Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 62


__ADS_3

Alarik keluar dari mobilnya yang baru saja tiba dan terparkir apik di halaman kantor. Sesaat pandangannya tertuju pada sebuah mobil hardtop warna biru tua, yang parkir di bawah pohon beringin tak jauh dari posisi mobilnya saat ini.


Seorang asistennya, tergopoh menghampiri. “Pak, ada tamu, sudah menunggu di dalam dari tadi!”


“Iya,” jawab Alarik singkat dan segera masuk dengan bergegas.


Dua orang lelaki berusia di atas 40 tahunan sudah menunggunya di sofa ruang tamu, yang berada tepat di depan ruang kerjanya. Mereka segera berdiri atas kedatangan Alarik dan berjabat tangan ramah.


“Saya, Hadi, Pak. Dan ini rekan saya, Dion.” Orang pertama mengenalkan diri dengan ucapan yang ramah selaras dengan bahasa tubuhnya.


“Iya, silakan duduk!” sambut Alarik tak kalah ramahnya dan segera menyilakan kedua tamunya.


“Kami dari PT Wana Putera, ingin mengajukan kerja sama dengan, Bapak." Lelaki bernama Hadi itu memberikan sebuah map berisi berkas pada Alarik yang sementara ini masih sekedar menerima saja, tanpa membuka apalagi membaca.


“Perusahaan kami bergerak di bidang retail. Termasuk salah satu toko retail langganan produk, Bapak, adalah rekanan kerja kami,” lanjut Hadi.


“Kami sangat tertarik dengan produk dari pabrik ini yang sangat alami, berikut kemasannya juga sangat menarik,” puji Dion, ia menyampaikan penilaiannya tanpa diminta.


“Saya akan mempelajari dulu, pengajuan dari perusahaan kalian ini dengan seksama ya. Dalam dua atau tiga hari ke depan, saya akan memberikan jawabannya,” putus Alarik yang langsung disetujui oleh dua orang calon ‘Rekan kerjanya’ itu.


Setelah sejenak berbasa-basi dengan suguhan teh kemasan hasil olahan dari pabrik itu, kedua orang tersebut segera mohon diri.


Sepeninggal keduanya, Alarik segera masuk ke dalam ruangan kerjanya, dan meletakkan berkas pengajuan tersebut di atas meja.

__ADS_1


Lelaki tampan keturunan William itu memerhatikan kemasan teh gelas di atas meja, dan teringat akan ucapan dua orang tamunya baru saja.


“Kemasannya sangat menarik,” gumam Alarik sambil menatap kemasan itu seksama. Kemasan dari produk minumannya, bukanlah hasil karya seorang Graphic Designer ternama. Tapi itu hasil coretan pena istrinya yang ikut menuangkan ide kreatif, saat Alarik mengatakan ingin merubah kemasan produk tehnya.


Saat itu Alarik langsung tertarik melihat coretan tangan Sherin di atas selembar kertas. Hanya perlu sedikit polesan di sana sini, yang dilakukan oleh teamnya di pabrik, jadilah kemasan produknya seperti sekarang ini. Yang memang terlihat sangat menarik hati, dan mengundang rasa penasaran untuk segera mencicipi.


“Sherin.” Dalam keadaan sadar atau tidak, Alarik menyebut lirih nama istrinya dengan tatapan menerawang. Sudah cukup banyak kontribusi yang diberikan wanita cantik berhijab itu untuk pekerjaan Alarik. Hadirnya memang sangat memberi arti.


Tapi mengapa, namanya tak kunjung bertahta dalam hati? Apakah Alarik yang memang tak cukup peduli, untuk memahat nama sang istri dalam sanubari.


Tok ... Tok ...Tok


Sayangnya, kelana pikiran yang belum mendapatkan tepi itu harus berhenti, tatkala ketukan di pintu menginterupsi.


“Pak!" panggil seorang pria yang baru membuka pintu dengan napas memburu.


“Ada apa?” tanya Alarik heran. Melihat kondisi orang yang datang itu menampilkan raut tegang.


“A-Ada, Ada kebakaran di Pabrik, Pak.”


“Apa!?”


Selesai dengan rasa kaget yang berdurasi sekian detik berlalu, Alarik mengambil langkah seribu. Bahkan saling berebut untuk mencapai pintu dengan si pembawa kabar itu.

__ADS_1


Damaresh baru saja tiba, tubuh gagahnya juga baru turun dari mobil mewah tunggangannya. Rasa penasaran mengulik tanya, segera memenuhi kepala, tatkala melihat Alarik setengah barlari seakan sedang berkejaran dengan bawahannya, turun dari teras kantor yang di desain memilki beberapa tangga.


“Om Al, ada apa?!”


“Aresh.” Sejenak Alarik menghela napasnya yang berpacu sejak kabar itu didengarnya.


“Ada kebakaran di pabrik, Resh.”


Tanpa perlu berbicara apa lagi, dua orang beda generasi itu segera menuju pabrik yang berjarak sekitar 30 meter dari kantor.


Api sudah membesar, menjalar dan menyebar. Kegaduhan dan kekalutan mewarnai. Jerit histeris dan panik terdengar di sana-sini, pasalnya ada beberapa pekerja yang terjebak dalam kobaran api.


ALarik dan Damaresh segera berjibaku untuk menyelamatkan para pekerja yang terjebak di dalam ruang produksi. Beberapa pekerja yang lain juga tak kalah gesit menyelamatkan beberapa barang dan peralatan yang belum terlalap api.


Asap pekat membumbung ke udara, terlihat jelas ke rumah kediaman Alarik yang letaknya tak seberapa jauh dari pabrik. Sherin yang melihat hal itu segera berlari panik, mengabaikan panggilan Art dalam rumahnya yang setengah menjerit.


Sherin sejenak berdiri kaku melihat apa yang ada di depan matanya saat itu. Namun, saat kesadaran segera ditemukannya, wanita berhijab itu gegas membantu dengan segala daya yang ia mampu.


Mobil damkar datang sekitar setengah jam kemudian, dan dalam jangka waktu hampir satu setengah jam, api pun berhasil di padamkan.


*****


Peristiwa kebakaran yang terjadi di pabrik milik Alarik juga di sebut dalam kisah: CINTAKU TERHLANG TAHTAMU.

__ADS_1


__ADS_2