Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 34


__ADS_3

“Kalau butuh teman, saya akan temani. Biar kamu tidak sendirian ke sana,” tawar Arfan, ia melihat kebimbangan di wajah Quinsha atas usulnya.


Mendengar tawaran Arfan, perlahan keberanian Quinsha mulai muncul. Apalagi Lelaki di depannya ini cukup bisa diandalkan untuk menemani. Terbukti di kafe barusan, Arfan sampai mengakui Quinsha sebagai calon istri untuk melindunginya


Quinsha belum memberikan jawaban, ketika ponsel Arfan memperdengarkan panggilan. lelaki itu memberi isyarat untuk menerima telepon itu dan melangkah sedikit menjauh. Quinsha diam menanti sambil menulikan pendengaran dari kalimat-kalimat lembut dan sopan dari Arfan pada orang yang di seberang. Entah siapa.


“Aduh Quinsha, saya mohon maaf ya,” sesal Arfan setelah menghampiri Quinsha lagi seusai menerima panggilan. “Saya ternyata gak bisa mengantarkan kamu ke lokasi syuting Rafardhan, sekarang,” terang Arfan dengan raut muka tak nyaman.


“Gak papa, Akhi. Saya juga tak berniat ke sana sekarang. Saya mau pulang saja,” putus Quinsha. Arfan mengangguk, walau sebenarnya masih ada satu hal yang ingin ia bicarakan. Dan Quinsha pun berlalu setelah mengakhiri percakapan dengan salam.


Arfan tak segera memutuskan pandangannya dari Quinsha yang terus berjalan menjauhinya, hingga akhirnya ia tersadar akan sesuatu.


“Quinsha!” panggil Arfan.


Gadis cantik itu hentikan langkahnya dan menatap Arfan dengan tatapan bertanya. “kamu gak bawa mobil?” tanya Arfan sambil melangkah mendekati.


QUinsha menggeleng singkat.


“Jadi mau pulang naik apa?” tanya Arfan perhatian.

__ADS_1


“Naik angkot aja.”


“Angkot itu adanya di jalan depan, masih cukup jauh dari sini.”


“Ya, gak papa. Saya jalan kaki ke depan,” putus Quinsha.


“Saya antar kamu ya, saya bawa mobil kok,” pinta Arfan dengan tatapan lembut menyapu wajah Quinsha.


“Terima kasih, Akhi. Tapi saya mau naik angkot saja,” tolak Quinsha juga dengan tersenyum dan menatap Arfan sekilas sebelum segera membuang pandangan.


“Saya gak sendirian. Ada saudara saya yang ikut. Jadi kita tidak hanya berdua saja nantinya,” terang Arfan. Ia paham jika penolakan Quinsha adalah karena tidak ingin berkhalwat dengannya.


Pasti butuh waktu yang cukup lama bagi Quinsha untuk mengembalikan perasaannya menuju "baik-baik saja" setelah semua yang dirasa akibat perlakuan Arfan padanya. Karena ia sadar, sesadar sadarnya, kalau semua tindakan itu hanya berdasar satu alasan saja, yaitu menolongnya. Bukan sebuah manifestasi dari sebuah perasaan spesial terhadap Quinsha.


Dan terlepas dari semua kesadaran Quinsha akan situasi keduanya, ia juga tak dapat membendung adanya bunga bermekaran dan kupu-kupu yang beterbangan dalam jiwa, atas semua kebaikan Arfan terhadapnya.


Sedangkan fakta tentang lelaki tampan itu sudah sangat ia ketahui. Bukankah lebih baik ia menghindari Arfan? Dari pada jatuh menjadi baper yang tidak pada tempatnya.


“Gak perlu, Akhi. Saya akan pulang sendiri saja,” tegas Quinsha. Meski sebenarnya hatinya sudah mulai goyah. Bertahun ia sebut nama Arfan dalam doa. Dan selama bertahun pula alam tak pernah memberi mereka kesempatan untuk bisa berbicara dekat seperti sekarang. Justru, saat-saat seperti ini datang, kala Quinsha telah memutuskan berhenti. Karena Arfan sudah memilih pelabuhan hati.

__ADS_1


Tidak kah ini hanya sebentuk ujian keteguhan bagi seorang Quinsha Daneen, atas apa yang telah diputuskan?


“Saya hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja, Quinsha,” jelas Arfan.


“Insha Allah saya baik-baik saja. Justru saya tidak akan baik-baik saja jika ....” Quinsha memutus ucapannya begitu saja, karena tersadar kalau kalimat selanjutnya itu tidak pantas untuk ia ucapkan.


“Jika apa?” tanya Arfan


Quinsha menggeleng pelan.


“Bicarakan saja pada saya, jika itu tentang saya, beritau saya!” tuntut Arfan yang kelihatannya teramat penasaran pada kalimat lanjutan dari Quinsha.


“Semua kata yang ingin saya sampaikan pada Akhi, sudah terhapus semuanya. Sekarang yang ingin saya katakan hanya, Terima kasih untuk bantuannya,” pungkas Quinsha dan segera memutar tumitnya untuk kembali melanjutkan langkah yang sempat terjeda.


Jangan tanyakan kenapa? jika ada air mata yang jatuh mengiringi setiap langkah. Jangan tanyakan pula, Jika ada perih yang menggerogoti jiwanya. Di saat "ketakmungkinan" menjadi jawaban, dan "berhenti berharap" menjadi keputusan, alam seakan memberikan kesempatan.


Sesakit ini rasanya, mencintai sendirian. Sesakit ini rasanya berusaha melupakan cinta yang sudah lama tertanam. Tak hanya cukup diceritakan dengan air mata dan kata-kata. Tapi alam seakan masih mengajaknya bercanda.


Arfan pun hanya bisa menerima keputusan Quinsha dalam diamnya. Sebagaimana ia juga tak mampu menolak kekawatiran yang datang dalam dirinya terhadap Quinsha. Saat ini, detik ini, ia hanya ingin melihat Quinsha baik-baik saja. Tanpa ia tau kenapa dan mengapa.

__ADS_1


__ADS_2