
“Mas, suka pada mbak Quinsha?” tanya Zahwa lebih lanjut.
Arfan segera terdongak dan menatap Zahwa dengan pandangan lekat. “Apa maksudmu, bertanya demikian?”
“Saya hanya ingin memastikan, apakah yang saya rasakan itu salah atau benar,” tukas Zahwa dengan sedikit menghindari tatap mata Arfan.
Zahwa dapat merasakan di relung hatinya, akan adanya yang tersirat dalam diri Arfan pada Quinsha, pun sebaliknya. Perasaan itu ia dapat, sepanjang ibunda Arfan menjelaskan pada Quinsha maksud dari di datangkannya gadis cantik itu ke kediaman mereka.
Saat itu Quinsha, beberapa kali melihat pada Arfan dengan tatapan yang sulit diartikan. Dan di saat yang berlainan, Arfan juga melakukan hal yang serupa. Bahasa mata keduanya, bukan sesuatu yang dapat diungkap dengan kata, tapi hanya bisa dipahami oleh rasa. Rasa, dalam diri Zahwa, yang menjadi penuh akan tanda tanya.
Tanda tanya semakin menguat tatkala melihat interaksi Arfan dan Quinsha baru saja. Di tambah dengan kepergian gadis itu yang menolak diantar, serta Arfan yang masih berdiri terpaku di tempatnya.
Wajar saja, jika kini Zahwa memutuskan untuk bertanya. Dan apa jawab Arfan atas pertanyaannya.
“Dan kepastian yang saya ketahui sekarang hanya satu. Bahwa kamu calon istri saya, dan sebentar lagi kita akan menikah,” putus Arfan. Ucapan itu segera mematahkan setiap ‘calon’ pertanyaan lanjutan yang akan diajukan lagi oleh Zahwa padanya.
Menurut Arfan, membahas rasa sukanya pada Qhinsha, sudah bukan waktunya lagi sekarang. Ketika dia sudah memutuskan untuk menikah, maka seharusnya tak ada nama lain yang masih ia simpan. Ia anggap rentetan kejadian kemarin, hanya satu kesempatan kecil yang ditawarkan Allah padanya untuk ia ambil atau tidak.
Kesempatan apa? Menunjukkan sedikit rasa sukanya pada Quinsha. Hal ini adalah sebentuk ujian. Dan seharusnya kesempatan ini diabaikan. Hingga ia tak perlu melukai perasaan Quinsha, dan dirinya juga tak perlu merasa terluka seperti sekarang.
__ADS_1
Ingatlah, saat kita memutuskan untuk meyakini sesuatu atau meninggalkan sesuatu. Allah pasti akan menguji, sekuat mana niat kita itu. Lebih kurang seperti itulah yang terjadi pada Quinsha Daneen dan Bayhaki Arfan dalam kisah ini.
Tapi bagaimana dengan Quinsha yang memutuskan pulang sendiri dari rumah Arfan? sementara sepanjang langkah, air matanya menetes di atas jiwanya yang retak dan patah.
*******
Di hari yang sama, di tempat yang berbeda. Alarick harus mengusap wajahnya beberapa kali, setelah tiga kali menerima laporan yang sama dari anak buahnya. Kalau produk mereka kembali ditolak oleh toko retail yang memang sudah lama berlangganan. Dengan alasan yang tak masuk akal—menurut Alarick.
katanya konsumen yang kurang menyukai. Padahal dari hasil survei, produk teh kemasan miliknya, selalu laku keras di pasaran, karena tidak menggunakan pemanis dan pewarna buatan.
Akibatnya, barang menumpuk di gudang, dan Pabrik terancam tak akan bisa berproduksi beberapa waktu ke depan. Lalu bagaimana dengan nasib para pekerja?
Setiap pertanyaan Alarick selalu berakhir jadi tanda tanya kembali. Artinya tak bisa menemukan jawaban yang pasti. Kini wajah lelaki ganteng itu sudah sekusut baju yang berbulan-bulan tak di setrika. Sherin yang melihatnya sangat tidak tega. Tapi di satu sisi ia juga tak bisa berbuat apa-apa.
“Minum dulu, Mas!” Sherin menyerahkan segelas air putih yang segera diterima oleh suaminya itu dan meminumnya seteguk. Dan segera meletakkan gelas itu lagi.
“Apa tidak sebaiknya kita minta tolong pada Damaresh, Mas? Dia kan pernah memegang perusahaan besar, hal-hal seperti ini, pasti sudah sering ia hadapi,” usul Sherin. Sebenarnya dari sejak semalam ia punya ingin mengusulkan demikian, tapi takut Alarik tak berkenan.
“Bisa juga,” ucap Alarik setelah terdiam beberapa jenak dengan pemikirannya.
__ADS_1
Sherin tersenyum lega, melihat mendung di wajah suaminya sedikit berkurang. “Mas telepon saja dia sekarang. Kata Aura dia tiap hari ada kok, gak kemana-mana.”
Alarick mengangguk setuju, tapi belum lagi ia menelepon nomor Damaresh ada satu panggilan masuk lebih dulu. “Mas Rendi,” gumam Alarick melihat sederet nama peneleponnya di layar ponsel. Seketika wajahnya berbinar senang. Dan senyuman pun segera terkembang.
Sherin melihat itu dengan berdebar. Ia ingat kalau Rendi itu adalah suaminya Risa—kakak Kanaya—Lelaki itu menelepon pasti akan memberi kabar, terkait permintaan Alarik untuk bertemu dengan putranya.
“Hallo Mas Rendi,”
**Ya hallo Rick apa kabar?**
Baik, Mas. Mas Rendi gimana?
**Ya, aku juga baik. Begini Alarik tentang keinginanmu beberapa hari yang lalu ya ...**
Iya, Mas. Gimana?
Alarik tak dapat menyembunyikan wajahnya yang tegang akibat berdebar terlalu keras harap-harap cemas akan kabar yang di dapat.
**Putramu belum bersedia bertemu. Dia mungkin masih butuh waktu**
__ADS_1
Pupus sudah harapan Alarik, bak daun layu yang berguguran. Mendung pekat kembali menutupi wajahnya yang sepintas lalu begitu berbinar ceria. Ia bahkan tak mampu walau hanya sekadar mengucap satu dua patah kata, karena kecewa yang teramat merejam jiwa.