
“Selamat ya, Rafardhan.” Ayunda mengulurkan tangan mulusnya, menyuguhkan senyum terindahnya, dan melabuhkan tatap penuh damba khas seorang Ayunda.
Rafardhan menerima uluran tangan itu, berjabat sejenak, membawa tapak tangan empuk dalam genggaman hangatnya.
Ayunda segera menggenggam tangan Rafardhan, seakan tak ingin melepaskan. “Seperti yang sudah kuduga, kau akan dapat menyaingi Niel. Dan sekarang terbukti. Kau yang mendapatkan peran ini. Lihatlah! Betapa aku sangat senang sekali” Ayunda kembali menyuguhkan senyuman mautnya, yang selama ini terlihat memesona dalam pandangan Rafardhan.
Tapi rupanya tidak untuk kali ini, ia hanya membalas senyum singkat. Dan genggamannya pun segera dilepas. “Terima kasih, Ayunda,” ucapnya cepat.
“Boleh aku duduk?” meski merasakan adanya sambutan tak biasa dari Rafardhan untuknya, Ayunda masih tetap ingin berlama-lama dengan bintang baru layar kaca, yang pijarnya sangat menyilaukan mata.
“Boleh, duduk saja!”
“Tiba-tiba aku berpikir untuk merayakan ini semua, Raf. Bagaimana menurutmu?” tanya Ayunda, sesaat setelah mendapatkan posisi duduk paling nyaman di samping Rafardhan.
“Merayakan apa?”
“Keberhasilan kamu sekarang.”
Rafardhan tertawa singkat. “Belum juga dimulai, Yu, dinilai berhasil dari mana,” ujarnya.
“Kau sangat tak menghargai pencapaianmu ya, mas Adam pasti sudah memberitahukan padamu, kalau aktor sekaliber Nathaniel sangat menginginkan peran ini. Tapi sutradara dan produsernya justru memilih kamu, Rafa. Apa ini bukan hal yang luar biasa? Bukan sesuatu yang patut diapresiasi,” cetus Ayunda sambil menatap lekat wajah Rafardhan yang tampan memikat.
“Aku yang dipilih mungkin karena aku dinilai lebih cocok, bukan karena aku lebih baik dari mas Niel,” ujar Rafardhan.
“Hello, Rafardhan tampan.” Ayunda mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Rafardhan. “Pandangan seperti itu, tidak relevan di dunia seperti ini,” ujarnya.
“Terserahlah.” Rafardhan menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi dan helaan napasnya terdengar berat sekali. Ayunda menjadikan semua itu sebagai objek pemandangan yang sangat menarik hati, hingga ia menatap seakan tak ingin berhenti.
“kau baik-baik saja, Raf?”
“ya,” singkat Rafardhan.
“Tapi aku seperti tak melihat seorang Rafardhan sekarang,” tukas Ayunda yang kian merasa, kalau sikap Rafardhan sudah tak seantusias dulu terhadapnya.
__ADS_1
“Lalu, kau berasa melihat mas Adam sekarang?” Rafardhan memicingkan matanya menatap wanita yang tampil kelewat cantik itu malam ini. Tapi sayang, kecantikan Ayunda yang cetar badai, terasa hambar dalam pandangan Rafardhan.
Ayunda jadi tertawa berderai seraya mengibaskan tangannya. “Jauh lah, Raf, antara penampakanmu dengan mas Adam, baru kalau aku sudah rabun akut, aku mungkin bisa melihat demikian.”
Rafardhan tak menanggapi apa-apa atas ucapan Ayunda yang mengandung pujian terselubung itu. Tatapannya kini beralih pada penampakan cantik berambut hitam lurus yang tengah melangkah dengan anggun sembari menjawab beberapa pertanyaan wartawan yang mengikutinya.
“Hanum, dia memang cantik,” ujar Ayunda yang melihat ke arah mana tatapan Rafardhan berlabuh.
“Hmm.” Rafardhan hanya menanggapi dengan gumaman tak jelas, yang bisa diartikan beragam. Tapi Ayunda cenderung menilai kalau pemuda tampan itu setuju dengan penilaiannya.
“Dia jadi lawan mainmu di film terbaru ini ya?”
“Hmm.” Lagi-lagi Rafardhan hanya menanggapi dengan gumaman.
“Wah seru dong! Udah mulai jalin chemistry?”
“Harusnya, dalam waktu dekat.”
“Dia pacarnya Niel, dia pasti berharap akan beradu akting dengan pacarnya di film ini,” tukas Ayunda sambil menatap pada wanita yang dimaksud. Hanum, aktris cantik itu juga tengah melihat ke arah mereka, dan melempar senyuman. Ayunda melirik pemuda di sampingnya dengan ujung mata. Benar saja seperti dugaannya, Rafardhan membalas senyuman Hanum itu dengan manis.
“Iya, dia memang sangat cantik, gak usah dilihat terus,” kata Ayunda pada detik kemudian, karena Rafardhan tetap tak mengalih pandang dari arah keberadaan Hanum.
Lelaki ganteng itu hanya menarik sudut bibirnya samar, tanpa merasa perlu menjelaskan apa yang sebenarnya tengah ia pikirkan. Ayunda yang duduk di sampingnya itu memang cantik. Dan Hanum, yang berdiri tak seberapa jauh darinya, juga teramat cantik. Dan ada lagi beberapa aktris yang lain, yang sama-sama berkumpul di sana dengan penampilan yang juga cantik.
Tapi bias kecantikan itu dalam pandangan Rafardhan terlihat buram, seperti lukisan tanpa warna. Atau mungkin sudah diberi warna tapi tak menghasilkan padanan warna yang tepat. Sehingga yang terlihat tanpa rona, dan jauh dari kata pesona.
Tak sebagaimana dalam bias kecantikan seorang Quinsha, yang justru menghasilkan sapta pesona. Dalam kesederhanaan, tanpa polesan apalagi lukisan. Tanpa hiasan yang berlebihan, tapi malah menghasilkan sebuah keindahan. Bak maha karya seni abadi, yang teramat patut dilestarikan.
Quinsha Daneen. Wajah gadis itu yang tengah menari-nari dalam maya pikir Rafardhan, hingga menafikan setiap kecantikan yang menyapa pandangan. Tatkala pesona si gadis berhijab telah bertahta dalam perasaan.
Pemuda tampan itu menggeleng pelan. Untuk yang kesekian ia menolak semua yang tengah dipikirkan. Karena rasa bersalah yang begitu besar, telah membuatnya senantiasa terbayang, itu kesimpulan yang telah ditetapkan oleh Rafardhan. Dia menganggap, pikirannya yang tak dapat mengusir wajah Quinsha adalah karena rasa bersalahnya saja.
Kita lihat saja, apa memang benar demikian.
__ADS_1
“Lu udah ngerjain tugas dengan baik,” kata Adam. Mereka kini berada dalam mobil dalam perjalanan pulang.
“Tumben, lu apresiasi gue,” sahut Rafardhan. Pemuda yang sejak masuk ke mobil langsung memasang jurus diam itu terpancing juga untuk buka mulut karena ucapan Adam.
“Karena gue tau, lu terpaksa datang. Terpaksa pasang senyum, terpaksa tampil bahagia. Padahal aslinya lu lagi sengsara,” sindir Adam sambil mencebik.
“Wah, kalimat lu nurunin harga diri gue banget, Mas.”
“Yang gue liat dari, Lu emang kayak gitu.” Adam keukeh dengan penilaiannya.
“Gue gak sengsara, gue cuman lagi banyak pikiran,” tepisnya sambil melempar pandang ke jalanan. Jalanan kota Jakarta yang tak pernah tidur dan diam.
“Nah, baru ngaku sekarang, kalau lagi banyak pikiran. Apa aja yang lu pikirin? Cerita ke gue. Barangkali gue bisa bantu.” Adam yang duduk di depan kini memutar tubuhnya menatap Rafardhan yang bersandar dengan nyaman di kaca samping mobil. “Sumpah, Raf. Lagak lu udah kayak orang patah hati beneran,” seloroh Adam sambil tertawa berderai.
RAfardhan hanya mengedikkan bahunya pelan. “Besok, jadwal gue apa saja, Mas?”
“Gak ada, Cuma besok malam aja , lu harus ketemuan sama Hanum.”
“Cancel aja dulu Mas. Gue mau ke pergi besok.”
“Pergi kemana?”
“Malang.”
“Ngapain ke Malang lagi?” selidik Adam sambil menatap raut muka Rafardhan dalam-dalam.
“Mau apa? Ya, mau ketemu orang tua gue, Lah,” sahut Rafardhan.
“Tumben,” gumam Adam.
“Kok tumben? Emang aneh, kalau gue kangen sama orang tua gue?” lontar Rafardhan.
“Gak aneh. Cuma gue gak sepenuhnya percaya kalau lu Cuma kangen sama mereka.” Adam lalu menelisik wajah Rafardhan dengan seksama. Seakan tatapan seorang detektif yang sedang menangani kasus mendunia. “Jangan bilang kalau, Lu kangen sama Quinsha.”
__ADS_1
RAfardhan tak menjawab, ia hanya menatap Adam yang langsung menggemakan tawa.