
Sudah lewat setengah jam perjalanan, dan belum ada satu kata pun yang terucapkan. Hanum masih setia menatap keluar melalui kaca samping mobil. Padahal tak ada pemandangan indah yang dapat ditangkap oleh pandangan. Karena saat ini memang masih pagi buta, bahkan belum terdengar adzan subuh berkumandang.
Sudah berkali-kali Nataniel menoleh pada wanita yang duduk di sampingnya itu, tapi sampai detik ini belum ada kalimat yang mampu ia ucapkan. Sudah cukup ia berhasil membujuk Hanum untuk ikut dalam perjalanan. Selebihnya ia tak ingin membuat wanitanya itu kembali terluka, setelah kekecewaan demi kekecewaan yang telah ia berikan.
Nataniel sebenarnya bukan orang sepicik itu. Pendidikannya bahkan sangat tinggi dan dedikasinya di dunia selebritas juga tak bisa diragukan lagi.
Tapi kali ini ia terhasut oleh Ayunda yang mendatanginya dan memoles cerita. Ayunda menawarkan kerja sama untuk memisahkan kedekatan Hanum dan Rafardhan dengan cara tak biasa. Niel yang sudah mulai terhasut dengan cerita runcing dari mulut manis Ayunda, tiba-tiba merasakan kebenciannya pada Rafardhan mencuat ke permukaan. Hingga kemudian dia menjadi aktor di balik tertangkapnya Rafardhan.
Dan Ayunda—yang menaruh harap cinta begitu besar pada Rafardhan, tapi tak kesampaian itu—bertindak sebagai Sutradaranya. Kini Nataniel hanya bisa merutuki kebodohannya yang mau saja terhasut oleh Ayunda, seorang model yang kariernya di dunia Entertainment tak secemerlang Nataniel.
Tapi, apakah penyesalan itu sekarang masih berlaku?
Berharap saja, Niel agar pelarianmu kali ini berhasil. Tutup telingamu dari berita tentang sepak terjang keluarga William yang tak pernah membuat musuhnya beristirahat dengan tenang. Kemana pun, bahkan hingga ke ujung bumi, pasti akan tetap di kejar. Jangan dengarkan kabar itu. Agar kau merasa aman. Dan sampai ke New Zealand, negara tujuan pelarian.
Lamunan Niel harus berakhir ketika terdengar pertanyaan Hanum pada supir di depan. “Kenapa berhenti, Pak? Kita belum sampai di Bandara ... dan ini bukan jalan ke Bandara.” Hanum segera menoleh kanan kiri. Astaga, ini sungguh tempat yang tak dikenalnya sama sekali. Asing dan sepi.
Niel pun belingsatan ikut melihat ke luar. Hasilnya kini mereka saling pandang terheran-heran. Terlihat sang supir beringsut hendak keluar.
“Yanto, kamu mau kemana?” tegur Niel pada supirnya.
Lelaki yang ditengarai sebagai Yanto itu membuka topi yang menutup wajahnya dan menoleh.
“Loh, kamu bukan Yanto, kamu siapa?” tanya Niel heran setelah melihat sopirnya itu adalah orang lain yang tak dikenalnya sama sekali.
“Salah satu kesalahan yang fatal, adalah tidak teliti melihat siapa orang yang duduk di belakang kemudi mobil sendiri. Dan kesalahan itu yang telah kamu lakukan,” jawab lelaki itu dengan tenang dan santai.
“Siapa kamu?” sentak Niel.
__ADS_1
“Kita kenalan di luar aja, biar lebih leluasa.” Dan lelaki itu meneruskan niatnya untuk turun dari mobil. Niel dan Hanum segera mengikuti, setelah sempat saling pandang berkali-kali.
Lelaki itu berdiri dengan tangan bersedekap, menatap Niel dan Hanum dengan pandangan lekat.
“Sekarang katakan kamu siapa!” titah Niel.
“Aku yang mengirimkan USB itu padamu,” jawab lelaki itu dengan senyum tipis. Tapi meski tersenyum tak ada kesan keramahan sama sekali darinya.
Nyata sekali Niel dan Hanum yang tersentak kaget. Tapi lelaki yang sudah kenyang di dunia ackting itu menampakkan wajah tenang, mencoba kemampuan aktingnya di depan lelaki yang tak dikenal itu. Tapi percayalah, keringat dingin di tubuhnya mulai bercucuran.
“Jadi kamu? Apa maksudnya semua itu?” tanya Niel dengan suara dibuat setenang mungkin.
Lelaki itu kembali menampakkan senyum tipis. “Aku tak sedang berhadapan dengan anak kecil bukan? Jadi tak mungkin kamu tak paham dengan semua itu. Tapi kalau kamu memang memilih untuk pura-pura tak paham, biar aku perjelas semuanya.” Lelaki itu menepuk tangannya dua kali. Dan lalu dari arah kejauhan muncul dua orang yang tengah mengapit seseorang. Setelah jarak mereka dekat, barulah Niel dan Hanum dapat melihat dengan jelas.
“Ayunda!?”
Benar, wanita yang diapit oleh dua orang pria berkemeja hitam itu adalah Ayunda, yang kini terlihat menatap keduanya sekilas lalu menundukkan wajah.
Niel terdiam hanya tatapannya sesekali bertemu dengan Ayunda yang juga masih diam.
“Jadi ini semua ulah kalian berdua ya.” Hanum yang mengeluarkan suara.
“Sorry Num. Maafin aku,” ucap Ayunda. Dan selanjutnya ia menatap Niel. “Semuanya sudah selesai, Niel. Kita gak bisa lagi mengelak ataupun menghindar.”
“Semua ini gara-gara kamu, Yu. Kamu yang jadi penyebab semua kekacauan ini.” Niel mendekat pada Hanum dengan ekspresi marah.
“Aku saja yang salah?” sentak Ayunda.
__ADS_1
“Ya, ini semua idemu,” balas Niel dengan raut kesal.
“Lalu kenapa kamu setuju.” Ayunda menjawab tak kalah kesal.
“Sudah selesai perdebatannya?” Laki-laki yang belum mereka kenal itu menginterupsi dengan wajah datar. Membuat semua jadi melihat ke arahnya secara bersamaan.
“Aku hanya ingin menyampaikan satu hal pada kalian. Tuan Nataniel, dan Nona Ayunda,” ucap lelaki itu dengan tatapan terarah. “Atas kejahatan kalian berdua ini terhadap tuan Rafasya, kami yang akan mengungkapkannya pada semua orang, atau kalian berdua yang akan membuat pengakuan sendiri?”
“Kami?” Niel bertanya pelan.
“Ya, kami. Mungkin aku perlu memperkenalkan diri, supaya kalian paham, siapa yang aku maksud dengan kata ‘kami’. Namaku Stefan, aku bekerja pada tuan Damaresh William. Sepupunya tuan Rafasya.”
Nataniel dan Ayunda sontak saling pandang. Sedangkan Hanum langsung tertunduk dalam.
“Atasanku, tuan Damaresh, tidak suka mengusik apalagi ikut campur urusan orang. Tapi, bila dia yang merasa terusik, maka akan selalu memberi pembalasan yang dua kali lipat lebih besar. Dan berusaha menghindar dari incaran tuan Damaresh, dengan sangat terpaksa ku katakan, itu hanyalah kesia-siaan.”
“Bagaimana, sudah bisa menjawab atas dua pilihan yang aku berikan?” Stefan menatap dua orang di depannya itu dengan seksama.
“Kenapa kami harus mengikuti peraturan kalian?” cetus Niel dengan keengganan.
“Pertanyaan yang cerdas, Tuan Niel.” Stefan sejenak tergelak. “Sama-sama ada konsekuensi yang harus kalian bayar, dengan mengikuti aturan kami, terlebih lagi bila tidak. Jika kalian yang mengakui sendiri perbuatan kalian, kalian hanya akan menyebutkan satu kejahatan kalian sekarang, yaitu menjebak Tuan Rafardhan. Tapi jika kami yang membongkar kejahatan kalian, akan kami sebutkan semuanya, sampai ke akar-akar. Bagaimana? Tuanku cukup berbaik hati bukan pada kalian?” Stefan kembali menyematkan senyuman. Senyum seorang pemenang.
“Tuan Stefan mengatakan demikian, seolah kami ini sudah melakukan banyak kejahatan,” ucap Niel dengan tatapan meremehkan.
“Rupanya kali ini, aku menemukan lawan bicara yang menyenangkan.” Stefan berdecak kesal. “Tuan Damaresh sekarang memberiku tugas yang tak aku sukai. Harus banyak bicara dan menjelaskan. Padahal aku lebih suka tugas yang langsung menggunakan tindakan.” Lelaki tampan itu menggerutu dengan suara pelan. Kendati demikian keluhannya itu dapat didengar oleh semua orang.
Stefan mengeluarkan Iphon dari saku nya, terlihat memerhatikan layar itu seksama sebelum menyampaikan apa yang telah ia dapatkan dari sana.
__ADS_1
🌹🌹🌹
lanjut Next episode ya..udah kriting nih tanganku