan keponakannya itu.
Pintu ruang perawatan dokter Prita terbuka, Quinsha keluar dari sana diiringi Sherin dan Prita sendiri. Sudah bisa ditebak pasti, kalau tubuh Quinsha segera berada dalam pelukan Rafasya yang sedari tadi kekawatirannya sudah tingkat dewa.
__ADS_1
Sedangkan Alarik segera menyambut Sherin dan ganti menggendong putri mereka yang ada dalam dekapan Sherin. “Capek, sayang? Zara gak mau turun dari tadi?” Alarik mengasak kepala istrinya yang tertutup hijab.
“Dia main kok di dalam, baru aja yang minta gendong,” jawab Sherin seraya sedikit membenahi anak rambutnya yang keluar di bagian kening. Alarik segera membantu istrinya itu dan masih mengusap-usap kening Sherin.
“Ckk.” Damaresh berdecak pada Rafasya yang masih enggan melepas pelukan dari tubuh Quinsha. Karena ulahnya ini, dokter tampan itu menoleh. “Udah selebrasinya? Itu dokter Prita mau ngomong.” Damaresh memberi isyarat pada dokter Prita yang tampak diam dengan tatapan canggung karena disuguhi pemandangan seperti ini di depan mata.
Rafasya segera melepas pelukan sambil senyum. Namun, tatapannya jadi teralih pada Alarik yang memperlihatkan atraksi sangat manis dengan istrinya di depan mereka. “Aih, Papa. Yang bucin itu bukan Cuma aku sama Kak Aresh, tapi papa juga,” ucapnya sambil berdecak.
ALarik hanya bisa tertawa dengan ucapan anak sulungnya itu.
“Benar, laki-laki dari keluarga William memang lelaki sejati yang punya cinta luar biasa untuk istri,” ucap dokter Prita. Dokter Obgyn itu memberanikan diri untuk mengemukakan penilaian yang terpendam sejak beberapa lama. “Terutama ini, Tuan Damaresh, Tuan Alarik, dan Dokter Rafasya,” lanjut dokter cantik itu dengan senyum kagum.
“Dan yang lebih kagum lagi, pada Nyonya muda bertiga. Kalian di persatukan oleh takdir sebagai sahabat, dan direkatkan lagi sebagai keluarga. Luar biasa.” Prita terlihat tak mampu menyembunyikan kekagumannya. “Kalau boleh tau, apa doa kalian selama ini? Sehingga Tuhan, menggariskan Takdir seindah ini. Punya lelaki tampan dan penuh cinta itu sungguh luar biasa,” ungkap Prita dalam seutas kata tanya.
Kira-kira, apa yang diungkap oleh Prita memang benar adanya. Cinta memiliki kedudukan paling tinggi di antara sifat baik yang lainnya. Berapa banyak perseteruan terjadi, dan hanya bisa didamaikan dengan cinta. Berapa banyak permusuhan dan kebencian yang dilakoni, semua bisa terhempaskan dengan rasa cinta.
Seperti potret keluarga William, sebelum mereka memutuskan untuk menjadikan cinta sebagai landasan. Seberapa banyak persaingan, kebencian, dendam, pengkhianatan, dan segala hal yang membuat hidup terasa beban dan menghimpit badan.
Cinta yang memiliki ragam bentuk, tapi bermuara pada satu rasa, rasa tertinggi dari manusia pada sesamanya, dan dari manusia pada Tuhannya. Sekiranya kita terlahir tidak dibekali dengan harta, cukuplah cinta yang menjadi harta terindah yang kita punya.
Cinta adalah terindah dari Sang Maha Cinta.
Dan mengenai doa yang ditanyakan oleh dokter Prita pada ketiga sahabat yang kini naik status menjadi keluarga. Sebenarnya, doa mereka hampir sama, meminta jodoh yang terbaik untuk mereka menurut Allah. Yang terbaik, bukan berarti harus satu frame, yakni berasal dari latar keluarga dan latar pendidikan yang sama, yaitu pesantren.
Yang terbaik, adalah apa yang akan menjadi kebaikan untuk kehidupan mereka secara berkesinambungan. Contoh, Aura, dengan kehadirannya dalam keluarga William, ia menjadi perintis kebaikan dan menjadi pelopor cinta.
Sherin untuk Alarik, ia menjadi pengobat lara dan terhapusnya kebencian antara anak dengan ayahnya.
Quinsha untuk Rafasya, ia menjadi perantara berkumpulnya keluarga yang hampir mustahil untuk disatukan karena sudah dikuasai kebencian dan dendam.
__ADS_1
Memang dalam perjalanannya, mereka tak serta merta temukan bahagia, kecuali setelah melewati halangan dan rintangan, serta perjuangan yang terdiri dari tetesan keringat dan air mata. Tapi itulah hidup. Bahagia itu bukan proyek asal jadi. Ia butuh diusahakan, dan diyakini. Kita makan mie saja yang katanya instan, tetap masih perlu pengolahan. Apalagi menuju hidup bahagia yang didambakan.
Akan tetapi bagi orang yang punya modal besar, yaitu berupa keimanan dan cinta, sebesar apa pun ujian akan tetap bisa dilalui dengan gemilang. Aura Aneshka, Sherin Mumtaza, dan Quinsha Daneen sudah membuktikannya.
Mereka kini hidup sebagai nyonya muda dari kalangan keluarga terpandang, hidup bergelimpangan cinta dan kemewahan. Dan bahagia? Itu sudah dipastikan.
Semoga ke depan, mereka bertiga tetap bisa menjalankan hidup dalam satu harmoni cinta, agar kebahagiaan tetap tertanam selamanya.
END.
Semoga kisah ini bisa menginspirasi dalam hal kebaikan, serta menjadi bacaan yang tak hanya berbau hiburan, tapi juga pembelajaran. Itu harapan yang tersemat dalam hati saya, di setiap kisah yang saya tuliskan. Berharap dalam setiap ketikan ada manfaat yang bisa diberikan, dan bukan hanya dosanya saja yang diwariskan.
Karena tulisan itu abadi. Sereceh apa pun sebuah karya yang dibaca, ia akan tetap hidup dan membekas di hati atau setidaknya pikiran para pembacanya. Karena nya saya menekankan pentingnya menyampaikan pembelajaran dalam setiap tulisan. Hingga seperti inilah bingkai tulisan saya, yang mungkin jauh dari ekspektasi para pembaca. Dan bukan termasuk jenis tulisan yang disukai oleh mayoritas pembaca di Platform ini.
Tapi saya yakin, tulisan saya dalam sebuah karya cerita akan ada peminatnya tersendiri juga. Ada yang menyukainya juga, meskipun tak akan sebanyak cerita-cerita yang lagi diminati saat ini.
Terakhir, ungkapan terima kasih saya pada para pembaca setia, yang selalu memberikan kebaikan dan cinta dalam tindakan nyata..seperti like, fav, komen, gift, rate, vote juga. Banyak cinta untuk kalian, adanya kalian adalah penyemangat untuk saya berkarya semakin baik lagi ke depan. 💞💞💞🌹🌹🌹🌹🌹🌹💕💕💕💕
Dan untuk sesama penulis yang juga turut mendukung tulisan saya, terima kasih yang tak terhingga saya persembahkan. Untuk para penulis yang tergabung dalam grup CERITA TANPA KATA, yang terdiri dari saya sendiri, Nofi Kahza, Ayuwidia, Penulis Jelata, Ria Diana, Rasti Yulia, Kak Shelly dan Safriati. Salam penuh cinta dariku untuk kalian. Love u All. 💕💕🌹🌹🌹
Juga penulis yang lain, seperti Yeni Eka, Mel Rezki, Melysa Eksprisa dan yang lain, (maaf, jika ada yang terlewat tidak disebutkan) Terima kasih yang tak terhingga pula.🌹🌹💞💞
Dan yang terakhir sekali untuk para pembaca dan rekan penulis sekalian, saya berharap, semoga tak akan ada rasa jenuh dan rasa bosan yang akan datang bertandang, untuk membaca setiap karya saya mendatang.
Karena percayalah, dalam menulis, saya tak hanya mengandalkan jari tangan, ataupun waktu yang dikhususkan. Tapi juga dengan sepenuh hati, dan segenap pemikiran serta pertimbangan. Artinya, saya persembahkan totalitas dalam setiap tulisan. Jadi, gak akan rugi jika terus baca tulisan saya. ( Author memang kurang lincah dan lihai dalam urusan promosi)
Pliss ya, tetap setia untuk saya..
Ok, saya akhiri khutbah saya yang panjang kali lebar ini. Saya sudah seperti Adam ya, manajer Rafardhan, yang pandai sekali berpidato.
__ADS_1
Jangan pergi dulu, Next saya masih punya pengumuman tentang karya baru. Scroll ya..kebawah.