Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Bab 15


__ADS_3

Selang tak seberapa lama, terdengar notifikasi pesan masuk. Quinsha segera memeriksa ponselnya yang diabaikan begitu saja, setelah ketikan singkatnya mengudara.


Sherin:


Menikahlah! Agar sepi itu segera pergi.


QUinsha langsung senyum semringah, karena mendapatkan teman bicara, walaupun melalui chat saja.


Quinsha:


Kamu sudah menikah, tapi masih terlihat sepi aja.


Sherin:


Ahaaa. Senjata makan tuan, ini.


Quinsha:


Hihihi. Maksudku, sepi grup ini hanya ada kita berdua. Kapan formasinya akan lengkap ya?


Sherin:


Insha Allah sebentar lagi, Sha. Aura sudah sadar tadi.


Quinsha:


Benarkah?


Alhamdulillah. Subhanallah.


Quinsha yang semula tiduran santai segera menegakkan tubuhnya. Segenap puji dan syukur ia ucapkan sepenuh jiwanya, untuk Aura Aneshka yang telah menemukan kesadarannya setelah tidur terlalu lama.


(Author: Kisah Sherin dan Quinsha ini terjadi bersamaan dengan saat-saat Aura meninggalkan Damaresh karena strategi William. Sehingga ada beberapa Part dalam kisah CINTA TAK BERTUAN, yang adalah Part dalam CINTAKU TERHALANG TAHTAMU. Karena memang ceritanya saling berhubungan. Dan semua itu juga dimaksudkan untuk para pembaca baru yang belum pernah ke CTT, jadi lebih paham alurnya, dan sekaligus tertarik untuk mengunjungi CTT juga)


Lanjut pada Sherin dan Quinsha yang sedang asyik bertukar ketikan dalam Grup chat.

__ADS_1


Sherin:


Aku pikir, kamu tadi akan ke rumah sakit.


Quinsha:


Rencananya begitu, tapi gak jadi karena banyak hal.


Sherin:


Apa saja?


Quinsha:


Besok aku cerita, di rumah sakit. kamu mau ke sana juga, kan?


Sherin:


Ya. Jemput aku ya.


QUinsha:


Sherin:


Masih nunggu tuan.


QUinsha:


Jam segini lum datang? Kebiasaan. Ya dah aku tidur dulu, mataku udah ngajak mengatup. Ntar lagi tuan pasti datang.


Sherin:


Ya, semoga.


Setelah mengakhiri obrolan, tak berselang lama Quinsha dapat segera meraih tidurnya. Berbeda dengan Sherin yang masih tetap terjaga, bahkan sampai malam melewati titik tengahnya. Karena suami yang sedang ditunggu belum datang juga.

__ADS_1


Sebenarnya, Sherin sudah sangat lelah. Ia ingin segera meraih tidurnya malam ini, tapi tiap kali pandangannya mengarah pada Kalender di atas nakas, pada angka 11 Bulan Februari, pada saat itu pula, lelahnya segera menghilang. Dan rasa kantuknya juga beterbangan.


Hingga kemudian, terdengar suara mobil berhenti di halaman. Sherin segera bergegas untuk menyambut suaminya yang baru pulang.


Alarick terlihat terkejut setelah membuka pintu, ternyata Sherin berdiri di depannya. “Kamu belum tidur?”


“Kenapa masih bertanya, Mas? Memang Aneh ya, jika aku menunggu kedatanganmu?” Sherin balik tanya seraya menatap manik mata suaminya yang memerah. Memang Sherin tak pernah absen menanti kedatangan Alarick, setiap kali suaminya itu pulang malam.


“Tidak,” sahut Alarick sambil menggeleng. Aroma alkohol menguar dari napasnya.


Malam ini, Alarick tiba di rumah sudah menjelang dini hari, dan Sherin tetap setia menanti. Kini lelaki itu berdiri terpaku, seakan tak tahu, harus bagaimana lagi setelah itu.


“kamu minum, Mas?” tanya Sherin dengan suara pelan.


ALarick diam. Mau mengelak juga, Sherin pasti sudah dapat mencium aroma minuman. Padahal sudah sering kali Sherin memperingati Alarick perihal minuman alkohol menurut hukum Islam. Dan ia juga bukan tak tahu tentang itu. Alarick memang bukan penggemar alkohol, tapi di saat tertentu ia seakan membutuhkan minuman itu untuk menenangkan dirinya, atau untuk melupakan sesuatu yang sampai saat ini, mungkin masih membekas di hatinya.


“Apa sekarang ulang tahunnya?” tanya Sherin dengan menatap suaminya itu dalam.


“Apa?” Alarick balik tanya.


“Atau mungkin sekarang Anniversary kalian?” tanya Sherin lagi tanpa melepaskan tatap dari wajah Alarick yang terlihat sangat kelelahan.


“Setiap tanggal 11 Februari, aku melihatmu selalu begini, Mas. Kau mabuk, kau pulang larut, dan kau menyendiri enggan bicara dengan siapa pun. Apa tanggal 11 Februari ini, adalah hari ulang tahunnya? Atau tanggal Anniversary kalian?” Sherin memperjelas maksud pertanyaannya, dan kali ini ia betul-betul ingin mendapatkan jawaban dari Alarick


ALarick menatap istrinya itu, Terpana. Ia tidak menyangka, jika sedetail itu istrinya memerhatikan. Dan terdiam, lagi-lagi itu yang menjadi pilihan. Alarick masih enggan memberi jawaban. Ia hanya mewakili jawabannya dengan bungkam.


“Jawab aku, Mas!” pinta Sherin dengan tatap mengharap. Ia sudah tiba dititik lelah, menyimpan tanya dalam resah. Ia sudah bosan dalam hati yang gelisah, setiap kali melihat tatap mata suaminya yang bak tak tahu arah.


“Tidak perlu membahas hal ini, Rin!” putus Alarick dan segera ayunkan langkahnya untuk berlalu dari hadapan sang istri.


“Aku bukan ingin membahas, Mas. Tapi aku ingin membantu,” jelas Sherin.


“Membantu apa?”


“Jika benar ini adalah hari spesialnya, aku ijinkan kau temui dia, ucapkan selamat padanya! Atau lewati waktu bersamanya!” Sherin menjeda kalimatnya dengan meraup napas. Sesak, itu yang sangat ia rasakan ketika berucap. Wanita mana yang rela membiarkan suaminya bersama wanita lain—dan yang sangat dicintai pula— walau hanya sekejap.

__ADS_1


__ADS_2