Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 36


__ADS_3

Quinsha sama sekali tak menduga, apa yang telah menantinya di kantor, ia yang melangkah tertunduk begitu memasuki pintu kantor yang terbuka dan tak sempat mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, menjadi terkejut ketika Lila memberitahukan, “Mbak Quinsha, ada tamu istimewa untukmu!”


Tak sempat Quinsha menanyakan siapa tamunya, ketika tatapannya menemukan seraut wajah tampan Rafardhan Malik ada di sana, menatapnya dan melemparkan senyuman indah.


Quinsha tak segera menemukan kata yang tepat untuk menyapa, dan sepertinya Rafardhan pun mengalami hal yang sama. Mereka hanya saling bertukar pandang tanpa kata. Dan interaksi mata antara Rafardhan dengan Quinsha menjadi pusat perhatian beberapa guru yang ada di sana, yang sudah bertambah jumlahnya, tak hanya ada Lila dan Risma.


“Ehemm, ciee saling pandang-pandangan,” ledek Risma yang diikuti gelak tawa oleh guru yang lainnya. Jika Quinsha terlihat tak nyaman dengan canda tawa sesama rekan gurunya, tapi Rafardhan justru terlihat biasa saja.


“Ada hal apa kamu menemui saya?” tanya Quinsha, begitu keduanya telah berada di luar kantor. Gadis itu memang mengajak Rafardhan berbicara di luar saja, supaya lebih leluasa.


“Ada satu hal yang membawa langkah kaki saya kemari,” sahut Rafardhan puitis. Dasar artis.


“Tujuannya?”


“Menemui kamu.”


“Untuk?”


“Sedang saya pikirkan.” Rafardhan melemparkan senyum, Quinsha cepat mengalihkan pandangan. Berdiri dekat dengan pemuda itu sungguh membuat spot jantung. Bukan hanya karena kawatir akan teriakan histeris para penggemarnya dari kalangan siswi Nada Hikam yang akan berakhir dengan Quinsha diinterogasi seperti beberapa waktu silam. Tapi juga karena senyumannya—yang kalau boleh jujur—sangat mematikan.


Kegelisahan Quinsha justru menjadi pemandangan unik tersendiri bagi Rafardhan, hingga ia masih bermain kata sebelum menyampaikan apa yang menjadi maksud dan tujuannya.


“Maaf, kemarin gak bisa datang,” ucap Rafardhan. Meski sangat ingin menikmati pemandangan itu lebih lanjut, tapi waktu yang diberikan Adam sudah hampir habis. Lelaki ganteng itu harus menepati janjinya untuk kembali ke lokasi tepat waktu. Kalau tidak, ceramah berdurasi sangat panjang akan diberikan sang manajer kepadanya.

__ADS_1


“itu saja?” sambut Quinsha, tersirat ketakramahan di balik pertanyaannya.


Rafardhan tersenyum tipis—meski tipis tapi pesonanya selangit. “Pasti sangat tidak nyaman ya,” tebaknya.


“Lebih tidak nyaman lagi, apa yang saya dapatkan di sana,” tandas Quinsha.


“Saya tau.”


“Kamu tau, apa yang terjadi di kafe itu kemarin?” kini Quinsha menatap Rafardhan penuh tanya.


Pemuda tampan itu mengangguk. “Mau saya kasih tau, gimana caranya menghadapi pertanyaan seperti itu?” tawar Rafardhan.


“Apa?” tanya Quinsha singkat.


“Diiyakan saja!”


“Oh begitu ya. Kalau begitu kita jadikan saja semua itu sebagai kebenaran yang sebenarnya.”


Astaga, pemuda tampan itu mengucapkan hal tersebut dengan sangat santai, wajah tampannya begitu tenang tanpa beban. Dan senyumnya itu, jika saja yang berdiri di hadapannya saat ini adalah Lila atau Risma, pasti mereka sudah mengusap dada karena debaran jantung yang berpacu dua kali lipat dari biasanya.


Sayangnya, yang berdiri di depan Rafardhan adalah Quinsha. Gadis yang hanya terpesona pada senyuman dari Bayhaki Arfan saja—walau sebenarnya jantungnya berdetak juga melihat pesona senyum Rafardhan—tapi gadis itu enggan mengakuinya. Quinsha kemudian menanggapi ucapan Rafardhan singkat saja. “Jangan bercanda!”


“Saya tidak sedang bercanda,” sahut Rafardhan. “Coba kamu pikir, kalau saya hanya bercanda, untuk apa saya menemui kamu di sini. Dan ini bukan yang pertama ‘kan?” lanjut Rafardhan, dan kalimat itu berhasil membuat Quinsha terdiam.

__ADS_1


Memang terasa janggal, untuk apa seorang artis terkenal sesibuk Rafardhan yang waktunya sudah terjadwal, bahkan lebih ketat dari protokoler kepresidenan, mau meluangkan waktu menemui Quinsha di Nada Hikam, kalau bukan karena ada maksud terpendam.


Tapi kalau “maksud terpendam” itu adalah karena ia merasa suka pada Quinsha Daneen, dugaan itu terlalu dipaksakan. Demikian, menurut penilaian wanita pemilik nama indah itu sendiri.


“Saya minta kamu menglarifikasi pemberitaan yang ada tentang kamu dan saya.” Dari pada menanggapi ucapan Rafardhan yang tak masuk akal—menurut Quinsha—gadis itu segera mengalihkan pembicaraan. “Itu tujuan saya meminta bertemu kamu kemarin,” imbuhnya.


“Kita bicarakan hal itu lebih lanjut, sekarang saya harus pergi,” kilah Rafardhan yang segera menutupi kembali wajahnya dengan dengan masker.


“Apa maksudnya? Kamu tinggal mengiyakan saja, tak perlu ada pembicaraan lanjutan, karena hanya itu yang ingin saya sampaikan,” sembur Quinsha dengan tatapan tajam.


“Saya tidak ingin membicarakan itu sekarang,” tolak Rafardhan.


“Kenapa?”


“Agar saya punya alasan untuk bertemu denganmu, atau agar kamu punya alasan untuk meminta bertemu dengan saya,” sahut Rafardhan yang pasti dengan senyuman, hal itu terlihat dari garis di bawah sepasang matanya yang tertarik, karena bibir merahnya—yang entah itu warna merah alami atau karena pewarna—sudah tertutup masker sebagaimana awal datangnya.


Belum sempat Quinsha menanggapi ucapannya, pemuda tampan itu sudah berpamit kepadanya. “Selamat siang, Quinsha Daneen, saya pergi dulu.”


Langkah Rafardhan bergegas meninggalkan Quinsha, hampir bersamaan dengan teriakan sambut menyambut dari beberapa siswi yayasan yang memanggil namanya.


“Rafardhan!”


“Rafardhan Malik!”

__ADS_1


Mungkin karena hal itu, Rafardhan segera memutuskan pergi dengan cepat. Atau justru ia sengaja menitip rasa penasaran dalam diri Quinsha yang kini menatap kepergiannya dengan penuh tanda tanya.


Ah, entahlah. Apa sebenarnya tujuan Rafardhan di balik tindakannya.


__ADS_2