
“Atau kalau mau jadi pacar saya, buat kamu saya bisa,” ucap Rafrdhan dengan tenang bin santai. Dan tatapannya itu lho, Masya Allah, Quinsha harus sering-sering melafadzkan doa dalam diam. Ya muqollibal
qulub, stabbit qolbi ‘ala dinika.
Penampakan Rafardhan memang luar biasa tampan. Sangat benar kalau dia mengatakan, sudah tampan dari sejak dilahirkan. Ditambah lagi dengan profesinya sebagai artis terkenal yang tak jauh-jauh dari perawatan penampilan, jadilah aset ketampanannya itu semakin berkilau.
Tapi apa iya, seorang Quinsha Daneen akan terpikat pada seseorang, hanya karena ia memiliki ketampanan yang memukau?
Fitrah setiap perempuan pasti suka melihat yang tampan. Tapi untuk menjadikannya pilihan sebagai imam, ketampanan bukanlah prioritas yang harus dikedepankan.
Itu, salah satu yang menjadi perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Secantik-cantiknya perempuan, belum tentu dia mau pada yang tampan. Tapi sejellek-jelleknya laki-laki, wanita berwajah cantik lah yang dicari.
Kembali pada Rafardhan yang menawarkan Quinsha Daneen sebagai pacar.
“Kamu sehat?” Quinsha menatap lelaki yang lebih muda darinya itu sambil bertanya datar.
“Sehat. Sehat lahir dan batin. Apa perlu kita ke rumah sakit sekarang, untuk cek kesehatan saya?” tawar Rafardhan disertai senyuman.
Quinsha mengalihkan pandangan. “Bukan itu maksud saya,” ujarnya.
“Saya paham,” kata Rafardhan.
“Lalu, kenapa menawari saya sebagai pacar? Hanya sekedar guyonan?”
“Tidak.” Rafardhan menggeleng. “Karena ada sebagian atau bahkan banyak orang yang memilih sembuh, dengan cara melibatkan orang lain ...”
__ADS_1
“Saya bukan orang seperti itu,” kata Quinsha cepat.
“Saya belum selesai.”
“Maaf,” pinta Quinsha singkat karena telah memotong kalimat.
“Dan saya tidak suka dengan cara seperti itu. Menurut saya, sembuhlah tanpa melibatkan orang lain. Sembuh dengan menghadirkan orang lain, itu adalah sebuah kebohongan,” terang Rafardhan dengan tatapan dalam.
Quinsha mengakui ucapan lelaki yang lebih muda darinya itu memang benar. Tapi dari ekspresi yang ditampakkan ketika mengucapkan, gadis cantik yang hijabnya basah oleh air hujan itu jadi mempunyai penilaian dari sisi pandang yang lain.
“Kamu pernah terluka?”
“Ada manusia yang tidak pernah terluka?” retoris Rafardhan membentuk sebuah kalimat tanya.
Di kalangan Selebritas, Rafardhan dikenal sebagai aktor muda serba bisa yang tak banyak bicara. Bahasanya akan mengalir lepas, hanya di kalangan orang-orang dekat, seperti Adam misalnya.
Jika kini ia cukup banyak bicara pada orang yang dalam tanda kutip tidak terlalu dekat seperti Quinsha, itu berarti ada dua kemungkinan. Bisa jadi ia telah menemukan lawan bicara yang tepat, atau yang diajaknya bicara itu sudah membuatnya terpikat.
Lalu kemungkinan manakah yang dirasakan Rafardhan sekarang? Jawabannya hanya lelaki itu sendiri yang tahu.
“Jangan mencinta terlalu dalam, Quin. Agar saat kamu harus putar arah, kamu masih ingat jalan pulang,” nasihat Rafardhan, seakan ia seorang yang sudah begitu paham tentang masalah percintaan.
“Terima kasih,” ucap Quinsha yang merasa tak harus memungkiri, kalau ucapan Rafardhan itu benar, saat ini.
“Saya mau ke galeri itu, ada sedikit kepentingan di sana. Kamu tunggu saya di sini, jangan kemana-mana! Saya hanya sebentar saja.” Rafardhan segera membuka pintu mobil di sampingnya.
__ADS_1
“Kenapa saya harus tunggu kamu?”
“Karena saya yang bawa kamu ke sini, maka kamu adalah tanggung jawab saya,” tegas lelaki itu sebelum tubuhnya keluar dari mobil. Sebelum menutup pintu mobil itu lagi, ia kembali berkata, "Nanti setelah kamu tiba di rumahmu kembali, kamu adalah tanggung jawab suami kamu.” Dan Rafardhan segera berlalu, langkahnya bergegas memasuki galeri citra mustika itu.
Sementara Quinsha masih melongo setelah mendengar ucapan Rafardhan itu. “Tanggung jawab suami?” gumam Quinsha mengulang apa yang dikatakan lelaki tampan itu.
‘Apa dia menyangka aku telah bersuami? Kalau iya, kenapa dia justru menawarkan aku untuk jadi pacarnya? Ah, intinya ‘kan dia mengajak pacaran pada istri orang’ Quinsha berdecak sendiri di akhir pemikiran ini.
‘Dunia Rafardhan memang bukan dunia yang bisa aku paham. Di sana hal-hal seperti itu, mungkin sudah biasa, tapi tidak bagiku. Keliru besar dia, jika menganggapku sama seperti dirinya’ monolog Quinsha dalam hatinya.
“Gila, lu Raf, gue ampek jamuran nunggu, lu,” sosor Adam begitu tubuh ganteng itu muncul dari balik pintu.
“Mana jamurnya? Mo gue panen, dan gue jual buat tambah-tambah penghasilan,” kata Rafardhan dengan raut wajah datar.
“Edhan lu.” Adam segera menoyor bahu Rafardhan. “Udah buat gue nunggu lama, gak merasa bersalah juga,” gerutu Adam seraya mengiringi langkah kaki Rafardhan.
“Sorry, Mas. Gue masih ada urusan.”
“Ada urusan apa? ... Masih meeting apa, lu dalam mobil?” Adam menaikkan sebelah alisnya ketika bertanya.
“Mo tau aja, Lu,” cebik Rafardhan.
“Hati-hati ,Raf. Lu bisa terjerumus dalam permainan lu sendiri.”
“Doain aja ya, Mas.” Rafardhan menengadahkan kedua tangannya ke atas sambil terkekeh dan langkahnya pun bergegas naik ke lantai atas.
__ADS_1