
“Rafardhan Malik!” Baik Sherin maupun Aura sama-sama menyebut nama pemuda tampan nan rupawan yang datang bersama Alarik itu, dengan ekspresi heran dan pandangan penuh tanya.
Alarik yang tersadar kalau anaknya adalah artis terkenal, wajar jika banyak yang sudah mengenal, termasuk Sherin dan Aura. Lelaki itu jadi tersenyum sambil menoleh pada Rafardhan. Sedangkan pemuda tampan itu sendiri tampak menghentikan langkahnya dan berdiri dalam diam, tapi tatapannya jelas tertuju pada Sherin dan Aura.
“Mas, kok bisa datang bersama Rafardhan?” Tanya Sherin, ia sudah punya dugaan kalau suaminya itu sengaja mengundang Rafrdhan untuk memberikan kejutan padanya. Karena selama ini Sherin suka melihat web series yang diperankan oleh pemuda tampan itu.
Alarik mendekati Sherin. “Kalian memang mengenalnya sebagai Rafardhan Malik. Tapi nama aslinya adalah, Rafasya Aditya Zaidan. Dia putraku dengan Kanaya,” ungkap Alarik sembari menyematkan senyuman bangga.
“Apa!?” kini Sherin dan Aura berada dalam keterkejutan yang nyata. Kedua wanita cantik berhijab itu bahkan sesekali melempar pandang. Tapi, dibandingkan Sherin yang kemudian jadi memindai tatapannya pada Rafardhan, Aura segera menemukan kesadarannya. Ia berdiri dan mendekati Alarik.
“Ini beneran, Om?”
“Ya,” jawab Alarik sambil tersenyum.
“Ini sungguh kejutan yang luar biasa. Berarti dia sepupunya Aresh ya, Om?”
Alarik mengangguk dan menoleh pada Rafrdhan yang masih berdiri terpaku di tempatnya semula. “Nak, ini namanya Aura Aneshka. Dia istrinya Damaresh, keponakan, papa.”
“Damaresh William, CEO Pramudya?” tanya Rafrdhan. Ya, siapa sih yang tak kenal Damaresh, atau setidaknya tahu pada pemilik perusahaan raksasa di Negara ini.
“Iya, dia sepupumu,” sahut Alarik. Terlihat Aura dan Rafrdhan saling melemparkan senyuman.
“kemarilah, Nak!” panggil Alarik pada putranya itu.
RAfardhan pun mendekat. Dan kini tatapannya bertemu dengan Sherin yang memberinya senyuman lembut.
“Ini istrinya papa, namanya Sherin Mumtaza.”
“Eh, ini istri, Papa?” tanya Rafardhan terlihat heran.
“Iya, jauh lebih muda dari papa ya,” sahut Alarik sambil terkekeh. “Mungkin kau lebih pantas memanggilnya, Mbak,” imbuhnya lagi.
“Terserah kamu, mau manggil saya apa, senyamannya aja,” celetuk sherin sambil menyematkan senyuman. “Saya senang, akhirnya papamu bisa bertemu dengan kamu. Dan sangat mengejutkan, bahwa ternyata putranya mas Al itu kamu,” ucap Sherin pada Rafardhan dengan nada akrab tapi juga ramah.
“Dia salah satu penggemarmu juga, Nak,” celetuk Alarik.
“Terima kasih, untuk semuanya,” ucap Rafardhan masih terdengar cukup kaku. Tapi ada sebaris senyum di bibir merahnya. “Tapi ...” Rafardhan memutus kalimatnya begitu saja.
“Tapi kenapa, Nak?” tanya Alarik segera.
__ADS_1
“Bukannya istri, Papa itu bernama Quinsha Daneen ya?”
“Bukan, Nak. Ini istrinya papa!” tunjuk Alarik pada Sherin.
“Quinsha? Ya, kamu sudah kenal dia ‘kan? Dia sahabat saya ... tepatnya sahabat kami. Saya, Aura dan dia bersahabat sejak dari pesantren,” terang Sherin. Tampak Rafardhan mengangguk paham.
“Ternyata, saya sudah salah paham,” gumamnya pelan.
“Salah paham, kenapa?” tanya Alarik yang melihat raut tak nyaman di wajah putranya.
Rafardhan menatap papanya itu dengan tatapan dalam, setelah menghela napas ia berkata, “Pa, aku selama ini sudah punya pikiran buruk pada, Papa.”
“Iya, aku tau. Ayahmu sudah bercerita padaku. Dan aku sudah mengerti apa alasanmu,” sahut Alarik. Karena memang Rendi sudah memberitahukan semuanya pada Alarik, saat Risa mengisahkan semuanya pada Rafardhan.
“Tak hanya itu, Pa. Aku juga punya niat buruk pada istri, Papa. Karenanya aku minta papa, untuk mempertemukan aku dengannya, karena aku ingin minta maaf. Dan rupanya aku sudah salah orang. Yang aku tau, istrinya, Papa itu bernama Quinsha,” beber Rafardhan sambil menatap Alarik lekat.
“kenapa kamu bisa mengira kalau Quinsha itu istriku?”
“Aku pernah melihat kalian di mal beberapa waktu lalu.”
“Di Mall, kapan?” Alarik terlihat sedang berpikir.
“Oh iya,” sambut Alarik yang sudah dapat mengingat semuanya.
“Nah itu dia, Quinsha!” tunjuk Sherin ke arah pintu. Semua rotasi pandangan pun tertuju ke sana. Ke arah Quinsha yang berdiri di tengah pintu, dan pandangannya hanya tertuju pada Rafardhan satu.
“Quin!”
“Salah orang ya, Raf?” sambut Quinsha segera. Rupanya ia telah mendengar semuanya. “Jadi selama ini, kamu deketin saya, karena kamu pikir saya adalah istri papa kamu?”
RAfardhan tak segera menjawab, tapi kemudian ia mengangguk.
“Dan, semua yang kamu lakukan ke saya, adalah dalam rangka sebuah misi, misi balas dendam sama papa kamu?” tanya Quinsha lagi dengan suara bergetar.
“Gak semuanya, Quin. Ada yang memang tanpa sengaja kita bertemu. Dan selebihnya, iya. Saya akui,” sahut Rafardhan dengan jujur.
Quinsha menggeleng sambil tersenyum. Bukan senyum indah, bukan pula senyum senang. Tapi lebih tepatnya sebuah amarah yang berusaha dikemas dengan keanggunan.
“Luar biasa kamu, Rafardhan. Gak percuma kamu jadi artis terkenal,” tandasnya penuh dengan sindiran.
__ADS_1
“Quin, saya minta maaf,” ucap Rafardhan seraya maju beberapa langkah.
“Saya, maafkan,” sahut Quinsha cepat. Dan secepat itu pula, ia memutar tubuhnya dan beranjak.
“Quin tunggu!” Rafardhan segera mengejar.
Alarik yang semula duduk tenang, kini berdiri dengan tatapan heran.
“Ada apa, Ini?”
Sherin dan Aura hanya saling bertukar pandang, mereka juga tak cukup mengerti untuk menjelaskan. Walaupun sudah sedikit banyak tahu dari cerita Quinsha. Tapi melihat kemarahan Quinsha saat ini pada Rafardhan, mereka mengambil kesimpulan, kalau yang terjadi di antara keduanya, sudah lebih jauh dari apa yang diceritakan.
“Quinsha tunggu!” di halaman rumah sakit itu, Rafardhan berhasil menyusul Quinsha dan menghadang langkahnya.
“Mau apa lagi? Saya sudah memberi maaf. Sudah cukup ‘kan? Kamu Cuma ingin minta maaf ‘kan?” tukas Quinsha dengan tatapan tajam.
“Sa-saya salah, ta-tapi kasih saya waktu untuk menjelaskan,” pinta Rafardhan sambil menatap wanita cantik di depannya itu lekat.
“Kamu sudah menjelaskan tadi di dalam. Dan saya sudah mendengar semuanya. Saya pun sudah paham, bahwa kamu mendekati saya, hanya ingin balas dendam, bukan karena benar-benar suka seperti sikap yang kamu tunjukkan,” urai Quinsha. “Apa ada yang masih kurang, dari semua yang saya pahami?” tanyanya.
“Saya punya alasan kenapa melakukan semuanya, Quin.”
“Apapun Alasan kamu, Rafardhan, tindakan kamu itu picik, sangat picik tau, gak? Kamu mempermainkan perasaan orang,” cecar Quinsha dengan nada tajam.
“Quin, saya minta maaf.”
“Sudah saya maafkan. Sudah selesai ‘kan?” Quinsha segera berbalik untuk meneruskan langkahnya. Tapi baru dua langkah, gadis itu berbalik. “Saya senang, bahwa ternyata kamu putranya pak Alarik. Itu artinya kamu anak sambung sahabat saya. Hanya sebatas itu sekarang, antara kita. Selebihnya, kamu tidak kenal saya. Dan saya juga tidak tau kamu,” putus Quinsha.
Gadis cantik itu pun kembali meneruskan langkah tanpa bisa di cegah.
********
Mbak Quinsha sangat marah sama Mas Rafa..gimana nih??????
Aku juga pusing ini harus gimana..untuk meredakan amarahnya Quinsha.
*******
maaf ya, kalau selama ini aku bikin gantungan baju terus. Tapi aku sayang kalian kok. gak mungkin aku perlakukaan kalian kayak jemuran yang tak kering. hanya saja, waktu menulisku belakangan ini sangat terbatas, karena kesibukan di dunia nyata..jadi hanya bisa up satu bab saja tiap harinya...maafkan ya semuanya..
__ADS_1
dan..ditunggu selalu dukungannya.