
Tak terhitung, berapa banyak debaran yang Alarik rasakan ketika mobilnya mulai memasuki halaman rumah yang bergaya Mediterania itu.
Dan tatkala ia membawa tubuh gagahnya turun dari mobil, debaran itu semakin menjadi. Satu demi satu langkahnya menapaki halaman rumah yang cukup luas dan asri. Dengan menguatkan jiwa dan memantapkan hati.
Rendi tak mengatakan apa maksudnya, Alarik diminta untuk datang ke sana. Tapi tak salah rasanya, jika dalam diri lelaki itu telah tertanam harap untuk bisa berjumpa dengan sang putra.
Seorang ART paruh baya yang mengenakan kebaya dan kain panjang, membukakan pintu untuknya, di saat pintu yang ia ketuk belum mencapai hitungan ketiga.
“Duduk dulu, Den! Disuruh nunggu sebentar sama bapak,” ujarnya seraya menunjuk sofa ruang tamu dengan ibu jarinya. Sepertinya ART ini telah diberitahukan sebelumnya, kalau Alarik adalah tamu sang majikan yang memang sudah ditunggu.
“Terima kasih, Mbok.” Bersamaan dengan ia hempaskan bokongnya di atas sofa empuk itu, napasnya juga menghempas pelan, bahkan hal itu ia lakukan secara berulang, sekadar untuk melegakan perasaan, yang berdebar tak karuan.
Hanya lima menit, waktu yang dilalui oleh Alarik, saat menanti kehadiran Rendi. Tapi rasanya seperti lima jam yang sudah ia lewati. “Kau sudah datang, Rik. Syukurlah,” sapa Rendi, ketika pertama kali melihat Alarik.
“Maaf, kalau saya sedikit terlambat, Mas.” Alarik sedikit membenahi posisi duduknya. Memang sudah jam 9 lewat 15 menit, ketika ia tiba di rumah bergaya apik ini.
“Gak papa, ini malah justru saat yang tepat,” sahut Rendi mengulas senyum.
“Mbak Risa kemana, Mas?”
“Dia sedang keluar. Rick, pergilah ke teras samping! Rafa ada di sana sekarang!”
Degg
Seiring debaran yang kian memuncak, mungkin kini wajah Alarik terlihat pucat. Apa yang dikatakan oleh Rendi memang adalah hal yang sangat dinanti, sekaligus hal yang sangat ia takuti. Takut sang putra enggan menerima ataupun mengakui.
__ADS_1
Rendi mengangguk mantap, sekadar memberi keyakinan pada Alarik kalau ia tak salah ucap. Rendi memang ingin mempertemukan Alarik dengan putranya, meski tanpa pemberitahuan lebih dulu papa sang putra itu sebelumnya.
ALarik melangkah pelan tapi pasti, mengikuti arah yang ditunjuk oleh Rendi. Di teras rumah bagian samping, benar-benar menyajikan pemandangan yang hijau dan asri. Suara gemericik air, dan suara hembus angin, semakin menambah ketenangan hati.
Tapi bukan ketenangan yang dirasakan oleh Alarik, tatkala tatapannya tertuju pada seorang pemuda yang duduk sendirian di gazebo yang terdapat di sana. Jantungnya kian berpacu, saat tatapannya menelisik wajah itu. Pemuda berusia sekitar 20 tahunan itu, bisa dibilang cukup tampan, dengan kulit sawo matang, dan rambutnya yang sedikit ikal. Hidungnya meski tak terlalu mancung, tapi terlihat pas dengan bentuk wajahnya.
Sesaat kemudian, pemuda itu terdongak dan melihat ke arah Alarik, sebuah senyum terbit di bibirnya yang sedikit tebal. Tak hanya itu saja, ia bahkan turun dari gazebo dan menghampiri Alarik yang masih berdiri terpaku.
“Om cari siapa?” tanyanya pada Alarik.
“Ee—“ Lelaki itu tak mampu menjawab karena suaranya yang rasa tercekat.
“Oh iya.” Pemuda itu sejenak terlonjak seperti baru mengingat sesuatu. “Om ini pasti mencari Rafa ya?”
“Ka-kamu bukan Rafa?” tanya Alarik dengan suara terbata.
“Nah ini dia, Rafa, Om!” Arka memberi isyarat ke samping Alarik. Yang terasa kalau ada seseorang yang mendatangi. Lelaki tampan empat puluh tahunan itu segera menoleh. Dan pandangannya menemukan sesosok pemuda yang bertubuh tinggi tegap, berkulit putih bersih, dengan bola mata hitam pekat, ciri khas anggota keturunan William.
Melihat lelaki yang berdiri jarak 2 meter di sampingnya itu, Alarik seperti melihat potret dirinya di masa muda. Wajah pemuda itu dengan postur tubuhnya, adalah wajah Alarik semuanya. Ia Seakan sedang berhadapan dengan foto copinya. Kecuali bibir pemuda itu yang tipis dan padat berisi, itu adalah bibir Kanaya.
Entah untuk berapa lama, tatapan keduanya beradu di udara, tanpa adanya kata sapa, seakan semua tatanan bahasa, telah hilang dalam rasa haru dan bahagia. Mereka bahkan tak sadar, kalau Arka sudah tak ada lagi di sana. Mereka hanya tinggal berdua saja.
“Nak,” hanya kata singkat itu yang dapat keluar Alarik setelah sekian waktu. Karena jiwanya yang merasa bergetar, seakan mendapatkan permatanya yang hilang. Bahkan tatapannya kini mengembun, luruh dalam rasa haru yang tak tergambar.
Pemuda itu hanya diam, tetap diam dengan raut wajah datar. Tak ada ekspresi yang dapat tergambar dari sana. Bahkan kemudian ia alihkan pandangan ke lain arah.
__ADS_1
“Aku papa kandung kamu, Nak.” Alarik kembali bisa bersuara setelah beberapa jenak. “Aku minta maaf, karena baru tau tentang keberadaanmu,” ucapnya lagi dengan frekuensi suara yang sama. Pelan, pasti, dan lirih dalam getar.
Tak ada tanggapan ataupun jawaban apa-apa dari putranya. Bahkan tatapan pemuda itu belum teralih sama sekali untuk menatapnya.
“Papa, boleh peluk kamu, Nak?” Pinta Alarik dengan sepenuh harap. Sungguh dari awal melihat pemuda tampan di sampingnya, Alarik hampir tak dapat menahan diri untuk segera memeluknya.
Tapi pemuda itu tetap diam saja, tak memberikan jawaban apa-apa, bahkan menatap pun tidak. Alarik harus menyimpan semua keinginannya itu dalam hati saja. Ia paham, akan sikap sang putra yang seakan menolak kehadirannya. Satu tekad kini tertanam dalam diri suami Sherin itu. Tekad untuk tetap meminta maaf pada sang buah hati. Seberapa pun lamanya ia akan menanti.
“Maafkan permintaan papa yang terlalu berlebihan ini, Nak. Gak apa-apa, kalau sekarang kau masih belum berkenan ...” Alarik segera memutuskan ucapannya, tatkala pemuda tampan itu menoleh ke arahnya.
“Saya sudah tau, kalau kamu adalah papa kandung saya, Tuan Alarik William,” ujarnya dengan nada dalam.
Mendengar kalimat singkat dan penuh penekanan dari putranya itu, tenggorokan Alarik rasa tercekat. Seketika, segenap kata yang akan ia ucap, hilang di telan angin lalu dan tak pernah kembali dalam benak.
Kenyataan ini sungguh tak pernah ia duga, kalau sang putra ternyata telah tau tentangnya, tapi Alarik justru tak tahu apa-apa sama sekali tentang putranya.
Dari pada ingin menangis, Alarik lebih merasa ingin tertawa. Menertawakan kebodohannya yang pasti sudah terlihat tak berguna di hadapan putranya.
Pemuda tampan itu memutar tubuh hendak pergi meninggalkannya. Dan Alarik pun tak punya kekuatan apa-apa sama sekali untuk mencegah.
“Rafa, mau kemana?” pertanyaan itu datang dari Rendi. Ia menyusul Alarik ke teras samping dan melihat Rafa sudah bergegas pergi dari sana.
“Kamar.” Pemuda tampan itu menjawab singkat saja dan segera berlalu begitu saja.
Rendi menghampiri Alarik yang tetap berdiri di posisi semula dengan menundukkan kepala. “Rik, sabar ya! Semua pasti ada prosesnya.” Rendi menepuk pundak Alarik dan mengucapkan kata penyemangat untuknya.
__ADS_1
“Iya, Mas. Saya paham.” Alarik berkata sambil memberikan senyuman. Meski tak dapat disembunyikan kalau ada genangan air di bola matanya yang hitam.
“Namanya, Rafasya Aditya Zaidan,” kata Rendi.