
Atmosfer kekesalan dalam diri Qhuinsha yang barusan sempat menguap, kini justru bertambah jadi dua kali lipat.
‘Jadi ini ulah Rafardhan? Dia yang telah mengirim bunga ini’. Monolog Quinsha dengan tatapan tajam pada mobil yang selayang pandang sudah menghilang.
“Apa sih, maunya anak itu,” sungut Quinsha di akhir cerita. Ia mengisahkan semuanya pada dua orang sahabatnya—Sherin dan Aura—yang mencermati setiap penuturan Quinsha dengan seksama.
Setengah jam yang lalu, Quinsha sudah tiba di tempat Sherin, dan di sana juga ada Aura. Raut wajah Quinsha yang masih menampakkan kekesalan, mengulik tanya dari kedua sahabatnya. Dan Quinsha pun segera bercerita, dari sejak pertemuan yang gagal dengan Rafardhan kemarin, hingga buket bunga yang tiba-tiba ada di mobil.
Sherin dan Aura saling melempar pandang lalu sama-sama mengangguk pelan.
“Apa yang kalian pikirkan?” selidik Quinsha. Biasa di antara ketiganya, bila ada hal apapun, tak perlu berbanyak kata dan bahasa, terkadang hanya dengan saling melihat saja, mereka sudah saling paham satu sama lainnya. Inilah sisi keajaiban persahabatan mereka.
“Ya, kita sepemikiran,” kata Aura. Ia yang bertugas menjawab mewakili Sherin juga.
“Maksudnya?” tanya Quinsha.
“Kalau sebentar lagi, kami akan punya sahabat yang jadi istrinya artis terkenal.” Belum lagi Aura mencapai titik pada kalimatnya, Sherin sudah tertawa lebih dulu, dan Aura pun mengikutinya.
“Lucu ya? gak lucu, tau,” gerutu Quinsha seraya sedikit memanyunkan bibirnya.
“Memang gak lucu, tapi unik,” sambut Aura.
__ADS_1
“Uniknya dari mana?”
“Kalian berdua, jika benar jadi nantinya. Akan jadi pasangan yang unik,” sahut Aura dan kembali melanjutkan tawanya.
“Tega ya, kalian padaku. Ucapan itu adalah doa lho! Masa iya kalian mendoakan aku berjodoh dengan seorang artis, lebih muda lagi dariku,” lontar Quinsha dengan alis mengerut.
"Kamu 'kan bisa jadi ikut terkenal, Sha. Dan kita ini," tunjuk Aura pada dirinya sendiri dan Sherin. "Bisa ikut numpang terkenal juga," imbuhnya.
"Dan beritanya kayak gini, Sherin dan Aura adalah dua orang sahabat Quinsha Daneen, istri seorang Aktor kenamaan, Rafardhan Malik. Nah itu, jadi ikut nampang 'kan nama kita," urai Sherin yang segera disambut tawa renyah oleh Aura.
"Apa-apaan sih kalian," protes Quinsha dengan raut muka tak senang. "Aku gak suka deh, beneran. Gak pernah ada dalam bayanganku hal-hal kayak gitu."
“Apa buruknya profesi seorang artis, Sha?” Sherin mulai membuka ucapan serius dengan pertanyaannya.
"Intermezo aja, kok Sha," kata Aura.
“Ya, intinya gini, Sha. Aku dan Aura itu punya penilaian sama. Dari ceritamu tentang Rafardhan, dia itu menunjukkan sikap yang suka padamu. Terlepas hal itu benar menurut perasaannya atau gak,” terang Sherin dengan raut wajah serius. Karena yang tahu apa maksud Rafardhan yang sebenarnya, hanyalah yang bersangkutan.
“Ya, dia sepertinya menyukaimu, cuman ada yang janggal kurasa, di nilai dari kehidupannya yang notabene nya seorang artis—dan bukan artis kaleng-kaleng—ditambah lagi dengan perkenalan kalian yang begitu singkat, mustahil dia akan menunjukkan rasa suka secepat itu, kalau bukan ada sesuatu yang mendasari tindakannya,” tukas Aura, melengkapi apa yang diucapkan Sherin baru saja.
“Artinya dia punya maksud tersembunyi di balik semuanya?”
__ADS_1
“Ya, dan itu hanya menurut penilaian kami. Tapi kita gak boleh suudzon ya,” cetus Sherin yang diangguki setuju oleh kedua sahabatnya.
“Ini dari tadi kita bahas artis Rafardhan Malik itu, orangnya kayak siapa sih?” tanya Aura sejurus kemudian.
“Sangat tampan,” sahut Sherin.
“Ya, tampan menawan. Cocok lah dia berperan sebagai mas Rafka dalam kisah ‘bertaruh cinta di atas Takdir’ di sana ‘kan digambarkan kalau Rafka itu tampan badai. Secara pisikal cocok lah diperankan Rafardhan,” jelas Quinsha.
“Memang kamu belum pernah tau wajah artis Rafardhan Malik, Ra?” tanya Sherin heran.
Aura menggeleng pelan.
“Maklumlah, istri seorang CEO perusahaan besar pasti gak punya waktu untuk sekedar melihat acara Infotainment,” timpal Quinsha.
“Eh Aresh bukan CEO lagi sekarang, masa kemarin dia bilang mau jualan bakso atau jadi tukang ojek online,” keluh Aura.
“Kalau Damaresh mau melakoni profesi itu, apa kamu merasa malu, Aura?” tanya Sherin serius.
“Gak, Rin. Hanya saja aku takut.”
“Takut apa?” tanya Quinsha dan Sherin hampir bersamaan.
__ADS_1
“Takut banyak yang naksir sama suamiku, secara dia ‘kan tampan menawan gitu,” cetus Aura dengan bangga. Kedua temannya sama-sama berdecak lalu tertawa renyah.