
“Ada acara apa di Darul-Falah, Rin?” tanya Alarick malam itu usai mereka makan malam bersama.
“Reuni alumni.”
“Kamu mau datang?”
“Ya, Mas.”
“Tumben, biasanya tiap mau kemana-mana kamu masih ijin dulu padaku,” sindir Alarick.
Sherin memang belum sempat memperlihatkan undangan dari pesantrennya itu pada Alarick, lantaran belakangan ini situasi keduanya yang dingin, lebih dari biasanya.
Setelah menceritakan perihal masa lalunya malam itu pada Sherin, Alarick semakin pendiam dan tertutup, ia bahkan tak lagi tidur sekamar dengan istrinya. Entah karena benar-benar ingin menyendiri untuk menenangkan dirinya—sebagaimana yang diarahkan oleh Sherin—atau karena lelaki itu memang tak mampu menikmati malamnya dengan tidur yang lena.
Melihat hal itu, Sherin juga tidak ingin mengusiknya. Daripada memerhatikan suaminya, Sherin lebih menyiapkan dirinya untuk kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Dia sudah sampai pada titik, dan tak ada koma lagi.
Maka perihal undangan reuni dari Darul-Falah tak pernah Sherin sampaikan pada Alarick. Bahkan ia pun memutuskan untuk datang memenuhi undangan itu tanpa perlu pamit pada Alarick lebih dulu.
Alarick sibuk dengan dirinya sendiri dan dengan apa yang dia rasa, hingga mengabaikan keberadaan istrinya. Tak ingin mengganggu, Sherin juga menyibukkan diri dan belajar terbiasa diabaikan suaminya. Mereka tenggelam dalam dunia mereka sendiri, dan lama-lama mereka akan lupa, kalau mereka sepasang suami istri.
“Aku tidak ingin mengganggu kamu dengan urusanku Mas,” sahut Sherin.
__ADS_1
Jawaban itu membuat Alarick sejenak menarik napas. “Ya, Rin. Aku sadar, aku memang tidak berlaku adil kepadamu. Tapi aku tidak pernah merasa terganggu dengan urusanmu. Kamu istriku.”
“Ya, untuk saat ini ya, Mas? Besok atau lusa, bisa jadi sudah bukan lagi istri. Aku hanya sedang belajar membiasakan diri,” tandas Sherin. Dan setelah hampir lima menit Alarick terdiam, karena merasa tak menemukan kata yang cukup pantas untuk diucapkan, Sherin segera bangkit dari duduknya dan meninggalkan sang suami yang masih tetap dengan diamnya.
\*\*\*\*\*\*
Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengalihkan beban pikiran, dan membaca adalah cara yang dipilih Sherin sekarang. Meskipun faktanya, lembar demi lembar yang telah dilewatinya tak satupun isi bacaan yang dapat dicermati dengan sempurna. Karena adanya dua sisi dalam dirinya yang enggan bersama.
Sepasang matanya membaca, tapi pikirannya berkelana kemana-mana, bukan tentang apa yang dibaca, tapi perihal yang memang sudah bergelayut di sana sejak lama.
Tanpa disadari oleh Sherin, Alarick masuk ke kamar itu dan menatap istrinya yang seolah sibuk dengan bacaannya.
“Sudah mau tidur?” tanya Alarick. Sherin yang duduk menyandar di headboard dengan kaki selonjor itu terdongak.Sedikit heran juga melihat Alarik tahu-tahu sudah ada di sana.
Perlahan Alarick mendekat. “Mau temani aku, Rin?” tanyanya.
“Kemana?”
“Ke Kota.”
“Untuk menemui putramu?” tanya Sherin hati-hati. Ia memang sangat berharap sekali kalau Alarick akan mengajaknya ketika bertemu dengan anaknya—yang entah putra atau putri itu—dan Sherin juga menduga kalau lelaki itu telah mendapat kabar tentang anak tersebut selama dalam ‘semadinya’, sehingga kini ia semakin tenggelam dengan dirinya sendiri saja.
__ADS_1
Alarick menggeleng pelan. “Aku belum berhasil menghubungi keluarga mbak Risa,” resahnya. Tergambar jelas sebuah kesedihan di sepasang mata lelaki empat puluh tahun tersebut.
Melihat hal itu, hati Sherin sangat tak tega. “sabar ya, Mas. Mudah-mudahan kamu segera dipertemukan dengannya,” harap Sherin dalam doa.
Alarick mengangguk singkat, setelah itu ia segera berucap,
“Temani aku ke dokter Wira! Aku mau ambil obat pesananku di sana.”
“Mas mengonsumsi obat tidur lagi?” tanya Sherin penuh prihatin.
“Bagaimana lagi? Tanpa itu aku tak dapat tidur sama sekali,” retoris Alarick dan segera keluar dari kamar setelah Sherin menyatakan kesanggupannya untuk menemani.
‘Sebegitu dalamnya, kau menghukum dirimu sendiri, Mas. Padahal semua yang terjadi pada Kanaya bukanlah murni kesalahanmu. Semua itu sudah menjadi garis takdir kalian yang sudah tercatat sejak zaman azali. Boleh merasa bersalah, tapi jangan menghukum diri sendiri sampai seperti ini. Boleh merasa kehilangan, itu tandanya kau sangat mencintai, tapi jangan lupakan, kematian itu pasti akan menghampiri siapa saja’.
Sherin hanya bisa melafalkan tiap kata itu dalam batinnya saja. Karena tentu ia tak cukup punya keberanian untuk menyampaikannya langsung pada Alarick, meski kini mereka duduk berdampingan dalam mobil yang melaju menuju pusat kota Malang.
Saat ini, tak ada kalimat seindah apapun yang dapat diterima oleh Alarick. Dan tak ada kalimat sebenar apapun yang akan disetujuinya. Karena lelaki itu telah menutup mata dan telinga untuk melihat dan mendengar semua kebenaran yang datang dari arah mana saja.
Alarick hanya terfokus pada apa yang ia rasa tepat dan benar menurutnya, yaitu menebus rasa bersalah dengan menghukum dirinya sendiri.
Mau sampai kapan pria itu akan terus seperti ini?
__ADS_1
Sherin menghela napas panjang.