Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Bab 7


__ADS_3

“Selain kartu, apa lagi isi dompet lu?”


“Ada uang tunai.”


“Berapa?”


Rafardhan menggeleng. “Gue gak ngitung.”


“Ya udah lah. Gak nyampek semilyar juga,” ujar mas Adam sambil mengemasi tab dan ponselnya. Ya, mana ada dompet sekecil itu bisa memuat uang satu milyar. Bisa-bisanya saja si Adam. “Ato kalo lu sayang ma dompetnya, ntar gue beliin dah satu, hadiah buat lu,” lanjut mas Adam seraya memerhatikan Rafardhan dari pantulan kaca dengan seksama.


“Kapan?” tanya lelaki yang sibuk menyisir sendiri rambutnya itu. Rafardhan memang kurang suka memakai jasa make-up artis, di luar untuk kepentingan shoting atau fotoshot. Awalnya, Mas Adam menentang kemauannya, karena bagi sang manajer yang memiliki ukuran perut setara orang hamil empat bulan itu, penampilan seorang artis sangat penting. Karena ‘daya jualnya’ bisa diukur dari seberapa mewah penampilannya.


Tapi dengan sombongnya, Rafardhan mengatakan, kalau dirinya sudah tampan menawan dari sejak dalam kandungan. Jadi tanpa polesan make-up pun, pesonanya tetap tak terbantahkan.


Bila sudah demikian, Adam hanya bisa terdiam. Seakan tak menemukan lagi kata sanggahan. Karena semua ucapan Rafardhan memang tak dapat disangkal. Bahwa semua itu tepat dan benar.


“Kalo gue dah trima gaji dari lu. Bulan ini gue ambil gaji gue dua kali lipat, buat beliin lu dompet baru.” Adam segera tertawa di ujung kalimatnya. Baginya menggelontorkan uang sebanyak itu hanya untuk membeli barang branded—meskipun bukan disebut suatu hal yang sia-sia, tapi lebih baik digunakan untuk hal yang lebih bermakna, misalnya dibuat liburan bersama keluarga kecilnya. Apalagi bulan depan akan bertambah lagi tanggung jawabnya sebagai seorang ayah. Karena kini istrinya tengah hamil tua.


Rafardhan mencibir sambil menggeleng kecil. “gosah deh, gue beli sendiri,” katanya dan segera berdiri setelah ritual merias tampilannya itu dianggap selesai.


“Bibir lu terlihat kering, Raf! Lu udah pakai lipbalm yang gue kasih kemarin?” mas Adam mendapatkan hasil dari tatapan saksamanya pada sang artis.


“Belum.”


“Pakai Raf! Itu penting banget buat tampilan lu!” mas Adam segera mengaduk-aduk isi tas yang biasa dibawanya kemana-mana untuk mendapatkan apa yang dicari. Sedangkan Rafardhan terlihat sedikit berdecak atas ucapan mas Adam. 'Lagi-lagi masalah tampilan' Batinnya. Tapi coba survei pada seluruh manajer artis di Negeri ini, pasti rata-rata mereka akan setuju dengan ucapan Adam.

__ADS_1


Jaman sekarang, penampilan itu sudah menjadi harga mati. Jangankan yang seorang artis, yang bukan artis saja sudah berlomba-lomba menjadikan penampilan sebagai yang pertama dan terutama. Mungkin hanya segelintir orang saja yang tidak berada dalam barisan ini.


Kembali pada Adam dan Rafardhan.


“Ketinggalan di mobil, Mas!” kata Rafardhan setelah sekian menit mas Adam sibuk mengaduk isi tas dan tak mendapatkan apa-apa.


“Napa gak bilang dari tadi?” tegur mas Adam seraya merapikan tas itu lagi. “Yuk lekas! Setengah jam lagi kita udah harus nyampek lokasi,” ucapnya sambil mendahului langkah Rafardhan yang masih kembali menelisik penampilannya di cermin.


**********


Di tempat yang berlainan.


“Bagaimana kondisi Aura?” tanya Alarick ketika mobil yang ia kemudikan sudah memasuki area parkir rumah sakit.


“Masih belum sadar, Mas,” sahut Sherin yang duduk di sampingnya. Hari ini ia ada janji bersama Quinsha untuk kembali menjaga Aura Aneshka di Rumah sakit Saipul Anwar.


“Belum. Gak ada yang tau kontaknya. Apa, Mas punya kontak Damaresh?” Sherin menatap suaminya itu penuh harap. Menurutnya, apapun masalah yang tengah dihadapi Aura dan Suaminya, Damaresh—suami Aura—harus tau kondisi istrinya itu sekarang. Tapi Sherin menjadi sangat kecewa ketika Alarick menggeleng pelan.


Masalah apa sih yang dialami oleh mas Alarick dengan keluarganya? Sampai ia tak lagi menyimpan kontak seluruh keluarganya. Batin Sherin dalam diam.


“Nanti mau dijemput jam berapa?” pertanyaan Alarick membuyarkan lamunannya.


“Sebisanya, Mas saja,” sahut Sherin. Ia segera mencium tangan suaminya itu sebelum turun dari mobil. Setelah mobil Alarick meninggalkan area parkir rumah sakit, Sherin segera menelepon Quinsha. Dan ternyata Quinsha sedang mengisi perutnya di sebuah rumah makan seberang jalan.


“Mau pesan juga, Rin?”

__ADS_1


“Gak. Aku udah barusan.”


“bareng tuan?” tanya Quinsha. Sherin mengangguk sambil tersenyum.


“Alhamdulillah. Sudah ada kemajuan.” Quinsha segera meletakkan sendok dan garpu yang menjadi peralatan makannya. Lalu ia mengusap wajah dengan dua tapak tangan selayaknya orang yang baru mengakhiri doa.


“Apaan sih, Sha. Makan bersama itu bagi kami sudah biasa,” ucap Sherin seraya menoel pundak Quinsha dengan ujung jari. “Satu rasa itu yang belum,” lanjut Sherin dengan memelankan suaranya.


“Mudah-mudahan disegerakan.”


“Aminn. Makasih doanya. Panas-panas gini kok beli makanan pedas sih, Sha?” Sherin memerhatikan wajah putih Quinsha yang dipenuhi titik keringat. Sepertinya itu perpaduan dari cuaca panas dan makanan pedas yang dilahap.


“Ini lagi ngadem,” sahut Quinsha asal.


“Ngademin apa?”


“Rasa kesal.”


“Arfan ya?” tebak Sherin langsung.


Quinsha menggeleng singkat dan kembali menikmati makanan pedasnya dengan cukup lahap.


“Lalu?”


“Nanti lah aku akan cerita,” pungkas Quinsha. Gadis cantik itu sedang meredam rasa kesalnya pada sikap sang manajer artis yang ditelepon barusan. Karenanya ia menolak untuk menceritakan. Karena dengan dibicarakan, rasa kesalnya akan semakin mencuat ke permukaan.

__ADS_1


Dan tak lama kemudian, mereka segera keluar dari rumah makan, dan berjalan menuju ke rumah sakit untuk kembali menjaga Aura yang masih belum sadar. Ketika melewati tempat parkir khusus roda empat, Quinsha mengarahkan pandangannya pada sederet mobil yang berjejer di sana bahkan sampai menghentikan langkah.


__ADS_2