Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 79


__ADS_3

Rafardhan mengatupkan matanya rapat, dan membuang pandangannya dengan cepat. Kini pemandangan hijau di halaman samping menjadi fokus tatapannya, bukan lagi wajah sang bunda yang berderai air mata.


Sekian lama, ia biarkan dirinya tenggelam dalam maya pikirannya sendiri. Tanpa ada hal apapun yang dapat mengusiknya, termasuk isak tangis menyayat dari Risa yang terdengar kini.


Rendi juga terdiam tanpa bisa mengeluarkan kata-kata lagi. Ia hanya sesekali menatap Risa yang berkubang dalam rasa sesal berhias tangis, yang enggan berhenti. Sesekali pula ia menatap wajah tampan Rafardhan yang sedikit pun tak menunjukkan sebentuk ekspresi.


Rendi menghela napasnya pelan. Di akhir penelusuran yang tak menemukan kejelasan. Ia tak dapat menebak apa yang dirasa oleh Rafardhan sekarang. Kecuali hanya satu kemungkinan, kalau pemuda itu pasti sangat merasakan kekecewaan.


Pemuda tampan itu sendiri tengah menjelajahi maya pikirannya ruang demi ruang, dan lorong demi lorong waktu yang telah berlalu. Jembatan masa, demi masa yang telah terlewat. Tak ada yang dapat menahan langkahnya untuk berhenti. Tidak juga berupa panggilan berupa sapa atau tanya.


“Maafkan bunda, Nak.” Pun dengan ucapan Risa itu, tak mampu memanggil Rafardhan untuk kembali. Ia tetap melangkah menyusuri ruang waktu yang telah terlewati, lembar masa yang telah terlalui.


Terus diamnya sang putra semakin menggelisahkan batin Risa. Hingga yang dirasanya kini bukan hanya sebatas penyesalan dan kesedihan, tapi juga ketakutan yang mendominasi.


“Nak, maafkan bunda,” ucap Risa sekali lagi, dengan harapan dua kali lipat lebih besar dari sebelumnya.


Tapi Rafardhan seperti berlagak orang tuli, yang tak bisa mendengar sama sekali. Atau justru dia memang benar-benar tak mendengar ucapan Risa, karena terlalu lena dengan kelana pikirannya sendiri.


Tak tahan dengan kebisuan putranya, tak tahan didiamkan begitu saja. Risa menggerosoh ke lantai, duduk bersimpuh di hadapan Rafardhan, dan permohonan ampun ia lafadzkan. “Maafkan, bunda, Sayang.”


RAfardhan tersentak mendapati kondisi Risa sekarang. Segera ia meraih bahu sang bunda dan membimbingnya untuk duduk kembali.


“Maafkan bunda, Nak,” pinta Risa sekali lagi.

__ADS_1


RAfardhan masih diam, tanpa melepas tatap dari sepasang mata Risa yang sembab. Hingga kemudian.


“Harusnya Bunda dan Ayah tetap simpan saja cerita itu selamanya, tak usah memberitahuku apa yang sebenarnya,” ucap Rafardhan.


“Nak ...”


“Biarkan aku tidak tau cerita yang sebenarnya. Biarkan aku tetap dengan apa yang kurasakan selama ini.”


“Bunda memang salah, Nak. Harusnya bunda memberitahukan padamu dari awal kisah yang sebenarnya. Bunda minta maaf.” Risa kembali tak bisa membendung air matanya.


“Aku mengerti apa yang bunda rasakan, Bunda marah atas kepergian mama, marah atas kepergian kakek. Aku paham semua alasan, Bunda. Tapi dengan tidak menceritakan yang sebenarnya, aku sudah membenci papa kandungku sendiri, Bunda. Tak hanya sekedar benci, aku marah, bahkan aku dendam kepadanya.”


Rafardhan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Teringat semua atmosfer kebencian yang begitu melekat dalam jiwanya, pada seorang pria bernama Alarik William, yang telah dianggap menelantarkan dirinya, dan mamanya. Serta enggan mengakui keberadaan sang putra di muka bumi ini.


“Tak hanya itu, Bunda, aku berniat membalaskan semua rasa sakit hatiku kepadanya. Aku ingin dia kehilangan orang yang dicintai. Bahkan aku punya niat untuk memisahkan dia dari istrinya sekarang,” ungkap Rafardhan dengan suara bergetar.


“Rafa!” Rendi berseru kaget. Sementara Risa hanya makin tertunduk dengan rasa bersalah yang kian dalam. “Kau tau pada istri papamu yang sekarang?” tanya Rendi pelan.


“Ya, aku melihat mereka di Mall, dua hari setelah aku ada di kota ini.”


Rendi mengusap wajahnya pelan dan meraup napasnya samar. Tak ia sadari, kalau sedalam ini kemarahan Rafardhan pada Alarik. Jika saja, Rendi dan Risa tak segera memberitahukan yang sebenarnya, niscaya pemuda itu sudah terjerumus dalam perbuatan dosa, mendzalimi ayah kandungnya sendiri.


Cerita itu berawal dari Rafasya yang menemukan sebuah foto lama di laci meja kerja Risa. Foto Kanaya dan seorang pemuda tampan yang masih sama-sama memakai seragam putih abu-abu. Merasa sangat penasaran dengan foto pemuda yang dirasa sangat mirip dengan wajahnya itu, Rafasya yang saat itu juga sudah menginjak usia 17 tahun bertanya pada Risa dan Rendi yang diketahuinya sebagai ibu dan ayah kandungnya selama ini.

__ADS_1


Mula-Mula, Risa terkesan menutup-nutupi, dan tak ingin menyeritakan siapa orang yang ada dalam foto itu. Tapi Rendi, yang menganggap bahwa Rafa sudah dewasa dan sudah saatnya tahu yang sebenarnya, memberi kode pada Risa agar bercerita yang sebenarnya.


Saat itulah, Rafa baru tahu, kalau ia adalah anak Kanaya adik kandung Risa yang meninggal saat melahirkan dirinya. Risa juga bercerita kalau lelaki dalam foto itu adalah Alarik, ayah biologis Rafa yang meninggalkan Kanaya saat tahu kalau kekasihnya berbadan dua.


Risa tak mengatakan hal yang sebenarnya tentang Alarik, tentang bagaimana lelaki itu berusaha dan berjuang untuk bisa menikahi Kanaya.


Dalam cerita Risa pada Rafa, Alarik menjelma sebagai tokoh antagonis yang telah membuat Kanaya meninggal, dan menyebabkan ayah Risa dan Kanaya—Rahman Malik—juga meninggal. Keluarga mereka terusir dari Jakarta dan lain sebagainya.


Hingga benih-benih kemarahan dan kebencian tertanam subur dalam diri Rafasya yang selanjutnya berubah menjadi Rafardhan. Bertemu dengan Alarik adalah sesuatu yang sangat tidak ia harapkan. Bahkan kemudian kebencian dan kemarahan itu berubah menjadi dendam yang harus segera dilampiaskan.


“Sebegitu dalamnya aku membenci papaku, Bunda. Dan itu semua karena Bunda yang tak menceritakan hal yang sebenarnya. Kemarahanmu dan kebencianmu, sudah menyesatkan perasaanku, Bunda. Sekarang apa yang bisa ku lakukan, setelah semuanya terlanjur seperti sekarang,” tandas Rafardhan dengan suara bergetar. Bahkan hampir saja, setitik bening yang sudah mengambang, menggelinding di wajahnya yang sangat tampan.


“Ayo kita temui papamu sekarang, Rafa. Dia pasti akan memahami keadaanmu. Dia sangat berharap kepadamu,” ajak Rendi. Namun, Rafardhan hanya menjawab dengan gelengan.


“Tidak, ayah. Aku tidak tau sekarang, kepada siapa aku harus lebih percaya.” Pemuda tampan itu segera bangkit hendak pergi.


“Rafa.” Risa segera menahan langkahnya.


“Aku akan kembali ke Jakarta sekarang,” putus Rafardhan.


“Rafa, Bunda mohon, Nak,” isak Risa penuh harap.


“Aku sudah memaafkan, Bunda. Tapi aku butuh waktu untuk sendiri. Tak mudah bagiku untuk menerima semua kenyataan ini,” pungkas pemuda tampan itu dan gegas berlalu.

__ADS_1


Rafardhan segera menelepon Adam yang sudah memutuskan untuk kembali ke Jakarta sore ini. Pemuda tampan itu yang sedianya akan kembali esok hari, jadi mengubah semua rencananya dan memilih ikut kembali ke Jakarta sekarang juga.


__ADS_2