Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 121


__ADS_3

Setelah kasus narkoba yang menyeret namanya itu tuntas, Rafardhan memutuskan untuk mengundurkan diri dari dunia keartisan. Ia membuat pernyataan secara terbuka di hadapan awak media, di dampingi oleh Alarik dan Rendi, dua orang ayahnya.


Keputusannya ini bukannya tidak menuai kontroversi, bahkan ia harus membayar penalti untuk proyek film yang dibintangi, yang proses Shotingnya juga belum selesai, saat pernyataan mundur itu ia sampaikan.


Tapi apalah arti uang satu M bagi keluarga William, mereka langsung membayar uang denda itu tanpa perlu tawar menawar.


Dan tak hanya itu, para fans Rafardhan juga sangat menyayangkan keputusan sang idola tersebut, karena perkara narkoba yang sempat menyeret namanya sudah selesai, dan nama baiknya juga sudah dipulihkan. Tapi laki-laki yang baru saja mereguk manisnya hidup berumah tangga itu sudah kuekeh dengan pilihan hidupnya. Dan keputusannya sudah tak bisa diubah lagi atas alasan apapun jua.


Setelah perkara pengunduran dirinya sebagai artis selesai, lelaki yang sebenarnya sudah lulus kuliah kedokteran—di salah satu universitas terkenal di Ibukota tersebut—segera mengambil program study dokter spesialis di luar Negeri.


Bersama Quinsha yang setia mendampingi, ia menjalani study di Harvard Medical School selama hampir dua tahun, sebelum di nyatakan lulus sekitar tiga bulan yang lalu.


Setelah menyandang gelar sebagai dokter spesialis bedah, William Pramudya segera menyerahkan kepengurusan beberapa rumah sakit yang berada di bawah naungan Pramudya Corp pada Rafasya sepenuhnya.


Karena Alarik yang tetap memilih tinggal di Jawa Timur, dan menjadi juragan perkebunan dari pada memimpin beberapa anak perusahaan Pramudya yang memang sudah dilimpahkan atas namanya. Maka, ke tangan Rafasya lah, William menyerahkan semua aset yang memang sudah menjadi hak Alarik. Dan dengan statusnya saat ini sebagai seorang dokter, Rafasya lebih memilih terjun di dunia kesehatan saja, dari pada memimpin perusahaan di berbagai bidang usaha seperti para sepupunya yang lain—Damaresh William, Edgard dan Anthoni William.

__ADS_1


Dan anugerah luar biasa juga diterima oleh Rafasya, saat istrinya dinyatakan hamil, setelah satu tahun sebelumnya sempat mengalami keguguran. Kini kandungan Quinsha sudah masuk bulan ke tuju, Rafasya pun semakin protektif pada istri dan calon anaknya itu.


Contohnya hari ini, ia menjanjikan akan menjemput istrinya itu seusai mengoperasi pasien, untuk periksa kandungan. Padahal, dokter yang menangani istrinya, berdinas di rumah sakit yang sama dengannya. Namun, Rafasya tetap tak memperbolehkan Quinsha keluar sendirian dari rumah tanpa dirinya.


Tapi Quinsha justru datang lebih dulu dan berinisiatif menunggu suaminya itu. Di sinilah kini mereka berada. “Masih ada waktu sepuluh menit lagi, sebelum kita temui dokter Prita,” ucap Rafasya sambil membimbing tangan istrinya untuk kembali duduk.


“Kenapa jalan sendirian ke sini? Aku kan sudah bilang untuk menungguku, kenapa, hmm?” Rafasya menatap istrinya intesn sepertinya ia masih sangat kawatir, akan keselamatan Quinsha di perjalanan. Padahal sudah jelas istrinya itu berada dengan utuh di depannya sekarang.


“Aku tidak sendirian, Sayang.”


“Lalu? Kamu sama siapa?” Rafasya bahkan menoleh ke kanan kiri, seakan sedang mencari-cari, padahal mereka hanya berdua saja kini.


“Mama Sherin?” Rafasya memicingkan matanya.


“Iya, Mama Sherin datang bersama papa, mereka yang mengantarkan aku kemari.”

__ADS_1


“Dimana mereka sekarang?” tanya Rafasya yang memang sudah merasa sangat rindu pada ayah kandung dan ibu sambungnya tersebut.


“Mereka menjenguk temannya papa yang katanya di rawat di sini,” jawab Quinsha.


“Benarkah?”


“Benar, Mas. Setelah dari dokter Prita, kita temui mereka,” ajak Quinsha.


“Ok, ayo ke dokter Prita dulu.”


Langkah Dokter Rafasya yang menggandeng tangan seorang wanita cantik berhijab, di sepanjang koridor rumah sakit, menjadi pusat perhatian di mana seluruh atensi pandangan terarahkan. Bagaikan sebuah pemilihan ratu sejagad saja, bila dilihat dari ekspresi mereka.


Heran campur tak percaya, itulah yang tergambar dari pandangan mereka. Tapi mau diingkari dengan cara bagaimana, itulah fakta yang ada. Bahwa sang dokter muda yang mereka idamkan bersama-sama memang sudah memiliki seorang nyonya di sampingnya. Yang akan menjadi bidadari jiwanya, dan itu tak hanya sebatas di dunia saja.


Rafasya tak pernah menyangka, akan jatuh pada pesona seorang Quinsha, dan membuatnya dengan berani mengambil keputusan untuk menikah di usia muda, dengan wanita yang tiga tahun lebih tua darinya.

__ADS_1


Tapi itulah caranya cinta menyatukan dua jiwa. Ia hadir tanpa dapat diduga, dan ketika telah bertahta, tak satu pun dapat menafikan keberadaannya. Seperti Quinsha yang sama sekali tak mengira akan menjadikan seorang artis sebagai imam, padahal awalnya ia terperangkap dalam cinta tak bertuan pada seorang pria shalih yang menjadi impian.


Kini, cintanya telah terperangkap dalam ikatan simpul mati yang tak akan bisa dibuka lagi, terhadap sang suami yang diyakininya sebagai imam sejati. Harapnya selalu tertanam dalam hati, agar rumah tangganya bahagia dari duniawi hingga ukhrawi.


__ADS_2