
Hallo Alrick, hallo.**
Dua kali sudah Rendi memanggil, tersebab Alarik yang tiba-tiba terdiam.
I-iya, Mas.
Gugup suara Alarik terdengar. Ingin sekali rasanya menumpahkan tangisan. Tapi air matanya telah kering, habis untuk meratapi kepergian Kanaya. Kini ditambah lagi dengan sang puter, yang adalah tumpuan harapan satu-satunya, juga menolak untuk bertemu dengannya.
Rasanya dunia sudah benar-benar tak berpihak pada Alarick. Bahkan secercah asa pun enggan untuk menyapanya. Lelaki itu hanya mampu menghela napas, dengan rasa perih yang menghempas.
**Kamu jangan kawatir, Rick. Aku akan terus meyakinkannya. Dia mungkin hanya butuh waktu saja. Dia sudah cukup dewasa, sudah bisa berpikir dengan matang. Hanya saja, kenyataan ini mungkin sangat menyakitkan baginya. Sehingga dia masih butuh waktu. Itu saja, Alarick.**
Demikian ucapan Rendi di telepon yang kembali membangkitkan sedikit harapan di jiwanya yang terlanjur padam.
I-iya, Mas.
Gugup Alarick memberi jawaban.
**Aku harap, kamu jangan putus asa, Rick. Ada Tuhan yang maha membolak balikkan hati. Berdoalah untuk putramu.**
Ucap Rendi memberi semangat.
I-iya Mas Rendi. Terima kasih sudah diingatkan.
ALarik tertunduk dengan sepasang mata yang mulai mengembun.
**Oh, ya Rick, putramu baru saja menuntaskan pendidikannya.**
__ADS_1
Lagi, satu ucapan Rendi yang kembali membuat hati Alarik dipeluk kehangatan. Entahlah, hanya dengan kabar singkat itu saja, rasa hangat begitu kuat menjalar di jiwanya.
**Aku sama Risa, ingin ia melanjutkan pendidikannya ke Luar Negeri. Tapi Entahlah, apa mau dia saja. Kami ikuti.**
Rendi kembali melanjutkan ceritanya. Suami Risa itu seakan sengaja menghibur Alarik yang pasti sangat kecewa saat ini dengan sekelumit cerita tentang putranya.
Terima kasih ya, Mas. Mas Rendi sudah sangat mencintai putera saya.
Alarik mengucapkan hal itu dengan suara sedikit tercekat, karena rasa haru yang melekat.
Rendi mengakhiri telepon sesaat kemudian. Dan Alarick masih terdiam untuk sekian saat. Lelaki itu tak bisa mendeskripsikan perasaannya saat ini seperti apa. Begitu pula Sherin, yang juga tak tau harus mendamaikan perasaan suaminya itu dengan cara bagaimana. Hingga keheningan saja saat itu yang memeluk keduanya, sampai suara ketukan pintu mencairkan suasana yang hampir saja sebeku es batu.
Yang datang adalah pekerja pabrik, yang juga bertugas mengantar barang. Dan kembali ia memberikan laporan yang sama sebagaimana tiga orang rekan yang sebelumnya juga melaporkan hal serupa.
Alarick hanya mengangguk saja, tanpa mengucap apa-apa. Sepeninggal pekerjanya itu, lelaki tampan itu memijit-mijit pelipisnya, Mencoba berpikir mencari solusi. Tapi yang didapat malah kian pusing saja.
“Entahlah,” sahut Alarick singkat menjawab tanya dari Sherin yang terlihat cemas. Tiba-tiba saja,
“Ada apa, Om?” Sebuah kata tanya menyeruak di antara keheningan keduanya, membuat suami istri itu kompak menoleh ke arah sumber suara dan menemukan Damaresh bersama Aura di sana.
“Aresh,” seru Alarick setengah kaget.
“Maaf, masuk tanpa mengetuk pintu lebih dahulu,” kata Damaresh sambil sedikit memiringkan kepalanya memberi isyarat pada pintu ruang yang sedikit terbuka.
“Gak papa, Aresh, duduklah!” Alarick segera memersilahkan keponakannya itu duduk, selaras dengan Sherin yang menghampiri Aura dan membimbingnya juga, untuk duduk.
“Kenapa semua pengiriman barang, dikembalikan, Om?” Damaresh kembali ajukan pertanyaan yang tertunda itu.
__ADS_1
“Itulah. Aku juga tidak tau kenapa, mereka beralasan kalau konsumen menolak produk kami, padahal sudah cukup lama bekerja sama dengan kami dan sejauh ini tidak ada keluhan apa-apa, semuanya baik-baik saja.”
Alarick sejenak menghela napas, sedangkan Damaresh terus menyimak penuturannya dengan seksama.
“Dan tak hanya di sini, yang diluar jawa juga dikembalikan semua dengan alasan yang sama. Stock barang di gudang menumpuk, sebagian sudah kami kirim ke beberapa yayasan sosial dan pesantren. Karna hal ini, mungkin dalam beberapa hari ke depan, kami tidak akan produksi dulu,” tutur Alarick lagi.
“Lalu bagaimana dengan para pekerja, Om?”
“Hal itu sebenarnya yang sangat memberatkan aku, Aresh.”
“Apa hal seperti ini, pernah terjadi sebelumnya, Om?”
“Belum pernah. Ini baru pertama kalinya. Sepertinya ada yang sengaja memboikot produk kami, entah siapa,” tukas Alarick dengan tatapan lurus.
Damaresh memutar kepalanya ke arah Aura dan Sherin yang duduk menyimak pembicaraan keduanya dengan seksama.
“Arra, dan, Tante Sherin,” ucap Damaresh terdengar ada nada canggung dalam ucapannya ketika harus memanggil Sherin dengan sebutan Tante. Tapi Sherin justru terlihat senang dengan panggilan itu.
“Bolehkah aku bicara berdua dengan om Alarick?”
Aura dan Sherin sama-sama mengangguk dan lalu sama-sama keluar dari ruangan tersebut.
“Boleh, aku minta data toko retail yang menjadi rekanan, Om Al selama ini?” pinta Damaresh, setelah kini mereka hanya tinggal berdua saja dalam ruangan itu.
*****
*****
__ADS_1
Yang sudah baca CTT, pasti sudah tahu kan, tindakan apa yang dilakukan oleh Damaresh untuk membantu permasalahan di pabrik teh milik Alarik.