Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 89


__ADS_3

Quinsha tiba-tiba saja mengurungkan niatnya untuk masuk dan duduk dalam mobil itu. Padahal sebelah kakinya sudah menjejak karpet mobil mewah itu, dan tubuhnya sudah membungkuk siap untuk duduk.


“Kenapa, Quin?” Tanya Rafardhan yang memerhatikannya sedari awal, bahkan sejak Quinsha keluar dari pagar halaman.


“Tidak apa-apa.” Quinsha menarik napasnya dalam, dan membuang pandangan.


Rafardhan terlihat begitu tampan malam ini, meski tidak memakai jaz dan dasi, ia hanya membalut tubuhnya dengan kemeja warna navi dipadu celana bahan warna senada. Tapi tampilan wajahnya, model rambut, bahkan termasuk jam tangan yang melingkar di pergelangannya, semua terlihat sangat “wahh” dalam pandangan Quinsha. Bahkan membuat gadis itu merasa kalah saing dengannya. Tampilan Rafardhan seperti jauh lebih cantik dari Quinsha.


Ada-ada saja mbak Quinsha. Rafa itu laki lho, Mbak. Masa dibilang cantik?


“Quinsha, kok belum berangkat juga, Nak?” terdengar pertanyaan dari Firda yang ternyata tetap berdiri di tengah halaman memerhatikan putrinya.


“Ya, Ummi.” Quinsha kembali masuk mobil dan segera duduk sambil menghela napas. Segala ekspresi gadis ini terluput dari perhatian Rafardhan, karena pemuda itu sedang sibuk dengan ponsel di tangan. Ia hanya menoleh sekejap saat Quinsha telah duduk di sampingnya, lalu menyalakan mesin dan menjalankan mobil tanpa kata-kata.


“Kamu baik-baik saja, Quin?” pemuda tampan itu baru melempar tanya setelah hampir separuh perjalanan.


“Ya.”


“Kenapa diam saja?”


“Kamu juga gak bicara,” balas Quinsha.


“Saya sedang hemat suara, untuk nanti di acara.”


“Maksudnya? Untuk apa?” Quinsha sampai sedikit menghadapkan tubuhnya pada pemuda yang ada di sampingnya itu.


“Ya, mungkin saja nanti akan ada perang urat syaraf dengan Arfan, gara-gara dia lihat kamu datang bersama sa-ya.” Rafardhan tak dapat menyelesaikan secara utuh kalimatnya, karena sudah didahului tawa. Dia merasa lucu sendiri dengan apa yang sudah diucapkannya barusan.


Quinsha juga tertawa. Bercandanya Rafardhan terdengar garing dan tak masuk akal, tapi cukup menghibur bagi gadis itu, yang awal duduk di samping Rafardhan saja, sudah diserang dengan pikiran berkecamuk di kepalanya.


“Lumayan ‘kan Quin? Sedikit mengurangi ketegangan,” tukas Rafardhan.


“Siapa yang merasa tegang? Saya?”


Rafardhan mengangguk. “Sangat terlihat,” ucapnya.


Quinsha jadi tersamar menahan napas, padahal dari tadi Rafrdhan tak terlihat menatapnya sama sekali, kenapa bisa pemuda tampan itu tau, kalau kegelisahan sedang menyerang Quinsha saat ini.


“Yakinkan diri, bahwa kamu akan baik-baik saja, Quin! Tak hanya kamu, dalam diri Arfan juga pasti ada rasa sesal tak bisa bersama kamu,” ucap Rafardhan lembut.

__ADS_1


QUinsha sungguh terperangah dengan ucapan itu. Rafardhan bukan hanya seakan tahu pada apa yang dirasakan, bahkan bisa menyelaminya dengan dalam. Padahal Quinsha tak pernah mengatakan apa-apa tentang Arfan. Tapi Rafardhan bisa paham.


“Apa kamu yakin, kalau hal itu yang sedang saya pikirkan?” Bukannya mengucap terima kasih atas nasihat Rafardhan yang begitu bijak itu, Quinsha malah ingin mengingkari dengan pertanyaanya itu.


“Gak begitu yakin, juga,” sahut Rafardhan sambil sedikit mengedikkan bahu. “Saya malah berharap, kamu merasa tegang karena duduk di samping saya,” imbuhnya.


Quinsha tertawa renyah. “Anggap saja begitu. Saya merasa kalah saing dari kamu,” cetus Quinsha.


“Apa perlu saya acak-acak penampilan saya?” Rafardhan menaikkan sebelah alisnya.


“Gak usah. Tapi jangan lupa pakai masker!” titah Quinsha.


RAfardhan mengangguk. Karena ia memang tak siap jika besok atau lusa, fotonya akan terpampang di halaman depan sebuah tabloid tengah menghadiri acara pernikahan bersama Quinsha. Selain merasa capek untuk klarifikasi di depan wartawan—walaupun untuk hal itu sering dilakukan oleh Adam, bukan dia sendiri—tapi justru, menghadapi kemarahan Adam itulah yang terasa lebih berat bagi Rafardhan.


Pasalnya malam ini, seharusnya ia bertemu Hanum—Aktris lawan mainnya di film terbaru—tapi pemuda itu malah mangkir dari jadwal dan memilih menemani Quinsha pergi kondangan.


Demi apa semua ini? Rafardhan harus mereview dirinya sendiri, apa alasan tindakannya ini. Apa hanya sebatas rasa bersalah, atau ada sesuatu yang lain lagi.


“Hai, Mbak Quinsha, baru nyampek ya?” Lila menepuk pundak Quinsha yang sedang berdiri di luar gedung, menanti Rafardhan yang sedang memarkirkan mobilnya.


“Ah, iya, Mbak Lila.” Quinsha mengusap d4d4nya. “Aduh, sampai kaget,” lanjutnya.


“Makanya jangan sambil melamun. Sana cepat masuk, Pak Arfan sudah nanyain, Mbak Quinsha tuh!” Lila memberi isyarat ke dalam gedung, di mana resepsi sudah di gelar sejak dua jam yang lalu.


“Oh, ada temannya?”


“Iya, Mbak. Aku takut datang sendirian,” canda Quinsha.


Rafardhan yang sudah menutupi wajah dengan masker, menghampiri keduanya. Ujung matanya menatap ke arah Lila sesaat, tapi Lila sudah menatap pemuda itu dengan seksama.


“Siapa ya, kayak pernah lihat,” gumam Lila tanpa melepas tatap dari Rafardhan.


“Perasaan mbak Lila aja kali, ini teman saya. Kita ke dalam dulu ya, Mbak.” Quinsha cepat menarik lengan Rafardhan menuju ke dalam gedung, sebelum Lila menemukan ingatannya tentang siapa pemuda yang bersamanya itu.


“kita duduk dulu, apa langsung saja ya?” tanya Quinsha setelah berbaur dengan tamu yang lain di dalam gedung.


“Kalau menurut saya, untuk menyudahi debaran kamu, kita langsung saja ke sana, memberi selamat pada mempelai!” tunjuk Rafardhan ke pelaminan di mana Arfan bersanding dengan Zahwa dalam balutan rona kebahagiaan.


“Saya setuju. Tapi apa tadi kamu bilang? Menyudahi debaran saya?”

__ADS_1


“Iya. Apa saya salah?” Rafardhan menatap tepat pada bola mata Quinsha. Si empunya segera mengalihkan pandangan tanpa menampik ataupun mengiyakan. Selanjutnya mereka beriringan menuju pelaminan, tanpa ada genggaman tangan sebagaimana pasangan yang lain.


Ketika akan menjejakkan kaki di pelaminan itu. Rafardhan menghentikan langkah dan menatap Quinsha. “Kamu gak mau gandeng tangan saya, Quin?”


“Mang kenapa?”


“Biar Arfan tak menyangka kita pasangan yang tak sengaja ketemu di pinggir jalan,” sahut Rafardhan. Dan ia segera menarik tangan Quinsha untuk ditautkan ke lengannya. Gadis itu sebenarnya ingin menolak, tapi nampak Arfan mulai melihat kedatangannya dan memerhatikan dengan senyuman. Akhirnya ia biarkan tangannya bertautan di lengan Rafardhan.


Sekarang, debaran dalam dada Quinsha makin menjadi, entah karena akan mengucapkan selamat pada pria yang selama dua tahun namanya ia sebut dalam doa. Atau karena genggaman tangan Rafardhan di jemari tangannya, yang membuat posisi mereka sangat dekat sekarang, bahkan wangi pemuda tampan itu memenuhi Indera penciuman Quinsha dengan jelasnya.


“Kalau mau pingsan, kasih tau ya,” canda Rafardhan yang melihat kalau wajah Quinsha semakin tegang.


Arfan menatap Rafardhan dengan seksama, pandangannya menelisik, penuh selidik. Namun, bibirnya mengulas senyuman, menerima ucapan selamat dari Quinsha dan Rafardhan.


“Terima kasih hadirnya, Quinsha ... Bisa kita foto bersama?” Arfan menyatukan tangan di depan dada, penuh pengharapan, begitu juga dengan Zahwa, istrinya.


Quinsha menatap Rafardhan meminta persetujuan. Pemuda tampan itu mengangguk.


“Mas, boleh maskernya dibuka dulu!” pinta Arfan pada Rafardhan saat kini mereka dalam pose siap diambil gambar.


QUinsha terhenyak dengan permintaan itu. Dan segera, wajahnya dilanda kepanikan.


*********


Untuk para pembaca sekalian..aku membebaskan kalian untuk berimajinasi, tentang sosok siapa saja yang dianggap pantas untuk menjadi Rafardhan dan para pemeran yang lain dalam cerita ini. Yang aku minta hanya 4 hal..(4 hal kok dibilang hanya ya).



like



2.komentar.


3.favouritkan



kalau bisa dan kalau ikhlas, vote dan gift ya..

__ADS_1



hihihi.


__ADS_2