
Malam itu juga, dengan menggunakan jet pribadi, seluruh keluarga William tiba di Jakarta. Dan langsung menuju mansion Pramudya. Ikut serta juga dalam rombongan, Rendi dan Risa.
Kehadiran Alarik William beserta istri dan putranya dalam hunian mewah keluarga besar Pramudya disambut dengan penuh haru dan bahagia. Setiap anggota keluarga memeluk mereka dengan disertai linangan air mata. Segenap harap pun tertanam dalam tiap jiwa, agar keluarga kecil Alarik bisa berkumpul bersama di hunian mewah layaknya istana itu.
Atas kebahagiaan berkumpulnya seluruh keluarga, terbersitlah pikiran dalam diri Aura Aneshka untuk mengadakan tasyakuran bersama. Dan acara yang dihelat dengan penuh khidmat dan bahagia itu menjadi Epilog dari kisah CINTAKU TERHALANG TAHTAMU. Dimana seluruh keluarga sudah berkumpul dalam suasana kekerabatan yang sangat akrab. Tak ada lagi cinta yang terhalang tahta, yang ada adalah cinta yang bertahta.
Kembali pada cerita ini.
Malam itu, semua sudah menuju kamar masing-masing yang telah disiapkan untuk mereguk indahnya terlelap, yang akan melepaskan diri dari penat, dan terhempasnya segala beban yang berat.
Begitu juga dengan Quinsha. Ia mendapatkan kamar yang sangat indah, berseberangan dengan kamar mertuanya—Alarik dan Sherin—wanita itu sudah menanggalkan hijab yang setia menghiasi tampilannya, dan bersiap ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum menjadi putri tidur di atas ranjang king size yang ketika dilihat saja, sudah bisa dibayangkan betapa nyaman dan empuknya.
Tiba-tiba saja, pintu kamarnya diketuk dari luar. Setelah menuntaskan rasa heran dan bertanya-tanya dalam diam, Quinsha bergegas membukakan pintu yang berukuran besar.
Seraut wajah tampan Rafasya berdiri di hadapannya sekarang, dengan berhias senyuman.
“Aku tidak kebagian kamar,” ujarnya.
Quinsha mengerutkan kening mendengarkan ucapan suaminya yang gagal ia paham.
__ADS_1
“Mansion ini sangat luas dan besar, terdiri dari 4 lantai. Tapi heran, aku malah gak kebagian kamar,” ujar Rafardhan lagi dengan raut wajah lesu.
“Kok bisa?” kini Quinsha juga terlihat keheranan.
“Iya.” Rafrdhan mengangguk tegas. “Masa kata kak Aresh, aku disuruh berbagi kamar denganmu,” ucapnya.
Quinsha yang semula tampak menyimak dengan serius, kini mulai tertawa. “Bisa-bisanya kamu,” ujarnya dan segera berbalik badan. Rafardhan pun mengikutinya sambil mengulas senyuman.
“Jadi mau ‘kan berbagi kamar denganku?” tanyanya. Quinsha mengangguk sambil menguncir rambutnya tinggi.
“Berbagi ranjang juga?” Rafardhan kembali menatap istrinya itu dengan senyum.
“Kamu tau, apa yang kurasakan sekarang?”
“Merasa lega,” sahut Quinsha pelan. Rafardhan mengangguk.
“Merasa senang,” tebak Quinsha lagi. Dan Rafardhan pun mengangguk.
“Lalu merasa ...” Quinsha masih terdiam berpikir untuk mengucapkan kalimat berikutnya. Dan Rafardhan segera berkata, “Aku merasa rinduku kepadamu belum terlepaskan dengan sempurna.” Lelaki tampan itu maju dua langkah untuk mengikis jarak di antara keduanya. Sesaat pandangan beradu dalam getar rasa yang tak mampu terungkap dalam kata.
__ADS_1
Tapi Quinsha menyerah, ia menundukkan pandangan lebih dulu seraya tersembunyi menarik napas, karena debar jantung yang sangat keras. Rafardhan segera menarik tubuh istrinya itu dalam dekapan erat. “Aku sangat rindu. Hanya itu yang aku rasa selama jauh darimu,” ucapnya lembut. Bahkan suaranya ketika berucap bagi Quinsha seakan irama lagu yang merdu, dan melenakan kalbu.
QUinsha mengangkat kedua tangannya, membalas pelukan itu dengan hangat. “Dan apa kamu tau, apa yang aku rasakan selama kita jauh?”
“Aku sangat ingin mendengarnya.”
“Aku juga sangat rindu.” Quinsha meredamkan wajahnya dalam-dalam di dada bidang Rafardhan. Menghirup aroma maskulin yang menguar dari sana, aroma yang membuatnya tak dapat melupakan seraut wajah yang telah mencuri hatinya dengan sempurna. “Aku sakit, mendengar kabar kau bersama wanita lain. Tapi rasa sakit itu tak dapat mengalahkan besarnya rasa rinduku padamu,” ungkap Quinsha dengan suara lirihnya.
RAfardhan mengatupkan sepasang matanya rapat. Ungkapan kejujuran Quinsha seakan semilir angin yang meniupkan aroma bunga. Sejuk, dan segar terasa. Tanpa dikomando, rasa bahagia kini telah menjajah jiwanya. Menduduki setiap rasa dan bertahta dengan angkuhnya. Iya. Rafardhan sungguh merasa bahagia.
Rasa bahagia yang kemudian diungkapkan dalam sebentuk tindakan manis. Ia mengurai pelukannya, mengangkat dagu lancip istrinya, menatap dengan lembutnya, dan menunduk menciumi wajah cantik itu dengan segenap rasa cinta yang menyelimuti jiwa.
I love u.
D3s4hnya lembut, seiring napas hangatnya yang menerpa wajah Quinsha, karena kini posisi keduanya sangat dekat dan tanpa jarak. Besar sekali niat Quinsha untuk membalas kalimat itu, dengan balasan yang serupa, seperti rasa yang ada dalam jiwa. Tapi entahlah ... kenapa mulut seakan terkunci, suara pun seakan pergi. Dia hanya mampu menatap tanpa jeda dan tak berhenti. Tapi dalam tatapannya itu merangkum jutaan kata indah yang tak bisa dibahasakan dengan sebaris kalimat puisi.
Dan tatap mata penuh cinta yang dilayangkan Quinsha terhadapnya, mampu dipahami secara sempurna oleh Rafardhan, hingga ia kembali mengekspresikan rasa cinta pula di hatinya terhadap sang istri dengan sentuhan dan ciuman. Seakan wajah istrinya adalah lukisan sastra abadi yang ingin ia jamah dalam setiap inchi. Di nikmati dan diresapi tanpa henti.
Cut
__ADS_1