
“Foto apa?”
“Foto kamu.”
“Foto saya?” Quinsha sedikit mengerutkan keningnya. “Di mana Akhi melihat foto saya?”
“Jadi kamu gak tau, ya?” Arfan malah balik tanya. Quinsha menggeleng. Tatapannya menyiratkan ketidaktahuan. “Kamu tidak tau, foto kamu sama artis itu di sebuah tabloid?”
“Hah!” seru Quinsha heran. Nyata sekali ekpresi keterkejutan di wajahnya sekarang.
Arfan segera mengeluarkan ponsel dari saku bajunya. Mengotak-atik layarnya sebentar, lalu menyodorkan ponsel tersebut pada Quinsha. “Astaghfirloh!” Quinsha segera menutup mulut dengan tangan setelah melihat fotonya bersama Rafardhan di sebuah tabloid.
Dalam foto itu terlihat Quinsha berdiri di samping mobil dengan kepala menunduk. Dan satu tangan Rafardhan mengusap kepala berbalut hijab itu. Bisa dibayangkan betapa dekatnya posisi keduanya dalam foto tersebut.
Quinsha ingat kalau itu adalah fotonya saat tanpa sengaja ditubruk oleh Rafardhan, di sebuah tempat parkir pusat perbelanjaan. ‘Dasar para wartawan, mereka sudah mengunggah foto yang belum terbukti salah dan benar’ rutuk Quinsha dalam diam.
“Itu tabloid langganan adik saya,” tutur Arfan, seraya menatap Quinsha yang terdiam seakan tak tahu harus berkata apa. “Itu, betul kamu, atau bukan?” tanya Arfan kemudian.
__ADS_1
Quinsha menatap Arfan sekejap tak mampu untuk segera menjawab. Sulit baginya untuk mengingkari kalau itu bukan fotonya. Dia juga sadar kalau itu memang betul foto Quinsha bersama Rafardhan. Dan dia juga ingat di mana foto itu diambil oleh para wartawan. Tapi kalau ia mengakuinya, tak dapat ia menebak, apa yang akan dipikirkan oleh Arfan. Karenanya, Quinsha jadi memilih diam.
“Baiklah, kalau kamu gak bersedia menjawab,” putus Arfan. Melihat Quinsha diam dan terlihat enggan, Arfan sadar kalau dirinya mungkin terlalu ingin tahu tentang privasi gadis cantik itu. Tapi tanda tanya yang teramat besar telah mengusiknya dari semalam. Dari sejak ia menemukan foto itu di tabloid mingguan langganan.
Arfan juga tidak tahu, kenapa dia menjadi sepenasaran itu untuk mengetahui yang sebenarnya tentang Quinsha Daneen. Padahal mereka bukan teman akrab, apalagi teman dekat.
“Itu memang saya,” sahut Quinsha cepat.
“Eh” kini giliran Arfan yang terdiam. Entahlah, kenapa ada rasa kecewa di dasar hatinya terdalam mendengar pengakuan Quinsha ini. “Bersama Rafardhan?” tanya Arfan seperti ingin lebih memastikan. Dan, tidak ada yang tahu, kalau di dasar hati Arfan sedang tertanam harapan kalau Quinsha akan berkata ‘bukan’. Tapi apa jawab Quisha.
Arfan langsung menahan napas untuk sekian detik.
“waktu itu kami tidak sengaja bertemu,” terang Quinsha kemudian.
“Lalu?” Arfan tak sabar ingin tahu kelanjutan kisahnya. Dan mau tak mau Quinsha pun menceritakan kejadiannya, dengan satu harapan agar tak terjadi fitnah yang tak diinginkan tentang dirinya dan artis kenamaan itu.
Sepeninggal Arfan, Quinsha bolak-balik melihat layar ponselnya. Sudah hendak menelepon satu nomer tapi diurungkan, sudah mengetik pesan tapi dibatalkan. Niatnya cukup besar untuk menghubungi manajer Rafardhan, guna menanyakan perihal tersebut. Tapi mengingat cara bicara Adam waktu ia menelepon, dan cara bersikap Rafardhan waktu menumpang dalam mobil, ia jadi ragu untuk menghubungi mereka sekarang.
__ADS_1
Apalagi, seharusnya pihak mereka menghubungi Quinsha terkait dompet milik Rafardhan yang tertinggal padanya, tapi sampai sekarang mereka tak memberikan kabar. Bagi seorang artis besar yang simpanan uangnya sudah tak terbilang, kehilangan dompet beserta isinya, mungkin adalah hal yang tak patut dipikirkan. Tapi bagaimana dengan berita yang sudah tersebar ini, apakah mereka juga tak mempermasalahkan?
Kini Quinsha jadi kegerahan sendiri, tatapannya berkali-kali mengarah pada foto dirinya di halaman utama Tabloid yang sengaja ditinggalkan oleh Arfan.
Keraguan dan kemantapan pun silih berganti menghampirinya. Hingga kemudian ia tiba pada ujung titik keputusan, bahwa berita ini tak bisa dibiarkan.
Quinsha segera berdiri menepi, dan menghubungi manajer Rafardhan. Tapi sudah tiga kali panggilan tetap tak ada jawaban. Tak kehilangan akal, Quinsha mengambil kartu nama Rafardhan yang masih tersimpan rapi di dalam tasnya. Tapi setelah diperhatikan dengan seksama, nomor telepon yang tertera di sana, adalah nomor yang sudah tiga kali tak merespon panggilan dari Quinsha. Artinya, itu adalah nomor milik Adam, bukan nomor pribadi Rafardhan.
Quinsha kembali meraup napasnya untuk kesekian. Duduk lalu berdiri dan kemudian duduk lagi, sudah dilakoninya berulang-ulang. Tapi sampai saat ini belum ada tindakan yang menjadi keputusan, setelah tak dapat menghubungi Rafardhan.
Satu-satunya hal yang membuat Quinsha merasa tenang adalah, saat teringat ucapan Arfan sebelum berpamit pergi. “Pihak Rafardhan pasti sudah tau lebih dulu tentang berita ini. Dan tentunya mereka sudah menglarifikasi. Jadi kamu tenang saja. Berita ini pasti akan berlalu,” ucap lelaki itu terkesan menenangkan Quinsha yang terlihat sangat tidak nyaman.
Meski sedikit merasa tenang, Tapi rasa penyesalan tak dapat ia hilangkan dari pikiran. Jika saja saat itu ia sadar, kalau lelaki yang menumpang di mobilnya itu adalah seorang artis besar, Quinsha pasti sudah mengusirnya keluar. Sehingga ia tak perlu menerima masalah seperti ini sekarang.
Tapi Benarkah, Qhinsha akan bisa mengusir Rafardhan saat itu?
Dan perasaan tidak nyaman itu tetap memeluk jiwa Quinsha hingga waktu pulang tiba.
__ADS_1