Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 61


__ADS_3

“Hayoo kalian lagi ghibahin suamiku ya,” tebak Sherin pada dua orang sahabatnya itu. Aura dan Quinsha tertawa bersamaan. Tak perlu berkilah, karena tebakan Sherin memang benar.


“Ketahuan,” lirih Aura.


“Sebenarnya kami bukan ghibah, tapi justru kami punya rencana untuk mendoakan suamimu, Rin,” jelas Quinsha.


“Doa, tapi pakai air tuju sumber dan kembang tuju rupa?” Sherin menatap keduanya menahan tawa. Tapi Aura dan Quinsha tak bisa lagi menyembunyikan tawa mendengarnya.


“Itu usul Aura.” Quinsha mengadu.


“Dari pada usul Quinsha yang ingin mencuci otaknya Om Alarik,” balas Aura.


Sherin hanya bisa tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya itu.


“Sebenarnya mas Alarik itu gak salah, kok. Ia hanya menjalani apa yang ia rasa. Dan setia pada apa yang dirasa,” cetus Sherin sesaat kemudian.


“Salahnya, karena dengan itu, ia mengabaikan seorang istri yang luar biasa sepertimu, Sherin,” tandas Quinsha.


“Doakan saja yang terbaik dan terindah dari Allah buat kami,” pinta Sherin yang diangguki setuju dengan serentak oleh Aura dan Quinsha.


Langkah mereka yang terayun bersama, itu terhenti di sebuah pondokan bambu. Tempat biasa para pemetik teh beristirahat.


“Gimana masalah di pabrik sekarang? Ada solusi?” tanya Quinsha.


“Alhamdulillah. Berkat suami dia yang luar biasa,” tunjuk Sherin pada Aura.

__ADS_1


“Syukurlah, baru juga aku mau usul. Ya kali, ini bisa digunakan untuk sekalian promoin produk teh pabrik ini,” kata Quinsha.


“Apa tuh?” tanya Sherin dan Aura hampir bersamaan.


“Jadiin Agrowisata. Nanti wisatawan yang berkunjung itu, bisa melihat bagaimana proses teh kemasan itu diproduksi, dari mulai memetik teh, pengolahannya di pabrik dan pengemasannya.”


“Wahh itu usul yang brilian,” puji Aura. “Dengan begitu juga berpotensi menjadikan produk teh di sini makin di kenal. Apalagi jika bisa menggunakan seorang tokoh terkenal untuk mempromosikan. Artis misalnya,” lanjut Aura dengan antusias dan semangat.


“Artis sekelas Rafardhan,” timpal Quinsha.


“Ya, pasti luar biasa kalau sampai dia bersedia. Gimana Sherin?”


“Aku memang ada wacana seperti itu, aku juga sudah menyampaikan pada mas Alarik. Tapi saat itu dia belum ada tanggapan. Katanya akan dijawab nanti. Dan sampai sekarang aku belum membicarakannya lagi,” tutur Sherin.


“Tanyakan aja lagi, Rin. Ini peluang yang bagus lho, mengingat pemandangan di sini juga luar biasa. Aku siap woro-woro,” kata Quinsha.


“Hmm kalau untuk itu aku harus pikir 100 kali, Ra. Kalau membutuhkan jasa artis sekelas Rafardhan, apa hanya cukup dilobi aja, kan harus ada uang dalam nominal besar untuk membayar dia,” cetus Quinsha.


“Masalah dana, gampang lah nanti kita bertiga patungan. 5000 an cukup?” canda Aura.


“Ya kali, Rafardhan mau dibayar 15000,” gerutu Quinsha yang diiringi tawa renyah Sherin dan Aura.


“Aku akan bicarakan lagi hal ini pada suamiku,” ujar Sherin sesaat kemudian.


“Setuju Rin. Biar suami kamu itu tak hanya sibuk dengan masa lalunya saja. Kasih dia kesibukan tambahan selain bekerja. Ini juga bisa merangkap sebagai hiburan,” urai Quinsha.

__ADS_1


“Benar.” Aura menimpali.


“Ya, aku sangat bersemangat sekali sekarang untuk hal ini. Walaupun nantinya, aku tak akan menjadi istri mas Alarik lagi. Setidaknya aku sudah membaktikan seluruh waktuku untuknya, selagi kami masih hidup bersama,” tekad Sherin dengan secercah senyum di wajahnya.


“Apa maksud kamu, bilang begitu?” Aura menatap Sherin dengan seksama. “Apa ini yang akhirnya bakal jadi keputusanmu?” tanyanya lagi.


“Belum sebentuk keputusan. Tapi sepertinya, ini adalah kemungkinan terakhir yang harus kulakukan,” sahut Sherin seraya tertunduk dalam.


Aura dan Quinsha sesaat saling pandang mendengar itu. Seketika atmosfer kesedihan mengelilingi ketiganya, setelah barusan penuh sukacita dengan pencanangan wacana Agro wisata.


“Segenting ini ya?” lirih Quinsha.


“Awalnya, aku kira akan mampu menjalani, walau namaku tidak ada dalam hati mas Alarik. Tapi makin kesini, aku makin mengerti.” Sherin sejenak menghentikan kalimatnya untuk meraup napas, karena dadanya yang terasa sesak.


“Aku tak pernah bermaksud untuk menggantikan posisi mendiang Kanaya dalam hati Alarik. Karena dia akan terus hidup dalam hatinya sampai kapan pun. Aku hanya meminta sedikit tempat di sisi hatinya yang lain untukku. Tapi sepertinya, hal itu tak akan pernah bisa.” Sherin kembali meraup napasnya dalam-dalam untuk menegarkan jiwanya yang terasa berguncang, tiap kali hal ini dibicarakan.


“Mas Alarik itu, ibarat seorang yang buta warna. Maka seindah apa pun warna-warna yang aku punya, dia tetap tak bisa melihatnya. Jadi untuk apa aku bertahan menjadi pelangi di sisinya?” papar Sherin dengan untaian kalimat puitis yang syarat akan makna.


Mendengar semuanya, baik Aura maupun Quinsha merasakan suara mereka tertahan di rongga dada. Dan tak hanya itu saja, mereka juga merasakan sesaknya. Hingga tak ada kata yang bisa mereka ucapkan untuk beberapa saat berjalan.


Hingga kemudian,


“Rin, Kami tak akan memaksamu untuk bertahan, bila memang kau sudah tak sanggup menjalankan. Hanya saja, kami minta pikirkan semuanya dengan matang. Talak itu memang perkara halal, tapi itu dibenci Allah. Minta petunjuk dulu, Istikhoroh Rin!” kata Quinsha sambil mengusap-usap lembut pundak Sherin.


“Ya, dan apapun nanti yang menjadi keputusanmu, kami mendukungmu. Kami hanya berharap, semoga keputusan itu adalah yang terbaik dari Allah, buat kamu dan om Alarik.” Aura menimpali ucapan Quinsha.

__ADS_1


“Terima kasih ya.” Sherin segera memeluk dua orang sahabatnya itu dengan tak bisa menahan jatuhnya air mata.


__ADS_2