Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 91


__ADS_3

“Mas sudah telepon Rafa?” Tanya Sherin begitu Alarik masuk ke kamar dan duduk di sampingnya.


Alarik mengangguk seraya tangannya meraih tubuh istrinya itu dan dibaringkan ke pangkuannya.


“Apa benar Rafa ada di kota ini?” tanya Sherin lagi penuh rasa penasaran. Hal itu terjadi sejak ia bicara dengan Quinsha di telepon tadi. Sherin baru ngeh dengan ucapan sahabatnya itu—yang mengatakan mau pergi kondangan dengan anakmu—setelah 10 menit kemudian. Wanita itu lalu meminta pada suaminya untuk menelepon putranya, guna lebih memastikan.


“Iya, tapi hanya sebatas itu jawabannya. Tiba-tiba teleponnya dimatikan,” sahut Alarik, yang kini tangannya membelai-belai rambut Sherin dengan lembut.


“Lah, sama. Aku juga telepon Quinsha, baru aku nanya, teleponnya udah dimatikan.”


“Mungkin mereka masih di acara resepsi itu, dan di sana ramai,” kata Alarik mencoba berpikir bijak.


“Ya, mungkin,” gumam Sherin. Tapi entahlah, perasaannya malah justru berkata lain. ‘Mungkin ini salah satu cara Rafa minta maaf pada Quinsha’ batin Sherin.


“kamu gak mau makan apa-apa malam ini?” tanya Alarik seraya menunduk, hingga kini ujung hidungnya mendarat di belahan pipi mulus Sherin.


“Gak tau ya, Mas.” Sherin terlihat berpikir.


“Bilang saja sekarang, biar aku siapin. Jangan sampai kayak tadi malam, minta bakso jam 12 malam.” Alarik tertawa renyah dengan ucapannya, teringat kehebohan semalam yang diciptakan oleh istrinya yang lagi hamil muda itu.


“Ya, kalau aku pingin sesuatunya di jam segitu, Mas. Gak bisa disiapkan sebelumnya. Memang kamu repot ya, Mas, dengan permintaanku?” tanya Sherin dengan raut wajah tak nyaman.


Alarik terlebih dahulu menghujani wajah istrinya itu dengan cium4n, sebelum menjawab. “Gak. Aku malah exited, begini lho rasanya, punya istri yang lagi hamil muda. Makasih ya, sayang.” Alarik kembali menjadikan wajah cantik Sherin sebagai sasaran cium4n.


Sherin tak menjawab dengan kata-kata, Ia hanya mengangguk saja. Tapi tatap matanya yang berbinar indah, cukup menunjukkan kalau ia kini merasa bahagia.


“Mas, ada telepon.” Sherin menginterupsi hoby baru Alarik itu, karena ada panggilan telepon di ponsel suaminya yang ada di atas nakas.


“Rafa.” Sangat antusias, itu terlihat dari wajah Alarik saat mengangkat telepon dari putranya itu.


“Papa, bisa datang kemari?” tanya Rafardhan langsung setelah teleponnya diangkat oleh Alarik.


“Bisa. Kamu sekarang di mana?”


“Di rumah Quinsha Daneen,” sahut Rafardhan dari seberang sana.


“Di rumah Quinsha?” gumam Alarik, hal mana membuat Sherin jadi memerhatikan suaminya itu dengan seksama.


“Iya, Papa tahu ‘kan alamatnya?” tanya Rafardhan dari seberang sana.


“Iya, Nak, papa tau.”


“Aku tunggu ya, Pa. Sekarang juga.” Dan Rafardhan segera memutuskan telepon begitu saja, bahkan tanpa salam.


“Ada apa di rumah Quinsha, Mas?” tanya Sherin cepat.


“Rafasya ada di sana. Dan dia minta aku untuk kesana.”

__ADS_1


“Aku ikut, Mas. Sungguh perasaanku gak enak.” Sherin segera beringsut mengambil abaya panjang dan hijab yang lebar, lalu segera dikenakan. Sebenarnya Alarik hendak melarang istrinya itu ikut, biar dia istirahat di rumah saja. Tapi melihat Sherin begitu antusias, Lelaki itu jadi tak tega untuk melarang.


Di rumah Quinsha.


Setengah jam sebelum Rafardhan menelepon Alarik dan meminta untuk datang.


Ucapan tegas Rafardhan yang divalidasi dengan sikapnya nan berani, ketika minta waktu pada Azman untuk menjelaskan duduk persoalannya—kenapa dia memeluk Quinsha di tengah jalan—membuat Azman mengajak pemuda tampan itu ke dalam rumah, untuk memberikan penjelasannya di sana.


Di sana, Rafardhan mengisahkan, bahwa saat Quinsha turun dari mobil dan menyeberang jalan untuk masuk ke gerbang halaman rumahnya, gadis itu sibuk memerhatikan layar ponselnya, yang mungkin saja ada yang menelepon atau berkirim pesan. Hingga Quinsha tak sadar, kalau ada mobil box yang akan melintas.


RAfardhan yang sudah menghidupkan mesin mobil—hendak meninggalkan tempat tersebut—sangat terkejut melihat semuanya. Ia berteriak memberitahukan pada Quinsha, tapi gadis itu tak mendengar. Gegas lelaki tersebut turun dari mobil dan segera menarik tubuh Quinsha. Tarikannya yang begitu kuat membuat gadis itu menjerit dan jatuh begitu saja dalam pelukan Rafardhan. Tapi keduanya terselamatkan dari mobil box yang melintas dan melaju pesat.


Quinsha juga memvalidasi keterangan dari Rafardhan ini. Bahwa semua itu hanyalah tindakan spontan karena pemuda tampan itu ingin menyelamatkannya, bukan suatu bentuk refleksi dari dua orang yang sedang jatuh cinta.


Mendengar semua itu, Firda tampak menarik napas lega. Ia bahkan menghapusi air mata di wajah putrinya dengan lembut.


Tapi ekspresi Firda ini berbanding terbalik dengan Azman. Lelaki baya itu terlihat belum merasa lega dan lapang. Bahkan raut wajahnya masih terlihat menimbun kemarahan.


Dan kini semua pandangan hanya tertuju kepada Azman. Berharap lelaki baya itu dapat merubah keputusan. Sesaat kemudian, lelaki baya itu membuka ucapan. “Baiklah. Jika itu alasannya.” Segera semuanya menarik napas lega mendengar apa yang ia cetuskan. Namun, Azman kembali membuka suara. “Tapi, keputusanku untuk Quinsha segera menikah, sudah tak bisa dirubah,” putusnya.


“Paman ...” Quinsha hanya bisa berucap lirih dan memutus ucapannya begitu saja, karena sang paman yang menggelengkan kepala.


“Ini adalah suatu pertanda, Nak. Bahwa kau memang harus segera menikah. Usiamu sudah cukup matang untuk itu.”


“Iya, Paman. Aku juga paham. Paman dan Ummi ‘kan sudah membicarakan ini, dan aku juga sudah setuju untuk kenal dulu. Bukan dengan jalan terburu-buru begini, Paman.” Quinsha mencoba untuk bernegosiasi dengan Azman.


“Tapi, Paman ...”


“Aku sudah meminta calon kamu untuk datang besok. Dan kamu sudah tidak punya alasan lagi untuk menolak. Ini keputusanku,” pungkas Azman. Lelaki itu bahkan segera bangkit untuk meninggalkan ruangan. Karena ketok palu sudah ia lakukan.


Quinsha langsung memeluk Firda dengan bahu yang berguncang, dalam hitungan detik isak tangisnya pun terdengar. Rafardhan menatap hal itu cukup lama dalam diam, sebelum kemudian dia segera bangkit mengejar Azman.


“Paman, tunggu!” panggilnya.


Azman menghentikan langkah dan berbalik menatap pemuda tampan itu.


“Jadi, Quinsha memang harus segera menikah?”


“Iya, seperti yang sudah kau dengar sendiri,” sahut Azman.


“Kalau begitu, saya yang akan melamar Quinsha sekarang dan menikahinya,” putus Rafardhan. Keputusan yang sangat mengagetkan bagi Quinsha, Firda dan juga Azman.


“Kamu serius anak muda?” Azman terlihat sangat meragukan kesungguhan Rafardhan.


“Iya, saya serius,” tegas Rafardhan.


“Rafa, kamu apa-apaan?” Quinsha segera berdiri menghampiri pemuda itu. Namun, Rafardhan hanya melihatnya sekejap dan kembali menatap Azman.

__ADS_1


“Siapa nama kamu?” tanya Azman seraya menatap Rafardhan penuh selidik.


“Rafasya Adtya Zaidan.”


“Usia kamu?”


“22 tahun.”


Azman terlihat menghela napas. ‘pemuda ini masih sangat muda, tapi aku suka ketegasannya, sepertinya dia cukup punya jiwa pemimpin. Hal yang harus dimiliki oleh setiap laki-laki. Sebagai imam dalam rumah tangga’ batin Azman.


“Baik, kalau kamu bersungguh-sungguh ingin menikahi anakku, Quinsha. Datangkan orang tua kamu kemari, malam ini juga!” titah Azman.


“Tidak tunggu!” cegah Quinsha. “Rafa, kita perlu bicara.” Gadis itu segera menarik tangan Rafardhan sedikit menjauh.


“Gak perlu kayak gini, Rafa. Saya sudah memaafkan kamu. Sungguh. Kamu yang pernah ingin menjerat hati saya, karena dendam pada pak Alarik. Saya paham semuanya. Saya paham kenapa kamu bertindak demikian. Dan saya sudah memaafkan.”


Quinsha menghentikan sejenak ucapannya, untuk meraup napas sebanyak-banyaknya. Pasalnya, dadanya terasa sesak sekarang. Sedangkan Rafardhan hanya diam saja memerhatikan.


“Jadi, gak perlu kamu mengorbankan diri seperti ini hanya untuk menebus rasa bersalah kamu pada saya. Saya sudah memaafkan kamu,” lanjut Quinsha dengan air mata jatuh.


“Saya mengambil keputusan begini, bukan karena itu, Quin,” sahut Rafardhan.


“Lalu?”


“Karena saya merasa ingin selalu dekat sama kamu,” ungkap Rafardhan.


“Tapi, Rafa ...”


“Ok, saya tau, Quin. Kamu tidak pernah ingin menikah dengan saya. Tapi setidaknya, kamu lebih tahu saya dari pada calon yang diajukan padamu yang tidak kamu kenal sama sekali.”


Quinsha langsung terdiam.


“Quin, masuk ke dalam. Ini sudah menjadi urusan paman dengan calon suami kamu ini!” titah Azman pada Quinsha.


Gadis cantik itu segera berbalik dan menghampiri uminya. “Ummi tolong, cegah mereka! Batalkan semuanya!” pinta Quinsha penuh harap.


“Sha, ummi tidak bisa menentang keputusan pamanmu,” sahut Firda lirih.


“Tapi ummi tau siapa Rafardhan?”


Firda mengangguk. “Dia seorang artis terkenal,” ujarnya.


“Dia, anaknya pak Alarik, Umi. Dia anak sambung Sherin. Dan dia lebih muda 3 tahun dari Quinsha.”


Tapi Firda bergeming dengan semua alasan Quinsha. Karena Azman sudah memutuskan dan keputusan itu tak bisa dihentikan.


Quinsha hanya bisa berlari masuk ke kamar, dan membanjiri wajahnya dengan air mata sekarang.

__ADS_1


Rafardhan pun menelepon Alarik, meminta papanya itu untuk datang.


__ADS_2