
Malam mulai melewati titik tengah. Kereta sang dewi malam sudah berderak meninggalkan singgasana. Sebentar lagi waktu menjemput dini hari, lalu perlahan berganti pagi.
Tapi sepasang mata itu masih enggan memejam, kendati rasa lelah terasa merejam. Berapa puluh kali doa tidur dirapalkan, berapa puluh kali juga bacaan shalawat dilantunkan. Tapi lelap, masih enggan datang. Dan tidur juga belum mau bertandang.
Quinsha kembali duduk bersandar di kepala ranjang. Rambutnya yang panjang dan tergerai melambai lembut oleh terpaan udara dari pendingin ruangan. Beberapa kali diusapnya wajah nan lelah dengan kedua tangan. Dan nama Tuhan disebutnya dalam helaan napas panjang.
Jika tadi ia tersenyum begitu riang, bersikap begitu tenang, saat memberikan pengertian pada Firda—uminya—yang sempat terguncang, karena baru saja melihat berita artis yang menampilkan kedekatan Rafardhan dengan lawan mainnya di film terbarunya. Sekarang, Quinsha justru diterpa kegelisahan panjang, dan terkapar dalam kelana pikiran yang tak menemukan tepian.
Begini ya resiko menikah dengan seorang publik figur? Berkali tanya itu ia lafazkan dalam diam. Dan berkali pula tak mendapatkan jawaban.
Husnudzon, Quinsha. Allah itu berdasarkan prasangka hamba-Nya, maka bersangka baiklah.
QUinsha memutuskan untuk membasuh wajahnya dengan wudhu untuk selanjutnya Shalat, dan mengadukan segala resah pada Yang Maha Tahu Segala. Namun, baru saja kakinya menjejak lantai, terdengar ada panggilan telepon dari ponselnya yang tergeletak di atas nakas.
Quinsha cepat menyambar benda pipih itu. Dan terasa debar menggemuruh dalam dada, bahkan kedua tangannya seakan ikut bergetar karenanya, manakala melihat sebaris nama peneleponnya di tengah malam buta.
“Hallo Quinsha.” Terdengar suara Rafardhan dari seberang sana, ketika gadis itu memutuskan untuk segera mengangkat teleponnya.
“Eh, iya,” sahut Quinsha dengan suara hampir tercekat.
“Kamu sudah tidur ya?”
“Enggak, eh belum.”
“Kenapa belum tidur?”
“Gak papa,” jawab singkat Quinsha seraya menahan napasnya. Sesaat hening. Rafardhan tak lagi memperdengarkan suara. Sampai Qhinsha melihat layar ponselnya, kawatir kalau sambungan telepon telah terputus begitu saja.
Ternyata tidak. Jaringan masih terhubung, tapi tak ada lagi kata yang melambung. Quinsha mengigit bi-bir bawahnya seiring debaran jantung. Dan selaksa resah yang memuncak ke ubun-ubun.
“Kamu baik-baik saja, Quin?” sesaat kemudian, terdengar tanya lagi dari Rafardhan.
“Iya, aku baik-baik saja,” sahut Quinsha. Dia sedang mencoba peruntungannya dalam berkata bohong. Akan sukses atau tidak. Karena faktanya, ia sedang tidak baik-baik saja. Setelah di beberapa acara Infotainment menayangkan kedekatan Rafardhan dengan Aktris lawan mainnya.
“Syukurlah, kalau kamu baik-baik saja,” kata Rafardhan meski tak terdengar dengan suara lega saat berkata.
“Kamu juga baik-baik saja?” akhirnya Quinsha berbalik tanya.
__ADS_1
“Ya, aku baik-baik saja,” jawab Rafardhan.
“Sudah kuduga,” sambut Quinsha.
“kenapa?”
“Sudah kuduga kalau kamu pasti baik-baik saja.” Quinsha sejenak menjeda ucapannya dengan meraup napas. “Bersama dia,” imbuhnya kemudian.
“Quin—“ Dan sambungan telepon terputus, mungkin perkara jaringan. Karena baik Quinsha maupun Rafardhan, sama-sama tak ada yang memutus sambungan.
QUinsha segera melempar tubuhnya ke atas pembaringan. Ia telungkupkan wajah ke atas bantal, dalam sesaat kemudian, ia terlihat sesenggukan. Terdengar panggilan telepon, tapi ia abaikan. Hingga lalu, lelap menjemputnya, membawa Quinsha menghadap sang dewi, nan terbang menuju alam mimpi.
*******
**********
“Kenapa pucat banget, Mbak. Sakit ya?” tanya Lila seraya menatap wajah Quinsha dengak seksama.
Gadis itu menggeleng kecil dan malah balik tanya. “Kelihatan jellek banget ya, Mbak?”
“Gak kok, tetap cantik. Mbak Quinsha itu sangat cantik, artis besar saja tertarik,” canda Lila dengan seulas senyum. Perihal Quinsha yang datang ke pernikahan Arfan bersama Rafardhan memang sudah menyebar ke seantero yayasan. Dan Quinsha membiarkan saja berita itu berkembang sesuai alurnya, tanpa memberikan sedikit pun pernyataan. Tidak berupa pembenaran maupun penyangkalan.
“Mbak Lila, ijin pulang dulu ya,” pamit Quinsha beberapa jenak kemudian. Lila melihat jam tangannya. Jam pulang masih kurang 20 menit lagi. Tak masalah pikirnya. Senior Quinsha itu segera mengangguk.
Setelah mengucap terima kasih, Quinsha gegas keluar kantor dan tergesa pula menuju tempat parkir di mana kuda besinya sudah menanti. Akan tetapi, di tempat biasa ia memarkirkan mobilnya, tak dapat ia temukan mobil MVP warna hitam itu.
Quinsha mengarahkan pandangan kesana kemari, ke seputar area parkir yayasan yang cukup lebar, siapa tahu mobil kesayangannya itu sudah berpindah posisi. Meski ia tak merasa menyuruh orang untuk memindahkan. Karena di area parkir yayasan ini, memang tidak ada petugas valetnya.
Kosong, si hitam itu tak di temukan di mana pun. Quinsha mulai panik ia mengambil ponsel dalam tas untuk menelepon. Namun, belum lagi satu nomer berhasil ia hubungi terdengar suara menyapa. “Quin ...”
Gadis berhijab warna dusty itu tersentak. Mendengar Suara yang sangat ia kenal, menyebut namanya, membuat jantungnya berdetak. Segera ia bawa kepalanya terdongak. Dalam jarak 3 meter di depannya, pemuda tampan itu berdiri tegak. “Kamu?”
QUinsha seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bisa jadi ini hanya sebuah ilusi semata. Pemuda tampan itu sedang ada di Jakarta. Mana bisa, kini tiba-tiba hadir di depan mata.
“Iya, aku.” Rafardhan menjawab mantap. Menunjukkan bahwa ini memang dirinya sepenuhnya. Bukan sebentuk bayangan saja.
“Mobilmu sudah dibawa pulang oleh supirku,” ujar Rafardhan.
__ADS_1
“kenapa?”
“Karena kamu akan pulang bersamaku ke rumah. Aku sudah satu jam menunggumu di sini.”
“Ke-kenapa kamu pulang? Eh, salah, kenapa kamu datang?” tanya Quinsha sedikit terbata.
RAfardhan tak segera menjawab, ia maju beberapa langkah. Hingga kini posisi keduanya semakin dekat. “Aku datang, untuk mengakui kekalahan dalam taruhan yang kita buat,” akunya dengan tatapan lekat.
“Taruhan?” gumam Quinsha.
“Ya, siapa di antara kita yang akan merasa rindu lebih dulu. Aku kalah Quin. Aku lebih dulu merasa rindu padamu.”
QUinsha terhenyak dan menatap Rafardhan lekat. Sesaat tatapan mereka beradu dalam gemuruh rasa yang berpadu.
“Aku punya sedikit harapan, kalau kau juga merasakan hal yang sama. Kalau pun tidak, aku tidak merasa kecewa. Biar saja aku yang merindu. Itu sudah cukup bagiku.”
Pernyataan dari Rafardhan itu membuat Quinsha langsung menunduk. Pandangannya jadi mengabur karena gumpalan air yang langsung mengambang di pelupuk.
Pertanyaannya sekarang, apakah Quinsha juga merasakan hal yang sama? Seperti apa yang diharapkan oleh Rafardhan? Tentu saja. Tapi ia enggan untuk mengakuinya. Dan pernyataan Rafardhan tentang kerinduannya, sanggup menggetarkan jiwa Quinsha.
Melihat istrinya menunjukkan ekspresi demikian, Rafardhan segera mengikis jarak di antara mereka dan membawa tubuh Quinsha dalam dekapan. Menyalurkan hasrat rindu yang seakan mengguris kalbu. Seumpama biduk yang telah bertemu dayu. Kini rindu sudah berlabuh.
QUinsha juga merasa tak perlu mengingkari perasaan, kalau rasa rindu juga tertanam. Maka kini ia biarkan diri dalam pelukan Rafardhan. Bersama tetes air mata yang menggelinding sebagai perwakilan, betapa ia merasa senang. Toch hal ini bagi keduanya tidaklah terlarang.
Dua insan terlarut dalam rasa mengharu biru, terlupa akan jeda waktu, juga di tempat mana mereka melakukan hal itu. Hingga sebuah teguran dalam sebentuk deheman keras menarik dengan paksa kesadaran keduanya. Rafardhan dan Quinsha sama-sama melepaskan pelukan dan menoleh ke arah suara itu datang.
****
********
***********
siapa, siapa sih yang sudah berani-beraninya mengganggu pasangan yang sedang melepas rindu ini?
hayukk kita marahi rame-rame...😁😁
Oh ya, teman-teman..minta dukungannya untuk cerita ini ya..
__ADS_1
Bertaruh Cinta Di Atas Takdir..