
“Quinsha, kamu di mana?” Tak hanya Sherin dan Aura yang kini sibuk mencari Quinsha, Rafardhan pun tengah mencari gadis itu juga. Pasalnya saat ia keluar dari galeri Citra Mustika—setelah menuntaskan kepentingannya—gadis itu tak ada lagi dalam mobil Rafardhan. Padahal lelaki itu tadi dengan jelas meminta Quinsha untuk menunggu.
Rafardhan mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi nomor Quinsha, tapi tak bisa. Lelaki itu pun keluar dari mobil, melihat kanan dan kiri, mencari-cari. pandangannya lalu berlabuh pada seorang tukar parkir yang duduk di atas kursi kayu, sambil menghisap sebatang rokok yang terjepit di antara telunjuk jari.
“Maaf, Pak.”
“Eh, Iya Mas.” Tukang parkir itu segera berdiri, begitu Rafardhan menghampiri.
“lihat, wanita pakai hijab keluar dari mobil saya, gak Pak?” tanya Rafardhan sambil menunjuk mobilnya yang memang terpisah dari deretan mobil yang lain. Serta paling mewah di antara sesama mobil yang diparkir.
“Oh, mobil itu.” Si bapak sejenak diam mengingat ingat. “Eh iya, wanita pakai baju coklat ya, Mas?”
“Iya betul,” sambut Rafardhan cepat.
“Iya, dia keluar dari mobil itu, saat azan Magrib barusan,” tutur Si bapak.
“Dia pergi kemana, Pak?”
“Ke sebelah sana, Mas! Mungkin ke masjid itu!” tunjuk bapak itu ke sebuah masjid yang ada di seberang jalan.
Rafardhan gegas menyusul ke arah yang ditunjuk, setelah sempat menitipkan kata terima kasih lebih dulu.
*****
Quinsha akhirnya duduk saja di teras masjid itu, setelah alas kaki yang ia cari, tak juga didapati. Gadis itu menyandarkan kepalanya pada tiang masjid seraya bergumam lirih. “Ternyata ada yang tertarik pada sepatuku, padahal harganya murah meriah dan juga bukan model baru.”
Terdengar lirih lantunan kalam suci dari dalam sana. Quinsha memejamkan mata meresapinya. Entah sudah berapa lama, berada dalam kondisi yang sama, hingga terasa ada seseorang yang duduk di sampingnya.
Quinsha segera membuka matanya, untuk melihat siapa orang yang telah mengusik kesenangannya.
__ADS_1
“Kamu?”
“Kenapa keluar dari mobil, tidak pamit?” Rafardhan menatap gadis itu penuh selidik.
“Saya mau Shalat Magrib,” sahut Quinsha.
“Setidaknya, kamu bisa kasih tahu saya dulu,” tegur Rafardhan dengan tatapan tidak suka.
“Maaf, tapi Saya tidak tahu, kamu ada di mana,” balas Quinsha.
“Ok. Sekarang, kamu masih mau tetap di sini atau saya antar pulang?”
“Saya tidak ingin merepotkan kamu,” sahut Quinsha.
“Lalu?” Rafardhan menggantungkan pertanyaannya.
“Boleh saya pinjam ponsel kamu? Saya mau minta jemput ke sopir saya.”
“Ya, ponsel saya mati, law baterai.”
Rafardhan tak segera menanggapi, ia masih menatap Quinsha untuk beberapa jenak. Hingga, “kalau keberatan, gak papa,” kata Quinsha. Ia paham Rafardhan itu seorang atris terkenal, Privasinya pasti sangat ia jaga. Jadi bukan perkara mudah bagi pemuda itu untuk meminjamkan ponselnya.
Rafardhan tak menjawab. Namun, ia segera meraih ponsel dari saku baju dan diberikannya pada Quinsha. “Hubungi keluargamu! Beritahu kalau kamu baik-baik saja. Tidak usah minta jemput, saya yang akan mengantar kamu pulang.”
“Tidak usah repot-repot! Kamu pasti masih ada agenda malam ini,” tolak Quinsha.
“Ini untuk menebus waktu kamu yang terbuang, karena masih harus mengantarkan saya, beberapa waktu lalu,” kata Rafardhan.
“Oh.” Quinsha hanya menanggapi singkat saja. ‘Ternyata ia masih ingat semuanya, tajam juga ingatannya, di sela kesibukan yang pasti sangat padat, dia masih mengingat ucapanku waktu itu’ batin Quinsha.
__ADS_1
Setelah Quinsha menelepon ibunya dan memberitahukan kalau dia baik-baik saja, dan akan segera pulang bersama seorang teman, Quinsha menyerahkan Iphone canggih milik Rafardhan itu kembali.
Laki-laki itu menerima ponselnya dan segera berdiri. Quinsha juga segera turun dari teras itu tanpa alas kaki.
“Sandal kamu, mana?” tanya Rafardhan yang melihat hal itu.
“Gak ada, mungkin sudah dipakai orang,” sahut Quinsha.
“Pakai sepatu saya, mau?”
“Eh, gak usah,” tolak Quinsha cepat.
“Atau kamu tunggu di sini dulu. Saya akan belikan kamu sandal di toko terdekat.”
“Gak perlu,” cegah Quinsha cepat. “Gak papa kok begini. Udah dekat juga ‘kan ke mobil,” imbuhnya.
“Yakin?” Rafardhan menatap gadis itu lekat.
“Yakin,” tegas Quinsha disertai anggukan.
“Ok.” Rafardhan segera memutar tumitnya dan melangkah meninggalkan masjid di ikuti oleh Quinsha yang melangkah tertunduk dalam jarak dua langkah di belakang pemuda tampan itu.
Sembari melangkah, pikiran Quinsha berkelana, mengingat sikap Rafardhan kepadanya yang terkesan berbeda-beda. Setidaknya ada tiga macam sikap yang diperlihatkan pemuda itu padanya—menurut penilaian Quinsha—secara bersama-sama. Pertama seperti biasanya ada kesan menggoda, ketika dia menawarkan bahunya untuk bersandar, dan menawarkan untuk menjadi pacar.
Kedua, kesan tidak suka karena merasa direpotkan saat harus mencari Quinsha yang keluar dari mobil tanpa pamitan. Dan ketiga, sikap perhatian. Ketika baru saja ia menawarkan sepatunya sendiri untuk dipakai, bahkan bersedia direpotkan dengan niatnya untuk membelikan sepatu pada Quinsha lebih dulu.
Mungkin karena terlalu sering melakoni seni peran, maka kemampuannya berakting, dia terapkan dalam dunia nyata. Sehingga dalam jeda waktu yang hampir bersamaan, Rafardhan dapat menunjukkan sikap dengan kesan yang tidak sama.
Entahlah, di antara ketiga sikap yang cenderung bertentangan, yang manakah sifat seorang Rafardhan Malik yang sebenarnya. Wallahu a’lam.
__ADS_1
“Argh...!” Quinsha menjerit tertahan.