
Di malam yang sama.
Di saat penyatuan cinta, asmara, jiwa dan raga antara Rafardhan dan Quinsha.
Di tempat yang berbeda, di belahan bumi lainnya.
Dering telepon yang kesekian, akhirnya berhasil juga menghentikan aktivitas panas yang sedang dilakukan dua insan di atas ranjang.
Dengan memberengut kesal, Nataniel, menarik jemarinya dari rongga lembab dan licin milik Hanum yang terlentang pasrah di bawahnya. Padahal serangan pamungkas sudah ia siapkan, usai bermain-main dengan jemari tangan, sedianya ia akan membenamkan senjatanya dalam-dalam, dimana pasangannya memang sudah sangat mendambakan.
Akan tetapi, Hanum harus menahan h2sr2t yang telah memuncak di ubun-ubun, ketika prianya itu mengakhiri begitu saja permainan yang membuat darahnya memanas dalam sekejap. Sementara Niel segera meraih ponselnya yang sudah menjerit belasan kali dari atas meja, Hanum segera membenahi bajunya yang sudah hampir semuanya terbuka.
“Apa?” Sarkas Niel pada peneleponnya di seberang.
“Kenapa baru angkat teleponku sekarang?” si penelepon juga bertanya dengan nada tak kalah berang. Dan itu suara seorang perempuan.
“Cepat katakan apa kepentinganmu! Ganggu saja,” cecar Niel masih dengan suara tinggi.
“Ganggu apa? Mang kamu lagi apa?” perempuan itu malah terdengar penasaran, tak peduli dengan intonasi suara Niel yang benar-benar memekakkan.
“Bukan urusanmu. Aku matikan teleponnya.” Niel benar-benar hendak mematikan ponsel ketika suara di seberang teriak dengan cepat.
“Tunggu, Niel! Liat infotainment sekarang. Penting!”
__ADS_1
“Ckk.” Niel berdecak dengan amarah yang memuncak. Kegiatan panasnya harus terganggu dengan telepon dari Ayunda yang meraung berkali-kali. Dan ketika teleponnya di angkat, model majalah pria dewasa itu hanya menyuruhnya untuk melihat berita artis terkini.
“Untuk apa?” tanya Niel dengan suara menggelegar. Ya pasti lah dia marah. Seorang artis besar, terkenal, mulitalenta seperti Niel, disuruh melihat acara informasi artis terkini. Bukankah lebih baik jika Niel bercermin saja, dan memandangi wajah tampan dan postur tubuh memikatnya di sana. Itu sudah sangat memenuhi syarat melihat penampakan seorang artis terkenal. Lalu untuk apa susah-susah melihat Infotainment seperti permintaan Ayunda.
“Nathaniel yang terhormat, dengarkan dulu! Di sana ada berita tentang Rafardhan,” terang Ayunda dengan suara cukup keras, hawatir kalau Niel sudah menjauhkan ponsel dari telinganya.
“Berita tentang laki impianmu? Kau saja yang liat. Aku tak tertarik,” ketus Niel dan segera memutuskan sambungan. Jika saja Ayunda saat ini ada di depan matanya, ingin rasanya ia hisap darahnya hidup-hidup, seperti itulah kira-kira, apa yang dirasakan oleh Niel kalau melihat ekspresi wajahnya.
Laki-laki itu meraih botol minumannya di atas meja dan menenggaknya beberapa teguk, sekedar untuk mengurangi rasa haus yang terasa mencekik. Namun, seberapa pun banyaknya minuman yang lolos di tenggorokan, rasa haus itu tetap tak berkurang. Karena kehausannya bukan pada minuman, tapi karena hasrat bercinta yang menuntut pelampiasan.
Hanum yang bersandar di heardboard menatap penuh tanya. Niel menggeleng singkat seraya memicingkan mata. Pandangannya menelisik pada pakaian Hanum yang telah terkancing sempurna. “Kita lanjut,” ucap Niel singkat.
Hanum mengangguk patuh. Tangannya segera melepas satu persatu pakaiannya tanpa diminta. Niel sendiri bersiap untuk meneruskan aksi. Namun, ponselnya kembali meraung lagi.
“Rafardhan bebas.”
“Apa?” sontak kemarahan Niel berubah jadi keterkejutan setelah mendengar ucapan Ayunda. “Kok bisa?”
“Dia dibebaskan,” sahut Ayunda.
“Siapa yang bebasin?”
“Lihat saja sendiri beritanya, Niel!” Dan kali ini Ayunda yang mematikan sambungan telepon lebih dulu.
__ADS_1
Nathaniel mendengkus dan gegas meraih laptop, gerakan tangannya begitu cepat, bahkan tatkala sebuah chanel yang ia pilih masih loading, jemari tangannya mengetuk-ngetuk meja dengan tidak sabar.
Dengan mengancingkan kembali bajunya, Hanum segera menghampiri dan duduk di samping sang kekasih. Selanjutnya hanya hening saja yang terjadi di antara kedua insan ini. Tatkala tatapan mata sama-sama mengarah pada sebuah tayangan berita di salah satu media informasi.
Setelah mendekam dalam tahanan Polda-Bali selama hampir 2 kali 24 jam, hari ini, Rafardhan Malik, artis ibu kota yang tertangkap tangan menggunakan narkoba jenis sabu dinyatakan bebas bersyarat.
Demikian bunyi salah satu berita yang menampilkan foto Rafardhan keluar dari gedung Polda bersama beberapa orang di samping kanan dan kirinya. Di antara orang-orang tersebut hanya Adam yang dikenali oleh Niel.
“Syukurlah, Rafardhan bebas,” ucap Hanum terlihat senang. Niel hanya melihatnya sekilas lalu kembali menscroll beberapa laman berita yang lainnya. “Aku yakin dia gak salah,” cicit Hanum lagi yang kali ini tak mendapat tanggapan apa-apa dari Niel kecuali helaan napas lelaki itu yang terdengar samar di telinga Hanum.
Beda dengan Hanum yang merasa senang dengan berita yang didengarnya, Niel justru Merasa tak puas hanya dengan satu berita saja. Lelaki tampan itu mencari laman berita yang lainnya, dan di sana ia pun menemukan berita yang sama, hanya dikemas dengan cara penyajian yang berbeda, serta gaya bahasa yang tak sama, namun, tetap satu makna.
Niel kembali menjelajah pada sumber berita yang lainnya. Dan kali ini ia mendapatkan apa yang ingin diketahuinya. Sebuah berita yang menayangkan dengan lebih jelas dan terperinci.
Rafardhan Malik, artis yang terciduk bersama lawan mainnya di salah satu hotel bintang lima, kuta-Bali. Ternyata adalah merupakan anggota keluarga besar William Pramudya, pemilik kerajaan bisnis Pramudya Corp.
Rafardhan, yang memiliki nama asli Rafasya Aditya Zaidan itu, adalah putra dari Alarik William, yang merupakan putra bungsu William Pramudya. Hal tersebut dinyatakan sendiri oleh William di hadapan para awak media seusai membebaskan Rafardhan bersama Damaresh William, penguasa tertinggi Pramudya Corp saat ini, dan Alarik William, yang merupakan ayah kandung Rafardhan.
Dan terkait kasus yang tengah menimpa cucunya, William Pramudya juga memberikan pernyataan.
Dan kemudian ditayangkan kembali apa yang diucapkan oleh William pada waktu itu di halaman gedung Polda Bali.
“Dan atas apa yang menimpa cucuku saat ini. Kami tidak ingin mengatakan kalau dia dijebak, atau difitnah. Karena untuk hal itu masih perlu pembuktian yang lebih jelas lagi. Tapi atas apa yang telah terjadi ini, kami keluarga besar William tak akan tinggal diam. Kami akan bekerja sama dengan kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini sampai selesai. Dan aku tidak akan berhenti sampai cucuku mendapatkan keadilan.”
__ADS_1
Demikian pernyataan tegas dari William yang dikutip oleh laman berita seputar artis yang dipercaya paling akurat itu.