Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 24


__ADS_3

Stelah menunggu hampir sepuluh jam, terhitung dari jam 10 pagi sampai jam 19-00, barulah ada notifikasi masuk di ponsel Quinsha. Sebuah pemberitahuan dari manajer Rafardhan tentang jadwal bertemu yang dipinta oleh gadis itu.


“Gimana?” tanya Sherin yang melihat Quinsha memerhatikan layar ponselnya dengan seksama.


“Ini mereka baru memberikan jadwalnya,” sahut Quinsha.


“Kapan?” Sherin dan Aura bertanya hampir bersamaan. Malam ini seperti biasa, Sherin dan Quinsha kembali menemani Aura di rumah sakit.


“Besok lusa, jam 2 siang, di kafe dekat lokasi syuting Rafardhan,” terang Quinsha sesuai chat yang dikirim oleh Adam.


“Perlu aku temani, Sha?” tawar Sherin.


“Jika suamimu mengijinkan, ayo,” sambut Quinsha.


“Ok. Aku akan minta ijin dulu padanya.”


“Semoga masalahnya cepat selesai ya, Sha,” ucap Aura.


“Amin. Kamu juga Ra, cepat sehat dan semoga besok udah bisa pulang dari rumah sakit.”


“Amiin,” sambut Sherin dan Aura bersamaan.


Tak lama kemudian, Alarik datang untuk menjemput Sherin.


"kita pulang bersama yuk, Sha," ajak Sherin pada Quinsha.

__ADS_1


"Tidak. aku sudah ditunggu pak Dimas. Dan lagi ..." Quinsha sejenak menghentikan ucapannya untuk mencuri lihat pada Alarik yang sedang berbicara dengan Damaresh di dekat pintu ruangan yang terbuka. "Kau hanya berdua saja udah sepi, apalagi bila ada aku. Kuburan pasti kalah," ledek Quinsha.


Sherin sedikit membulatkan mata, mendengar ucapan Quinsha. "Nanti juga bakal rame," ujarnya.


"Apalagi bila ada anak kembar lima di antara kalian," timpal Aura.


"Sebanyak itu?" Sherin terlihat tak terima.


"Kan biar rame, sekalian saja kalian mendirikan taman kanak-kanak," ujar Quinsha yang diakhiri dengan tawa renyah bersama.


**********


“Mas, kamu tau, kalau Damaresh melepaskan tahtanya dari Pramudya?” Pertanyaan Sherin memecah keheningan yang tercipta dalam mobil, sejak rodanya bergulir meninggalkan area parkir rumah sakit hingga kini sudah hampir separuh perjalanan.


“Dia memang laki-laki yang sweat gitu ya, Mas?” tanya Sherin lebih lanjut. Tampak Alarick tersenyum tipis menatap istrinya sekejap dan menggeleng singkat.


“Kenapa, Mas?”


“Aresh itu kaku, dingin, gak suka senyum, gak ada manis-manisnya.” Alarick menguraikan tentang sikap keponakannya itu yang seketika membuat Sherin mengerutkan keningnya heran.


“Masa sih?” tanya Sherin tak percaya. “Dia mencintai Aura dengan luar biasa begitu,” cetusnya.


“Ya itulah, aku juga baru tau, kalau sekalinya jatuh cinta, dia memperjuangkannya dengan luar biasa,” puji Alarick disertai senyumnya. Terselip kebanggaan akan sikap sang keponakan.


“Apa laki-laki dalam keluarga kalian memang begitu, Mas, kalau sudah jatuh cinta?”

__ADS_1


“Maksudnya?”


“Jatuh cintanya begitu dalam dan memperjuangkannya dengan luar biasa.”


Alarick tak segera menjawab, dia seperti masih mengingat-ingat, mungkin tentang dirinya atau tentang saudaranya yang lain. “Ya, aku rasa begitu, walaupun tak semuanya perjuangan itu berhasil,” jawabnya kemudian dengan suara lirih.


“Termasuk kamu juga ya, Mas,” lontar Sherin. Ia mendapatkan penilaian itu berdasarkan apa yang ia lihat dari Alarick. Cintanya yang begitu besar pada seseorang di masa lalunya, sepertinya belum terganti sampai sekarang. Bahkan Sherin yang sudah mendampinginya selama dua tahun ini, tak bisa menggeser posisi wanita tersebut dalam diri Alarick.


“Aku bukan lagi bagian dari keluarga William,” sahut Alarick cepat. Membuat Sherin sejenak tercekat. Tapi segera saja susunan kalimat sudah berbaris rapi dalam benak dan siap untuk diucap. Namun Alarick telah mendahuluinya dengan berganti topik. “Mampir ke apotek, sebentar ya.”


Sherin hanya bisa mengangguk dan tak lama mobil telah berhenti di depan sebuah apotek yang tak begitu besar.


“Kamu mau ikut turun atau nunggu di mobil?” tanya Alarick.


“Aku mau turun juga, Mas. Mau beli vitamin,” sahut Sherin.


Tak lama keduanya telah berjalan beriringan memasuki pintu kaca tembus pandang. Setiba di dalam mereka mulai sibuk memilih obat-obatan yang ingin didapatkan. Tapi bedanya, jika Sherin begitu fokus memilih dan tak merasa terganggu, fokus Alarick justru terganggu dengan suara perempuan yang sedang bicara di depan kasir.


Merasa kalau suara itu cukup familiar, Alarick memutar kepalanya memerhatikan. Dan kini tak hanya suaranya saja, wajah perempuan yang sedang sibuk menelepon itu juga terasa sangat ia kenal. Lelaki empat puluh tahun itu melangkah mendekati, tanpa melepas tatap mengamati. Setelah mendapatkan ingatannya kembali, tentang siapa adanya wanita bergaun kuning ini, Alarick segera menyapa, bersamaan dengan perempuan itu sudah menarik lepas ponsel dari telinga..


***%%%*****


Kata Quinsha ya. Alarick dan Sherin sepi. lebih sepi dari kuburan saja. Sama dengan Kisah Cinta Tak Bertuan ini. Yang juga masih Sepi. kayak kuburan ja.


hihi..

__ADS_1


__ADS_2