Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 95


__ADS_3

“Mas, kamu gak mau ke Jakarta?”


Itu adalah pertanyaan Sherin yang kesekian kalinya, terhitung sejak sekitar sepuluh hari lalu, saat Aura mengabarkan kalau William Pramudya terkena stroke dan sekarang di rawat di mansion Pramudya, Sherin selalu menanyakan hal yang sama pada suaminya.


Jika setiap pertanyaannya hanya selalu dijawab dengan gelengan singkat oleh Alarik, tapi kini lelaki itu menatap istrinya dengan seksama cukup lama, sebelum satu kalimat terucap dari bibirnya. “Apa kamu gak ada pertanyaan lain, selain itu istriku?”


“Apa kamu tidak punya jawaban yang lain, setiap kali aku bertanya begini, Mas?” Sherin malah balik tanya.


“Iya, aku tidak punya jawaban yang lain, selain, tidak.” Alarik lalu mendaratkan wajahnya di perut Sherin yang kini sudah mulai kelihatan membuncit. Geli dengan ulah suaminya, Sherin bergerak kesana kemari lalu melepaskan diri dan hendak pergi.


“Mau kemana, sayang?”


“Ke dapur. Besok, aku akan tanyakan lagi hal yang sama padamu, Mas. Semoga jawabanmu sudah berubah,” kata Sherin dan segera membawa tubuhnya hendak keluar dari kamar itu.


“Mau kamu tanyakan berapa kali pun, jawabanku akan tetap sama,” tandas Alarik yang membuat Sherin hentikan langkah dan berbalik badan menatap suaminya.


“Sampai kapan, Mas?”


ALarik menggeleng. “Mungkin untuk selamanya,” jawabnya kemudian.


“Boleh aku ajukan penawaran?”

__ADS_1


“Sherin sayang, ini sebuah keputusan, bukan proses jual beli di pasar tradisional. Jadi, tidak ada tawar menawar.” Alarik menarik gemas ujung hidung istrinya dan menoel-noelnya dengan sayang.


“Dengarkan dulu penawaranku, Mas. Siapa tau kau tertarik.”


“Ok, apa?”


“Keputusanmu itu harus sudah berubah, selambat-lambatnya sampai anak kita sudah bisa bicara, dan sudah mulai bertanya bagaimana ayah dan ibunya. Di mana kakek dan nenek dari pihak ayah dan ibunya. Karena aku tidak mau memberikan informasi palsu untuk anakku. Aku juga tak ingin membohonginya tentang hal yang sebenarnya. Dan bila aku harus jujur, aku juga tak ingin ia akan punya pikiran negatif tentang ayahnya, atau pun kakeknya. Aku ingin, memberinya rasa nyaman di dalam keluarga. Bahwa keluarga, adalah surganya yang pertama,” urai Sherin panjang lebar.


ALarik terdiam, diam cukup lama. Sepertinya ucapan Sherin mulai mengetuk jiwanya yang paling dalam. Tapi untuk datang ke Jakarta dan menjenguk William yang saat ini, terbaring antara hidup dan mati, Alarik juga tak ingin sama sekali. Bukan karena ia ingin mengingkari, kalau dalam dirinya mengalir darah William. Tapi lelaki tua angkuh yang memiliki status sebagai ayahnya itu, menurut Alarik pantas memetik hasil dari keangkuhannya selama ini.


Jatuhnya William pada kondisi stroke berat sekarang, setelah perusahaan adi kuasanya--Pramudya Corp—berhasil di akuisisi oleh cucunya sendiri—Damaresh William—dengan segala kecerdasan yang ia miliki. Dan apa yang dialami oleh William saat ini, itu adalah harga yang pantas ia dapatkan. Demikian menurut Alarik. Sehingga ia masih bergeming atas ucapan panjang lebar dari Sherin, kendati pun hal itu telah mencubit hatinya yang paling dalam.


“Baiklah, sebelum anak kita sampai pada fase itu, semoga jawabanku sudah berubah,” putus Alarik kemudian.


“Ah, hanya ini saja, hadiah yang kau berikan?” Alarik menatap Sherin terlihat kurang puas.


“Lalu, kamu mau apa?”


ALarik tersenyum dan segera mengangkat tubuh istrinya itu ke atas ranjang. Aktivitas selanjutnya dari mereka berdua tak perlu dijelaskan lewat tulisan, cukup dibayangkan saja dalam pikiran. Semua pasti sudah paham.


****************

__ADS_1


*****************


Dalam pengawalan beberapa bodyguard bertubuh tinggi besar, Damaresh memenuhi hasrat istrinya yang ingin berjalan-jalan di maal paling besar yang ada di ibukota. Meski raut wajah datar setia menemani, dan meski tak ada senyum yang terpancar di wajah itu dari sejak tadi, tapi Damaresh terlihat sabar mengikuti kemauan sang istri yang mengajaknya ke sana kemari, melihat-lihat barang yang diingini dan tak berakhir dengan dibeli.


Aura, saat ini tengah berada dalam fase sangat sensitiv dan mudah menangis (hal itu terjadi jelang ia akan berbadan dua lagi. Baca: Cintaku Terhalang Tahtamu) Segala keinginannya, jika tak dituruti akan berakhir dengan drama air mata tanpa henti. Aura yang sebenarnya bukan sosok yang manja kini juga menjadi sangat manja tingkat dewi dan bahkan jadi suka menyusahkan suami dengan keinginan yang tak biasa, atau di luar kebiasaannya.


Seperti saat ini, jalan-jalan ke mall hanya untuk melihat-lihat bukan kebiasaan Aura sama sekali. Tapi dasar Damaresh yang sudah cinta mati kepada sang istri, ia hanya menikmati saja semua ini. Baginya, menuruti kemauan istrinya adalah perkara wajib yang tak perlu ditawar-tawar lagi.


“Rafasya!” tiba-tiba perhatian Aura teralih pada seorang pemuda yang berjalan di tergesa bersama seorang wanita cantik. Terdapat dua orang yang tengah mengawal langkah mereka. Dan terdapat beberapa awak media yang sedang berlarian mengejar ingin mendapatkan berita.


“Iya, itu Rafasya,” gumam Aura.


“Siapa sayang?”


“Itu Aresh! Itu Rafasya!” tunjuk Aura pada beberapa orang yang melangkah kian jauh itu.


“Rafasya siapa?” tanya Aresh dengan kening berkerut dalam. Ia tak suka melihat istrinya itu melihat sedemikian rupa pada seorang lelaki tampan selain dirinya saja yang tampannya memang konsisten. Senyum tidak senyum, ketampanan Damaresh tetap terpancar.


Bukannya menjawab pertanyaan suaminya, Aura malah bergegas mengejar lelaki yang yang diyakininya sebagai Rafardhan itu. Mau tak mau, Aresh pun mengikut pula. “Arra, jangan main-main ya, kau mau mengejar seorang pria yang tak ku kenal. Siapa dia?”


“Aresh, itu sepupumu. Dia putranya om Al.”

__ADS_1


“Apa?” Damaresh langsung hentikan larinya karena kaget, tapi sejurus kemudian ia segera memerintahkan para pengawalnya untuk mengejar pria yang dimaksud. Sementara tangannya segera mencekal tangan istrinya yang masih ingin berlari mengejar. “Tunggu di sini, Arra. Dia sendiri yang akan menemui kita.”


__ADS_2