
"Boleh, aku bicara berdua dengan Om Alarik?" Damaresh menatap Sherin dan Aura.
keduanya sama-sama mengangguk, dan sama-sama segera keluar dari ruangan tersebut.
“Boleh, aku minta data toko retail yang menjadi rekanan, Om Al selama ini?” pinta Damaresh, setelah kini mereka hanya tinggal berdua saja dalam ruangan itu.
Alarick segera memberikan data yang diminta oleh Damaresh. Lelaki tampan itu memeriksanya sebentar saja. “Apa, Om ijinkan aku untuk membantu masalah ini?”
“Aku malah senang jika kau mau membantu, Aresh. Tadi juga, Sherin mengusulkan untuk minta bantuanmu,” tutur Alarik.
“Berarti istri, Om lebih menganggap aku sebagai keponakannya ya,” sindir Damaresh.
Alarik bukan tak merasa tak berat dengan masalah yang ada di Pabrik, tapi yang lebih memberatkan baginya adalah kabar dari Rendi yang baru saja ia terima.
Berita itu seakan makin membuat pikirannya tumpul, hingga tak mampu menemukan celah terkecil sekalipun untuk mengatasi permasalahan di pabrik.
“Bukan begitu, Aresh.” Alarick terlihat tak nyaman, tapi Damaresh hanya menanggapi dengan senyum santai.
“Kasih aku waktu tiga hari untuk mengembalikan semua keadaan ini,” ucap Aresh kemudian.
__ADS_1
“Tiga hari?” Alarik terlihat kaget.
“Ya, terlalu lama ya, Om?”
“Tidak. Justru waktu tiga hari itu terlalu singkat. Apa kau yakin?” tanya Alarik dengan tatapan ragu.
“Ini hanya permainan anak kecil, Om,” sesumbar Damaresh sambil tersenyum singkat. “Ini hanya ibarat kerikil yang menjadi sandungan. Pasti akan ada yang lebih besar dari ini. Tapi saya akan berusaha mencegahnya,” imbuhnya lagi.
Seorang Damaresh tak perlu memutar pikiran terlalu panjang apalagi sampai melakukan penyelidikan untuk mengetahui akar dari permasalahan. Sekali lihat saja, naluri bisnisnya yang jeli dan tajam sudah mampu membaca situasi, bahkan termasuk kemungkinan yang akan terjadi.
“Apa maksudmu, Resh?” tanya Alarik tak paham. Selama menjalankan usaha ini, Alarik hampir tak pernah menemukan kendala yang berarti. Sesama pengusaha dibidang ini justru saling membantu seakan bahu membahu. Adanya hal seperti ini yang adalah merupakan ‘kelaziman’ yang terjadi dalam dunia bisnis belum pernah ia temui. Jadi wajar, kalau Alarik merasa kaget dan tak segera mampu membaca situasi.
“Aku yakin, darah William Pramudya masih ada dalam diri, Om Al. Tak mungkin hal seperti ini, Om Al tak paham,” tukas Damaresh yang membuat Alarik langsung terdiam.
Sebenarnya ada satu dugaan yang langsung mengarah dalam maya pikiran, tapi Alarik lekas membuangnya jauh karena merasa sudah tak lagi memiliki keterkaitan.
Damaresh yang sudah langsung paham, apa dan bagaimana di balik semuanya pun, belum mau menjelaskan lebih lanjut, karena merasa ini belum saatnya.
DI luar ruangan.
__ADS_1
“Mudah-mudahan ada solusinya, ya,” harap Aura yang segera mendapat anggukan dari Sherin.
“Sabar ya, Rin.” Aura menyentuh tangan Sherin yang hanya terdiam setelah menanggapi ucapan Aura dengan anggukan. Di raut wajah wanita cantik itu tergambar sebuah beban yang tak ingin ia bagi dengan siapa pun, kecuali dirinya sendiri.
Aura menyangka kalau hal itu mengenai permasalahan yang terjadi di pabrik saat ini. Hingga istri Damaresh itu berusaha menransfer kekuatan dengan ucapan dan sentuhan tangannya. Tapi apa jawab Sherin padanya.
“Hal seperti memang bisa saja terjadi pada siapa pun, Aura. Aku sadar, tak selamanya kami akan ada di atas, pasti ada waktunya kami ada di bawah, seperti yang saat ini terjadi.”
Aura tersenyum menatap Sherin. Di antara mereka bertiga, Aura, Quinsha dan Sherin, Sherinlah yang lebih kalem dan lebih tenang kepribadiannya ketimbang yang lain. Tiap kali ada masalah ia kerap kali tampil sebagai pengayom dan merangkul. Dan sikap itu kembali ditunjukkan oleh Sherin sekarang.
“Insya Allah aku dan suami akan bersabar menghadapi. Selagi aku masih berstatus sebagai istri, wajib bagiku untuk mendampingi hal apa pun yang tengah ia hadapi. Lain halnya bila nanti sudah tak ada ikatan lagi,” ungkap Sherin sejurus kemudian dengan tatapan menerawang.
Aura dapat merasakan adanya hal yang sangat dalam di balik ucapan itu. Hingga ia bertanya, “Apa masalahnya sudah segenting itu, Sherin?”
Sherin seperti kaget sendiri mendapat pertanyaan seperti itu dari Aura. Ia hanya tersenyum dan tak menyertai dengan seucap kata.
Sementara Aura menatapnya dengan seksama, menanti jawab dari pertanyaannya.
“Ceritakan saja, Sherin! Aku selalu ada untuk mendengarkanmu.”
__ADS_1
“Doakan saja ya, Ra. Apa pun nanti yang aku pilih, semoga itu memang pilihan Allah yang terbaik untukku,” pinta Sherin sambil tersenyum lembut.
“Tentu, aku akan selalu berdoa yang terbaik untukmu.”