Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 119


__ADS_3

“Selain sebagai top model papan atas, Nona Ayunda juga menjadi peliharaan para bos berkelas.” Kalimat yang digunakan oleh Stefan terdengar tajam dan menusuk, tapi Ayunda bergeming. Bagi Ayunda, menjadi Model dengan merangkap profesi yang disebutkan oleh Stefan barusan, itu bukan hal yang baru, bukan hal yang aneh. Dan yang penting bukan hanya dirinya saja yang melakoni hal itu.


Karenanya, Ayunda tetap membusungkan dada, merasa apa yang disebutkan barusan bukanlah aib baginya, apalagi masalah. Stefan pun menatap pada model cantik itu dengan tatapan datarnya.


“Ini hal biasa ya, bukan suatu dosa?” sindir lelaki itu dengan santainya. Ayunda mengarahkan lirikan tajam dengan ujung mata pada lelaki itu. “Bagaimana dengan, Penerima aliran dana dari salah satu pejabat yang kasus korupsinya sekarang sedang dalam tahap penyidikan. Rumah mewah, mobil mewah, dan 3 unit Apartemen yang Nona Ayunda miliki, adalah dari dana korupsi pejabat tersebut.” Stefan kembali menyebutkan satu lagi rahasia hidup Ayunda yang selama ini ditutupi.


Kali ini Ayunda terlihat menahan napas ‘dari mana dia tau’ monolognya dalam hati. Akan tetapi, lisannya segera tergerak dan membentuk ucap. “Jangan asal menuduh ya, Tuan.”


“Stefan.” Laki-laki itu menunjuk dadanya sendiri. “Tak pernah mengatakan sesuatu yang tak disertai bukti,” sesumbarnya penuh percaya diri.


Sementara Hanum dan Niel mulai saling pandang dan saling bertukar tanya lewat isyarat mata.


Stefan beralih tatap pada salah satu anak buahnya yang berdiri tak jauh dari mereka. Laki-laki yang menutup wajahnya dengan masker itu mengangguk. Ia lalu mengeluarkan ponsel dan mengutak-atiknya sebentar. Terdengar notifikasi masuk di ponsel Ayunda, sementara laki-laki itu sendiri kembali meletakkan ponsel dalam saku dan berdiri tenang seperti semula.


“Bukti sudah kami kirim ke ponselmu,” kata Stefan pada Ayunda. Wanita itu melirik kanan kiri, sepertinya ini adalah sebuah kesempatan, begitu yang terlintas di pikirnya. Selain melihat bukti apa yang telah dikirim ke ponselnya, ia juga berniat Sharelock pada manajernya, agar mereka bisa tau di mana kini dirinya berada dan dapat mengirimkan bantuan.


Akan tetapi, sepasang matanya jadi terbelalak kaget melihat ada beberapa foto dirinya di sebuah hotel bersama salah satu pejabat yang baru-baru ini tertangkap karena masalah korupsi. Dalam foto itu cukup menjelaskan bagaimana kedekatan Ayunda dengan sang pejabat. Lekas wanita itu menghapus semua foto dengan tangan bergetar.


“Wahh, lihai juga kau Yun,” ledek Niel yang juga sempat melihat pada foto-foto itu. Ayunda hanya mendengkus samar sambil terus menghapus foto-foto yang berjumlah tak kurang dari sepuluh itu.


“Hapus saja, gak papa. Yang ada pada kami bukan hanya foto seperti itu, tapi juga video,” ucap Stefan yang membuat Ayunda menahan napas. Namun, segera ia teringat untuk mengirim Sharelock, maka tangannya segera dengan lihai menari di atas layar ponsel. Dan saat pesan terkirim, terdengar notifikasi di ponsel anak buah Stefan.


“Leon?” Stefan menatap anak buahnya itu, yang segera melihat ponselnya.


“Dia mengirim Sharelock pada manajernya, Pak,” lapor laki-laki itu.


Ayunda terperangah. Ia menatap kaget pada Stefan yang menyeringai kecil ke arahnya. “Apa kau pikir kami bodoh? Membiarkan tawanan kami tetap memegang ponsel, kalau bukan karena ponselnya itu sudah ada dalam penguasaan kami,” tukas lelaki itu. Yang membuat Ayunda harus menelan ludah getir.

__ADS_1


“Bagaimana? Apa itu sudah cukup untuk membuatmu mau mengakui sendiri kejahatanmu pada tuan Rafasya?”


Ayunda belum bisa menjawab pertanyaan Stefan itu. Ia hanya menatap kesana kemari seperti sedang mencari-cari, atau justru sedang berharap akan ada yang datang untuk menolongnya saat ini.


“Sekali lagi aku terangkan. Jika kalian pilih mengakuinya sendiri, hanya satu kejahatan itu yang akan kalian akui. Tapi bila pihak kami yang melaporkan, seluruh kejahatan kalian yang lain juga akan kami ungkapkan.”


Ayunda tampak kian kebingungan dengan ucapan Stefan, dan wajah cantiknya kian terlihat tegang.


“Aku ...” Hanya itu kata yang terucap dari Ayunda.


“Atau mungkin, aku perlu menyebut nama klinik kecantikan ilegal milikmu yang ada di Jakarta utara. 2 di Bekasi dan satu di Bogor,” ancam Stefan lagi yang kian membuat Ayunda terperangah.


“Ja-jangan,” cegahnya dengan terbata. “Oke, Aku akan akui semuanya.”


“Apa-apaan kamu, mau menghancurkan kariermu?” sergah Niel.


“Aku berpikir sehat, Niel. Jika satu hal ini aku akui, setidaknya aku bisa menyelamatkan milikku yang lain,” jawab Ayunda.


“kalau kamu gak mau mengakuinya, aku yang akan melaporkan tindakanmu,” ancam Hanum pada kekasihnya itu.


“Honey.” Langsung kaget menatap wanita yang teramat dicintainya itu dengan tak percaya. “Begini ya caramu membalas rasa cintaku selama ini?”


“Niel, ini bukan soal rasa cinta atau bukan,” jawab Hanum dengan nada cukup tinggi.


“Lalu tentang apa, Hanum?” Niel pun berucap dengan suara yang tak kalah tingginya.


Stefan hanya memerhatikan mereka dengan tatapan datar, sedangkan Ayunda harus dibuat pusing karena sesekali menatap pada Hanum yang ada di samping kanannya, dan sesekali menatap Niel yang ada di samping kirinya. Walhasil, kepala model cantik itu harus miring Kanan, miring kiri seperti pergerakan lonceng masjid yang besar.

__ADS_1


Leon, salah satu anak buah Stefan yang tak ambil peduli dengan perdebatan sepasang kekasih itu, segera merogoh ponsel dan melihatnya, saat terdengar ada notifikasi masuk kesana.


“Pak!” Leon segera maju dua langkah menghadap Stefan.


“Ya.” Lelaki tampan berwajah dingin itu hanya menjawab sekilas.


“KM Merpati 2 sudah merapat di Tanjung Priok, Team kami sedang menunggu perintah dari, Bapak,” lapor Leon yang segera mendapat anggukan dari Stefan.


“Tuan Nathaniel. Barang selundupanmu dari luar negeri sudah tiba di pelabuhan. Bagaimana menurutmu jika team kami yang ada di sana langsung mengamankan dan melaporkan pada pihak berwenang?” gertak Stefan yang membuat Niel seketika bungkam.


“Barang selundupan apa?” tanya aktor kelas atas itu setelah berhasil kembali menguasai keadaan.


“Tak perlu berlagak bodoh. Itu hanya dilakukan oleh seorang pengecut.” Stefan berdecak dengan mata memicing. “Pelindungmu yang bekerja di kesatuan, sudah ada di tangan kami. Dan darinya kami sudah menggali banyak informasi tentang sepak terjangmu.”


Niel langsung menelan ludah getir mendengarnya. Tapi sungguh ia tak ingin percaya info ini begitu saja. Niel tertawa, menunjukkan bahwa dirinya tak kan mudah digertak tanpa alasan yang jelas.


Melihat itu, Stefan memberi isyarat pada Leon, yang segera maju dan memberikan ponselnya pada Niel. “Temanmu ingin bicara,” ucap Leon dengan gaya bicara tak kalah datarnya dari Stefan.


Hanya sekian menit, Niel melihat pada layar ponsel itu, wajahnya langsung berubah pucat, dan nyalinya menjadi ciut. Ia bahkan menunduk, seakan tak tau harus berkata apa.


“Kami bukan pembual. Ingat itu! Jika kau punya orang di kepolisian yang berpangkat tinggi. Orang kami di sana, pangkatnya jauh lebih tinggi. Dan sangat penting juga untuk diingat.” Stefan menunjuk wajah Niel dengan telunjuk terarah. “Berpikirlah 10 kali sebelum berniat mencelakai orang, terlebih orang-orang dari keluarga William Pramudya. Karena Kami punya slogan untuk membalas dua kali lipat dari perbuatan yang dilakukan.”


Stefan segera berbalik badan seraya memberi titah pada Leon. “Perintahkan team untuk mengamankan KM merpati dua!”


“Tunggu!” Niel maju beberapa langkah. Dan sesaat ia masih meraup napasnya berkali-kali sebelum mulai bicara. “A-aku akan menyerahkan diri, dan mengakui segala perbuatanku pada Rafardhan,” putusnya dengan tegas dan sepenuh tekad.


💕💕💕

__ADS_1


Cinta Tak Bertuan..sudah ada di detik-detik akhir, sebentar lagi, ia akan tutup buku. Tapi aku berharap, kalian semua tidak beranjak, karena aku akan hadir dengan karya baru, yang insya Allah ceritanya tak kalah seru..


Mohon dukungannya selalu ya..


__ADS_2