Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 80


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju bandara Abdul Rahman Saleh.


“Napa lu, berubah pikiran?” Tanya Adam dengan tatapan menyelidik. Padahal aslinya dia senang dengan keputusan Rafardhan, karena ia tak perlu susah-susah lagi mencari alasan untuk membatalkan acara besok.


“Ada malaikat yang bisikan ke gue. Katanya lu udah kekeringan ide buat batalin acara besok,” sahut Rafardhan dengan asal. Tapi hal itu justru membuat Adam tertawa lebar, karena semua itu memang benar.


Rafardhan tetap menatap lurus ke depan, tawa Adam yang membahana dan menggelegar tak mampu mengalihkan fokus pandangan, meski ia tetap menjawab tiap kali ditanyakan. Tanpa disadari oleh Rafardhan, kalau semua sikapnya ini diperhatikan dengan seksama oleh Adam.


“Lu, baek-baek aja Raf?”


“Ya,” jawabnya singkat.


“Cerita ke gue. Mana tau gue bisa bantu.” Adam tahu atau dapat merasa, kalau sedang ada sesuatu yang dirasakan oleh Rafardhan saat ini.


Pemuda itu memang tak mudah terbuka pada orang lain, apalagi bila sudah tentang hal yang sangat pribadi. Sedekat apapun ia dengan Adam, tetap saja ada ranah sensitif yang tak ingin ia bagi. Dan Adam sangat menghargai hal itu, sebagaimana Rafardhan juga berlaku sama terhadap dirinya.


Di satu sisi, Adam juga bisa merasakan, mana Rafardhan dengan ekspresi yang lepas tanpa beban, dan mana yang hanya menyuguhkan keceriaan sebagai tuntutan.


“Gue belum siap, Mas,” jawabnya dan kembali arahkan pandangan hanya ke depan saja.


“Ok. Asal lu tetap baik-baik saja.” Adam memang tak bisa memaksakan sesuatu pada Artisnya itu di luar konteksnya sebagai manajer artis tentunya.


“Thank, Mas. Gue baik-baik saja,”


Adam mengangguk, sesaat ia masih menatap raut wajah tampan di sampingnya itu dengan tatapan kawatir. Tapi segera ia sadar, kalau Rafardhan selalu bisa bersikap dewasa di atas segala permasalahan yang pernah dilaluinya. Maka ia yakin, akan demikian juga sekarang.


Mobil mewah itu berhenti di lampu merah, berjejer menunggu bersama sederet mobil yang lain. Kurang sekian detik dari pergantian warna lampu menjadi hijau, tiba-tiba saja terdengar suara,


BRAKK


Di susul dengan guncangan yang dirasakan semua yang ada dalam mobil.


“Ada apa nih?” tanya Adam yang sedang sibuk memantau layar ponselnya.


Terlihat sopir melongok ke belakang bodi mobil. “Sepertinya ada yang menabrak mobil ini dari belakang, Mas,” ujarnya memberitahukan.


“Hah?!” Adam kaget, gegas ia keluar dari mobil diikuti sopir untuk melihat apa yang terjadi. Sedangkan Rafardhan malah semakin menyandarkan tubuhnya dengan posisi yang lebih nyaman dengan mata terpejam.


Tapi rencana pemuda tampan itu untuk meraih ketenangan—dengan sedikit tertidur, mungkin—hanya tinggal rencana. Karena keributan yang terjadi di belakang mobilnya, menyeruak ke telinga.


Mau tak mau, Rafardhan ikut keluar juga. Pertama yang dilihatnya adalah bodi mobilnya bagian belakang yang sungguh tak sedap di pandang mata. Sementara Adam asyik mendebat seorang laki-laki muda pengendara motor yang menjadi pelaku semuanya.


“Iya, Pak. Maaf saya salah. Saya gak sengaja. Saya sedang terburu-buru Pak,” ujar lelaki itu, mencoba menjelaskan situasinya.


Tapi semuanya tak menyurutkan niat Adam untuk terus menyalahkan. Ini jenis mobil Mercy, menderita bonyok seperti itu, tentu harus mengeluarkan puluhan juta untuk kembali memulihkan seperti biasa. Ya, walaupun nantinya tetap bukan Adam yang akan mengeluarkan dana untuk perbaikan, karena ini memang mobil milik Rafardhan. Tapi sayang saja, menurut Adam kalau harus keluar dana untuk sesuatu yang tak seharusnya.

__ADS_1


“Iya, Mas. Saya paham, Anda sedang terburu-buru. Tapi apa cahaya lampu merah itu tidak bisa dilihat, Mas. Atau mobil yang segede gini, juga gak kelihatan sama, Mas?” sindiran halus bernada telak meluncur dari mulut Adam yang memang pandai berkhotbah itu.


Mungkin sekarang Adam sedang merasa senang, karena ada yang bisa ia berikan khotbah selain Rafardhan.


“Maaf, Pak. Saya sedang terburu-buru,” sahut lelaki itu dengan wajah tertunduk dan tatap mata yang gelisah. Berjibun penyesalan sudah berbaris rapi di kepalanya, terkait tindakan tak sengaja yang telah berakibat fatal di depannya.


Bunyi klakson membahana, tatkala lampu jalan telah berubah warna. Rafardhan memberi isyarat pada sopir untuk menepikan mobil agar mobil-mobil yang ada di belakang bisa kembali jalan. Karena tak mungkin, khotbah Adam pada lelaki itu, bisa dihentikan sekarang.


“Ok. Saya paham, Mas ini sedang terburu-buru dan tidak sengaja menabrak mobil kami. Terus bagaimana dengan mobil itu, Mas?” kode keras meminta ganti rugi mulai dilancarkan oleh Adam.


“Saya akan ganti rugi, Pak,” ucap lelaki itu mantap. Ia mungkin belum tahu, seberapa mahal biaya yang harus ia keluarkan untuk mengembalikan mobil itu pada kondisi semula. Bahkan dengan menjual motor yang dikendarainya pun tetap tak akan cukup, sekalipun dua motor tetap tak akan cukup.


“Dengan cara apa?”


“Ini, Pak. Ini KTP saya, Ini STNK saya. Bapak pegang dulu, sebelum saya memberikan uangnya. Cuman sekarang saya mohon, ijinkan saya pergi dulu. Bapak saya kecelakaan, Pak. Dia dirawat di rumah sakit dan saya belum lihat kondisinya.” Di wajah orang itu terlihat sangat panik.


“Mas ini tidak sedang cari alasan?” selidik Adam.


“Demi Allah pak. Saya tidak sedang mengarang cerita. Saya gak mungkin menjual nama ayah saya untuk sebuah kebohongan. Ayah saya harta saya di dunia ini, Pak.” Terlihat gumpalan air yang mengambang di pelupuk mata lelaki itu.


“Ok, tapi Apa maksudnya saya dikasih KTP dan STNK, Mas? Saya bukan pegadaian.” Adam menolak menerima semuanya.


“Ini sebagai jaminan, Pak. Saya hanya minta ijin untuk melihat kondisi bapak saya dulu. Saya mohon,” harap lelaki itu dengan raut cemas.


Rafardhan segera mendekat. “Ayahnya kenapa, Mas?” tanyanya.


“Ada di mana ayahnya sekarang?”


“RS TNI AU, lanud Abdurrahman Saleh.”


Itu adalah rumah sakit terdekat dari Bandara.


Ayo kita lihat bapaknya sekarang, Mas.” Kata Rafardhan segera. Lelaki itu ternganga heran mendengarnya.


“Mau apa, Lu Raf?” hardik Adam.


“Lu ikutin gue dari belakang!” titah Rafardhan tanpa ingin dibantah.


“Ayo, Mas. Saya ikut motornya,” ajaknya pada lelaki itu yang segera manut.


“Apa-apaan anak itu,” gerutu Adam yang melihat Rafardhan segera membonceng pada lelaki tersebut, tanpa memakai helm pula.


Apa hal yang membuat Rafardhan tergerak hatinya untuk melihat kondisi orang tua lelaki itu? Bukan karena ia ingin membuktikan kalau ucapan lelaki itu salah atau benar. Tapi karena kasih sayangnya, kekawatirannya pada seseorang yang disebut ‘Ayah’ itu yang membuat hati Rafardhan merasa tercubit.


*********

__ADS_1


“Istirahatlah!” Alarik mengusap rambut Sherin pelan.


“Mas, aku tidak sedang sakit parah ‘kan? Kenapa kau selalu menyuruhku untuk tidur?” gerutu Sherin. Padahal ia baru juga terbangun, setelah dua kali tertidur dalam sehari ini. Itu atas perintah Alarik yang selalu menyuruhnya untuk beristirahat dan tidur.


“Agar kamu sehat, Rin. Agar anak kita juga sehat,” sahut Alarik yang selama seharian ini tak beranjak dari rumah sakit sedikit pun.


“Aku sudah sehat, Mas,” ucap Sherin sambil senyum. “Sudah jam 4 lewat. Mas belum sholat ‘kan?”


“Wah iya, aku ke musholla sebentar ya,” pamit Alarik. Tak lupa ia mencium Sherin sejenak pas bersamaan dengan Kedatangan Quinsha yang jadi terpaku di tengah pintu melihat adegan kemesraan itu.


“Sha!” panggil Sherin yang melihat Quinsha masih terpaku.


Gadis cantik itu tersenyum dengan ekspresi yang kurang nyaman.


“Masuklah! Temani Sherin sebentar ya, aku mau ke musholla,” ucap Alarik pada Quinsha dan segera keluar setelah mendapat anggukan.


“Aku melihat ada pelangi di sini,” ucap Quinsha sambil melangkah mendekati Sherin.


“Mana ada pelangi, Sha. Gak ada hujan juga,” sahut Sherin sambil menatap ke luar jendela. Langit cerah di luar sana.


“Nah itu. Pelangi itu datangnya memang setelah hujan. Tapi pelanginya bukan di sana. Tapi di sini!” tunjuk Quinsha ke wajah Sherin. “Ada pelangi di matamu,” imbuhnya sambil tersenyum.


“Aih, kayak judul lagu,” sambut Sherin sambil tertawa riang.


“Atas nama apapun, Sherin. Aku senang melihat kau dan suamimu sekarang,” ungkap Quinsha setelah tawa renyah yang mengudara di antara mereka, sirna.


“Iya, Alhamdulillah. Kehamilan ini membawa berkah.” Sherin meraba perutnya. “Walaupun mungkin, dia melakukan semua itu atas nama anaknya, bukan ibu yang mengandung anaknya. Setidaknya itu sudah lebih baik.”


“Perlu suatu saat hal ini, kalian bicarakan. Biar semuanya jelas. Untuk saat ini, berpikir seperti itu masih kurang tepat. Karena kamu ‘kan belum tahu pasti apa alasan suami kamu.”


“Iya, Sha. Kamu betul. Terima kasih ya, sudah selalu mengingatkan.


Keduanya terus terlibat perbincangan, hingga waktu maghrib hampir menjelang.


Alarik memasuki ruangan itu lagi. “Mas, ponselmu ada beberapa kali panggilan dari tadi!” tutur Sherin memberitahukan.


“Gak diangkat, Rin?”


Sherin menggeleng sambil tersenyum. Alarik segera meraih ponsel yang ia tinggalkan di atas meja melihat siapa yang telah meneleponnya. Ada tiga panggilan tak terjawab dari satu nomor yang sama. Nomor yang tak tersimpan di kontaknya.


Melihat frekuensi panggilan itu, Alarik segera menelepon balik. Tak perlu menunggu lama, teleponnya langsung diangkat dari sana.


“Assalamualaikum,” sapa Alarik.


“Waalaikumsalam,” jawab dari seberang dengan suara pelan.

__ADS_1


“Maaf, ini dengan siapa?” tanya Alarik sopan.


“Saya,” suara itu terdengar tersendat. “Saya, Rafasya Aditya Zaidan.”


__ADS_2