
“Alhamdulillah ...” Arfan menjadikan kalimat syukur itu sebagai tanggapan atas ucapan Quinsha. Yang ia harap dalam hatinya, adalah tak ada kesakitan dalam hati Quinsha atas dirinya. Karenanya permintaan maaf ia lafadzkan. Bukan karena berharap ada apa-apa.
Arfan juga menyertai ucapannya dengan senyuman. Dan masih ada satu hal yang ingin ia sampaikan, tapi hanya tertahan di tenggorokan dan berakhir dengan hembusan napas ringan, tatkala Zahwa telah kembali menghampiri usai berteleponan.
“Ummi nanya, apa kita masih ada di KUA, Mas,” tutur Zahwa yang mendapat anggukan dari Arfan.
“Gak papa kok, kalian teruskan saja rencananya,” kata Quinsha.
“Gak papa kok mbak, kami gak sedang terburu-buru, lagian kasian mbak Quinsha sendirian aja di sini,” keukeh Zahwa.
QUunsha sepertinya tak dapat menolak niat baik gadis itu untuk menemaninya. Tapi di satu sisi, Quinsha juga harus menjaga perasaannya sendiri. Berlama-lama di dekat Arfan dan tunangannya akan sangat tidak baik untuk hatinya. Meski ia sudah mengatakan “telah baik-baik saja” tapi untuk hal itu tak serta merta, melainkan ada prosesnya juga.
“Saya sudah ada janji sama seseorang, yang akan datang menemani, mungkin sebentar lagi,” tutur Quinsha, sebuah sandiwara sedang ia mainkan sekarang.
“Siapa, Mbak? Some one special?” seloroh Zahwa.
Quinsha terkekeh pelan seraya mengalih pandangan. Dan di arah pandangan itulah ia menangkap siluet orang yang baru kenal.
Quinsha memasang mata awas memerhatikan. Dalam jarak 30 meter, laki-laki bertubuh tinggi besar dengan ukuran perut yang sedikit maju ke depan, keluar dari sebuah galery hendak menuju ke mobil yang sudah menanti.
QUinsha masih bertanya dalam hati, apakah pandangannya ini benar atau hanya halusinasi. Tapi begitu ia melihat nama galery tempat lelaki itu keluar, Quinsha tak lagi meragukan hasil tangkapan matanya sekarang.
Galery Citra Mustika, tempat yang dulu pernah didatangi oleh Rafardhan bersama Quinsha. Entah dapat kekuatan dari mana, dan siapa yang menyuruhnya, Quinsha memanggil laki-laki itu dengan cukup keras.
“Mas Adam!”
__ADS_1
Dan berhasil, panggilan dari Quinsha itu membuat yang empunya nama, memutar seluruh badan untuk melihat siapa yang telah memanggilnya.
Dan tak hanya itu saja, Adam juga gegas menghampiri Quinsha. “Quinsha ya?” tanyanya, takut salah menyapa.
“Ya.” Tak hanya menjawab, Quinsha juga anggukkan kepala.
“Apa ada janji sama Rafardhan?” tanya Adam. Pertanyaan yang sesaat mendatangkan dilema bagi Quinsha. Tapi layar sudah terkembang pantang biduk surut ke tepian.
“Iya, ada,” jawab Quinsha. Terlanjur basah, mandi saja sekalian. Tadinya ia hanya mengada, bilang ada janji sama teman, siapa sangka di saat itu ia melihat Adam. Ini mungkin kode dari alam, yang merestui Quinsha dalam sandiwara yang dimainkan.
Terlihat Arfan sedikit menghela napas, dan itu terlihat oleh ujung mata Quinsha.
“Kenapa gak langsung masuk aja, Rafardhan ada di dalam?” tanya Adam.
“Ok. Sebentar gue panggilkan.” Tanpa tunggu jawaban Quinsha, Adam segera berlalu kembali masuk ke galery itu.
“Berarti Mbak Quinsha memang dekat dengan artis terkenal itu, ya?” tanya Zahwa sepeninggal Adam.
“Gak dekat kok, cuman kenal aja,” sahut Quinsha.
Dan tak butuh waktu lama seorang lelaki yang menutupi wajahnya dengan masker, mendatangi mereka semua. Dari postur tubuhnya, dari cara jalannya, dari baju yang dikenakannya, sudah terbaca kalau dia lelaki tampan yang sudah mapan. Siapa lagi kalau bukan Rafardhan.
“Quin.” Cara menyapanya yang tak sama, itu memang cara Rafardhan memanggil Quinsha.
“Maaf ya, ganggu,” ucap Quinsha dengan rasa tak nyaman.
__ADS_1
Pemuda itu menggeleng dan sedikit menurunkan maskernya, hingga kini hidung mancungnya terlihat jelas sekali. “kenapa Quin?” Rafardhan hanya memfokuskan tanya pada Quinsha, begitu pun dengan tatap mata dan bahasa tubuhnya. Seakan tak ada Arfan dan Zahwa di sana.
“Ini mobil saya tiba-tiba mogok.” Quinsha menunjuk mobilnya.
“Ada bengkel langganan?” tanya Rafardhan setelah melihat pada mobil Quinsha itu sesaat.
“Ada sih, sudah dihubungi, tapi gak tau kenapa belom datang juga.”
“Aku panggil mobil derek ya, biar dibawa ke bengkel terbaik di kota ini.” Rafardhan segera mengeluarkan ponselnya. Tapi Quinsha cepat menahan.
“Gak usah. Biar gak merepotkan.”
“Lalu? Mobilnya mau ditunggu sampai hidup sendiri?” Rafardhan menatap Quinsha sambil senyum.
“Iya, gak gitu juga. Aku hanya gak mau punya banyak hutang saja. Hutang yang kemarin aku juga belum bayar.”
“Akan ada waktunya kamu bayar semuanya, Quin.” Dan Rafardhan berdiri menyisih untuk mulai menelepon.
“Sepertinya kamu sudah ada teman. Kita pamit ya,” ujar Arfan pada Quinsha.
“Iya, terima kasih banyak,” sahut Quinsha. Arfan hanya mengangguk kecil, sedang Zahwa menerbitkan senyum manis. Bersamaan dengan kedua orang itu yang masuk ke mobil, Rafardhan kembali menghampiri Quinsha.
“Beres, Quin. Sebentar lagi mobil dereknya datang. Ayo tunggu di galery saja,” ajak Rafardhan.
“Ee.” Sekarang Quinsha kebingungan. Antara ikut ajakan Rafrdhan atau tidak.
__ADS_1